Sore itu burung-burung berterbangan kembali ke sarang. Mega masih menyisakan ronanya untuk menghormati gema adzan masjid depan Rumah singgahku, Base Camp IPNU Purworejo. Fikiranku melayang penuh bayang-bayang masa depan. Itulah sore yang punuh gumaman dan ketidak tenangan. Sejenak ku beranjak merebahkan badan ke kamar. Tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda sms menghampiri. Kulihat sang pengirim yang ternyata Abah Fahrur, seniorku di IPNU, organisasi yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama.

“Habis maghrib ada acara tidak?” tanyanya di inbox.
“tidak, ndan. Gimana?” jawabku
“ikut aku ziarah ke Magelang mau ndak? Kalau mau habis maghrib tit berangkat!”
“oke, siap!!!”

Aku begitu bersemangat. Sudah agak lama aku tidak melakukan sunnah nabi ini. “Dulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian!, karena sesungguhnya (ziarah kubur) itu mengingat- kan kalian kepada akhirat’”ingatku pada hadits riwayat imam Muslim yang menjadi dasar orang berziarah.
Tak lama berselang, Innova hitam menghampiriku di Depan Base Camp IPNU. Aku menuju. Kusapa Abah Fahrur yang kali ini tak seperti biasanya; ia membawa dua buah hatinya yang masih kecil. Kamipun jalan membelah malam menuju makam waliyullah KH Hamid Kajoran. Air Conditioner mulai membelai dan membuatku kedinginan. Dua buah hati Abah Fahrur, yang masih duduk di bangku SD, selalu melancarkan pertanyaan terkait dengan apa yang aku dan Abah Fahrur bicarakan; mulai dari makam, jarak tempuh sampai peta lokasi. Ia kritis dan filosofis; maklum anak-anak. Apa saja ditanyakan.
Sampai di Kecamatan Bener Purworejo, terlihat empat rombongan colt penuh dengan orang-orang menunggu dipinggir jalan. Ternyata mereka semua menunggu Abah Fahrur. Abah Fahrur berhenti sejenak menyambangi dan membuat kode untuk berangkat. Kamipun berjalan beriringan, mