Sujudku di Puncak Gunung Merbabu

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Dalam rangka memperingati HUT RI pada 15 – 16 Agustus 2013, aku menjadi begitu mencintai gunung. Semua pengalaman mendaki di Gunung Sumbing Jawa Tengah aku share-kan kepada teman-teman terutama rekan dan rekanita pengurus IPNU Purworejo. Sepertinya mereka menjadi begitu tertarik. Dugaanku tepat. Tak lama kemudian, melalui lembaga CBP dan KPP, sebuah lembaga semi otonom dibawah naungan IPNU berencana melakukan pendakian ke Gunung Merbabu. Rencana itu di share di media sosial. Kepanitiaan dibentuk.

Singkat cerita, Sabtu 26 Oktober 2013 satu per-satu pendaftar mulai merapat ke Base Camp PC IPNU Purworejo yang terletak di Jl. Sibak No 18 Pangenjurutengah Purworejo. Anis Fahmi selaku komandan CBP ditunjuk untuk mengkoordinir rekan dan rekanita yang ingin ikut. Peserta sampai pukul 15.00 WIB berjumlah 31 orang. Dengan perlengkapan yang minim karena hanya membawa dua tenda, perlengkapan pendakian dan logistik seadanya rombongan mencoba terus melanjutkan perjalanan dengan harapan tidak hujan. Pukul 16.00 WIB rombongan melaju dari Purworejo menuju Base Camp Pendakian di Wekas, Magelang. Setelah istirahat dan shalat meghrib sekaligus isya’, rombongan bergegas untuk mendaki.

Pukul 21.30 WIB rombongan mulai keluar dari Base Camp Wekas. Di depan Base Camp Muhammad Widi dan aku sendiri selaku guide dalam perjalanan kali ini memberi pengarahan. Diantara pengarahan-pengarahan yang diberikan diantaranya adalah: jangan membuang sampah sembarangan; menjaga kekompakan; jangan banyak mengeluh; saling membantu dan menjaga pikiran agar positif thingking. Mendaki gunung itu bagaimana berangkat selamat dan pulang selamat bersama. Usai pengarahan, aku meninstruksikan semua agar membaca surah liilafiquraisyin 11x. Pendakian akan segera dimulai. Jumadhi, mantan komandan CBP memimpin di depan. Sementara Muhammad Widi paling belakang. Aku mengawal di tengah.

Hujan rintik mengiringi perjalanan kami. Letusan suara kilat diikuti suara angin menggelegar memecah telinga. Jalan licin kami lalui dengan kehati-hatian. Sampai di suatu makam kami beristirahat sejenak berharap menunggu hujan reda. Ternyata hujan malah semakin deras. Setelah 15 menit aku membaca huwal habib, ternyata hujan tak kunjung reda malah membesar. Aku menyuruh untuk melanjutkan saja bagaimana? Semua sepakat. 31 peserta pendakian segera mengambil mantol kecuali aku dan Muh yang memang tidak membawa mantol. Lebat hujan dan gelapnya hutan pegunungan langsung kami jajaki. Sesekali aku memberi uluran tangan untuk peserta pendakian yang membutuhkan.

Sejam perjalanan hujan makin deras. Jalan-jalan pegunungan yang licin dan penuh bebatuan digenangi air. Salah satu teman kami bernama Rani Pranita terpeleset dan jatuh menumbangi Anis Makhrus. Semua yang dibelakang jadi kacau. Untung salah satu peserta dari SMK PN2 membawa tali. Semua disuruh berhenti di tempat masing-masing. Ia langsung ke atas dan mengulurkan tali kebawah. Kami semua berpegangan tali itu dengan ditarik beberapa rekan diatas. Akhirnya selamat juga melewati tanah licin dengan kemiringan yang sangat itu. Sunggung luar biasa.

Tiga jam perjalanan pos II tak kunjung terlihat. Padahal hujan semakin lebat. Belum lagi angin yang besar membuat semua tubuh kami menggigil. Dingin cuaca menusuk-nusuk tulang sampai sum-sum kami. Banyak peserta yang mengeluh. Sampai kira-kira jam 01.00 dinihari aku melihat beberapa tenda berdiri. Inilah pos II yang ditunggu-tunggu. Hujan semakin deras, sementara masih menunggu teman yang dibelakang. Ditengah guyuran hujan kami mendirikan tenda. Dua tenda berdiri. Sayang seribu sayang, setelah berdiri tenda tidak mencukupi. Satu tenda hanya cukup untuk empat orang dan aku sarankan untuk cewek. Tenda yang lain dengan kapasitas delapan orang dipaksa harus diisi 21 orang. Saling suk-suan. Hanya cukup untuk duduk. Lebih baik daripada harus diluar yang dingin bagaikan cuaca kutub.

Baru saja kami mendirikan tenda dan mencari papan yang bisa untuk pelindung hujan, Isna berteriak-teriak. Ia minta tolong karena dua teman cekeknya Rani dan Irma kejang-kejang. Aku malas menolong karena aliran darah sudah dibunuh dingin yang teramat sangat, dan berharap yang lain ada menolong. Setelah isna memanggil-manggil tiga kali dan pertolongan tak kunjung datang, akhirnya aku datang dengan guyuran hujan. Kedua temannya kejang-kejang beneran. Aku merebut beberapa sarung dan sleeping bad yang dibawa cowok untuk kukasihkan ke mereka berdua. Mereka kusuruh mencopot bajunya yang basah dan masuh ke sleeping bad. Tentu gantinya di dalam tenda, dan aku diluar. Kuambilkan jahe susu panas yang tersisa di teremos yang kubawa. Akhirnya mereka relatif reda. Alhamdulilah. Giliran nasibku dan teman-teman yang diluar.

Sisanya aku, Empik, Rizal, Muh, Adikku Oki dan Anak PN tidak mendapat tempat berteduh. Akhirnya adikku punya inisiatif untuk menganggat banner yang dibawa rombongan sebagai pelindung. Kami yang diluar menegakkan banner dengan kepala agar supaya hujan tak deras di kepala. Angin dan dingin cuaca malam itu sungguh membuatku dan teman menggigil tak terkendali. Lebih-lebih, aku melepas baju karena basah dan tak bawa ganti. Aku hanya memakai celana pendek dan berselimut sleeping bad yang setengah basah. Sebagai penghangat karena berada diluar tenda, kami menyalakan kompor dan memasak mie instant. Tubuh-tubuh kami menggigil kedinginan serasa berada di kutub dengan salju yang membekukan darah. Detik demi detik kami lewati dengan begitu lama. Sangat lama. Kami merindukan sosok matahari yang menghangatkan, tapi tak kunjung datang.

Untuk menghilangkan dingin kami memanggang tangan-tangan kami sambil memasak mie instan. Sementara air masih mendidih tangan-tangan kami sudah meluncur untuk mengambil mie yang masih panas itu. Tangan-tangan bak sumpit mie ayam yang sudah mati rasa karena dingin. Tak dirasain, yang penting mendapat kehatangan. Sesekali kami berpelukan bersama untuk mencari kehangatan. Kami sesekali melirik puluhan tenda yang berdiri dari rombongan lain yang memang memiliki persiapan matang untuk mendaki. Selain memasak mie instan, kami juga tak henti-hentinya menyulut rokok sebagai penghangat. Beberapa teman tertidur jongkok dibawah guyuran hujan, pantat yang basah, cuaca dingin yang begitu kejam dengan hanya beratap banner dan kompor yang menyala.

Setelah kami berjam-jam dalam kebekuan, mulai pukul 01.00 sampai pukul 05.00 baru hujan benar-benar reda. Langit mulai tersenyum dan menghempaskan kumpalan asapnya. Orang-orang mulai keluar dari tenda bak laron yang beterbangan. Sementara kami ber-enam masih saja seperti sediakala; memanggang tangan yang kedinginan. Baru ketika waktu menunjukkan pukul 06.00 dan teman-teman kami yang ditenda keluar, banner diatas kami mulai berani dilepas. Namun tetap ditempat. Kulihat sleeping bad yang kupakai basah, akhirnya sekalian kulepas. Aku tak memakai baju, hanya bercelana pendek.

Orang-orang yang baru saja bangun terheran-heran denganku. Demikian juga para pendaki lain. Disaat mereka memakai jaket untuk melindungi ganasnya digin pagi, aku justeru melepas baju. Namun aku sudah di “gembleng” semalam, jadi pagi itu aku sudah tidak terlalu dingin. Dengan menggunakan pengantar MP3 dari ponsel rizal, aku bernyanyi mendendangkan lagu-lagu Iwan Fals dengan tujuan menghangatkan badan. Sementara teman-teman kami sibuk membuat bakara api untuk menghangatkan badannya sampai saatnya mentari menyapa kami semua.

Eksotisme Alam Mahakarya Tuhan

Setelah waktu menunjukkan pukul 09.30 aku mengumpulkan tim lewat koordinatronya, Anies Fahmi. Aku tawarkan siapa yang ingin turun dan melanjutkan perjalanan. Pertanyaan ini kusampaikan karena banyak peserta yang kelelahan, belum lagi terforsir cuaca dingin semalam. Setelah 10 menit berdiskusi akhirnya hanya 6 orang yang akan meneruskan pendakian, sisanya pulang. Ini kesepakatan yang harus diambil karena bisa mengakibatkan resiko yang fatal. Kami saling bersalaman dan masing-masing berkemas melanjutkan perjalanan; muncak dan pulang.

Aku, Kabul, Muh, Empik, Adikku dan Syarif melanjutkan perjalanan. Kami susuri hutan pegunungan yang udaranya begitu segar menembus rongga-rongga jiwa. Sesekali mendengar burung yang berkicau mendendangkan apa saja. kami bercanda tawa untuk melupakan jalan yang begitu terjal dan berbahaya. Sedikit beruntung pendaki waktu itu banyak yang turun sehingga sering dijalan berjumpa. Tiga jam kemudian, perjalanan berada di bawah ujung merbabu. Sungguh mempesona.

Kulihat hamparan pegununga yang membentang sejauh mata. Kabut-kabut dan awan berterbangan bagai ombak yang tersapu angin. Angin yang bertiup begitu kencangnya membuat rambut kami bermombak-ombak tergerai tak rapi. Sungguh mahakarya tuhan yang indah penuh seni dan makna. Ribuan tumbuhan entah apa namanya menyambut kami sepanjang perjalanan. Batu-batuan terjal adalah sahabat yang akan mengantarkan kami menuju puncak.

Sebelum kami melewati Jembatan Setan, salah satu medan yang paling ekstrem di Merbabu kami dihadapkan pada dua jalur; yang satu bukit mengarah ke kanan dan yang lain curam mengarah ke kiri. Atas saran Kabul kami memakai jalur yang kanan. Bukit yang penuh bebatuanpun kami daki selangkah demi selangkah. Oh, tidak. Sampai diatas ternyata kami salah jalur; harusnya memakai jalur yang kiri. Namun karena terlanjur naik jauh, kami harus turun melewat tebing yang puluhan meter tingginya. Kami hanya bisa pasrah sambil berusaha. Tebing yang bukan jalur sebenarnya. Ekstrem dan membuat ciut nyali siapa saja.

Akar demi akar atau bebatuan kecil kami pakai untuk turun dari tebing itu. Kami sangat hati-hati. Pelan-pelan, karena dibawah kita jurang yang penuh bebatuan. Kabul mengawali, dilanjut aku, Syarif, adikku dan seterusnya. Alhamdullah, dengan jantung yang berdebar-debar kami bisa selamat sampai bawah. Maha suci Allah yang memberi kami akal, keberanian dan kekuatan. Sekilas kami lihat tinggi tebing dengan tanpa jalan yang memadahi baru kami lewati dengan tanpa teori dan alat yang memadahi. Kamipun melanjutkan perjalanan.

Jembatan Setan di depan mata. Kami berkumpul dan istirahat sambil bercerita sejenak. Aku menyuruh Muh untuk melewati Jembatan Setan terlebih dahulu sekalian mengajari yang lain. Muh melewatinya dengan sempurna. Kamipun menyusulnya. Luar biasa, serasa udrenalinnya naik dengan segala keekstremannya. Tebing dengan jalan hanya batuan kecil itu kami melaluinya dengan kekuatan tangan dan segenap tenaga. Keberanian diuji disini. Setelah sempurna melewati Jembatan Setan tebing-tebing tinggi menuju puncak harus kami lewati.

Setelah dengan merayap-rayap dengan sisa-sisa tenaga, kami lewati tebing menuju puncak Merbabu. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Puncak tepat pukul 13.00 saing. Aku bersujud meluapkan kegembiraan sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang begitu sempurna ini. Sujud mengagungkan kekuasaan ilahi rabbi. Terbayar lunas sudah segala capek dan perjuangan menahan dingin semalam. Kami takjub melihat keindahan dan kemegahan alam ini dan mengabadikannya dengan kamera digital. Kami membuka sisa-sisa logistik dan memakannya bersama. Begitu nikmat karena memang sangat lapar setelah tenaga habis untuk merayap keatas. Terlihat masih ada sisa kopi dari pos II, roti, mie instant dan madu. Kali libas semua dan hanya menyisakan air putih untuk perjalanan pulang.

Selang beberapa saat beberapa pendaki muncak juga. Kami mulai sedikit berdiskusi membahas sumpah pemuda serta harapan-harapan para pendaki untuk masa depan pemuda indonesia. Kami saling bercanda walau baru berkenalan, karena semua pendaki itu saudara. Setelah puas menikmati puncak, kami sejenak istirahat membaringkan badan. Kami siapkan tenaga untuk pulang yang juga tak kalah merepotkan dibanding mendaki. Karena mustahil kami menginap dipucuk gunung tanpa tenda dan perbekalan yang memadai. Setelang kurang lebih 3 jam diatas, kamipun turun untuk pulang.

Setelah berlari mengarungi jalan turun yang terjal, akhirnya singkat cerita sampai juga di pos II. Kami mengisi perbekalan minum dari air yang disediakan alam. Perjalanan dilanjutkan. Syarif ter-engah-engah. Aku mencoba menemani, sementara yang lain njentar meninggalkan kami berdua. Kaki syarif agak terkilir sehingga jalannya pun pelan. Oh, tidak, kilat dan petir bergelayutan. Hujan pun turun dengan membasahi tiap pepohonan. Aku sarankan syarif memakai mantolnya, sementara aku biarlah karena sudah terbiasa.

Ia jalan dengan teramat pelan, sementara mendung sebentar lagi menutup siang. Aku hibur syarif yang kecapean dan kelaparan dengan menu nasi hangat dan telur dadar hangat yang menanti di dibawah. Ia jadi semangat. Adzan berkumandang dan langit menjadi gelap diiringi rintik hujan. Untung syarif masih membawa senter yang segera kuambil dari dalam tasnya. Melihat mukanya yang pucat basi aku tak tega. Sekali lag kutawarkan untuk membawakan tasnya setelah sempat kutawari ketika diatas tapi ditolaknya. Kali ini dia mau dan mengubur gengsi dalam-dalam. Kubawa tasnya dan sesekali kutanting dia yang ter-engah-engah menyeret kaki kanannya. Akhirnya pukul 18.30 sampai juga di Base Camp Wekas dengan tetap hujan mengalir tak hentinya.

Kami rehat sejenak sekaligus memesan kopi dan menu makan malam. Dibuatlah sayur dan ansi hangat yang menggugah selera. Ditambah lagi telur dadar yang melengkapi gairah makan. Kami semua menelan ludah, sudah tak sabar ingin melahabnya. Tuan tumah base camp sekaligus empunya warung menawarkan hidangan. Tak usah dibayangkan bagaimana kami melahabnya; bagaikan seminggu tidak makan, lahab bukan main. Banyak yang nambah karena memang ini paket prasmanan. Cukup murah, 6000 sudah makan sepuasnya.

Usai makan dan kenyang, ternyata kami ber-enam masih punya tantangan: pulang ke Purworejo. Malasnya minta ampun. Tapi bagaimana lagi, ini harus kali jalani karena esok agenda menanti. Hujan yang tak kunjung henti kami hadapi juga dengan mantol dan perlengkapan berkendara. Pukul 21.00 kamu meluncur dari Wekas menuju Purworejo. Aku di depan sedang adikku membonceng dibelakang. Sesekali aku mengerim ndadak karena kantuk yang sudah diujung mata. Hampir saja menabrak kucing yang menyeberang di jalan.

Guyuran hujan kami tabrak demi mencapai purworejo, tepatnya di base camp IPNU. Gemerlapnya kota sudah tak menarik bagiku yang sudah diujung lelah ini. Otakku hanya terpikir kasur dan bantal di kamar yang hangat melambai-lambai mengajak bermesraan. Aku sedikit sebal karena adikku tidur sepanjang perjalanan. Sesekali ia kaget ketika disalip kontainer besar atau melewati jalan yang berlubang. Tapi kemudian tidur lagi dan helm-nya menabrak-nabrak helemku yang di depan. Kesalku khawatir seumpama ia kaget dan terjatuh, sedangkan jalanan masih ramai. Berkali-kali aku bangunkan tetapi matanya sudah seperti di lem memakai alteco; rapat terlelap.

Setelah detik-demi detik akhirnya kesabaran kami terbayar; sampai juga di base camp IPNU Purworejo. Adiku langsung jatuh ke tempat tidur. Sementara aku mandi dulu untuk membersihkan badan dan shalat. Teman-teman kemudian datang belakangan. Setelah badanku bersih, akhirnya aku terlelap dalam mimpi-mimpi sampai gema adzan dzuhur memanggil-manggil dan membangunkanku dari tidur panjang yang lelah. Kudengar ramai teman-teman kami yang sudah bangun duluan si beranda rumah saling tukar cerita perjalanan yang ekstrem namun mengesankan itu. Sungguh pengalaman hidup yang luar biasa!

Selesai pada Senin, 04 November 2013, 04:26 WIB

Sekretariat PC IPNU Kabupaten Purworejo,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: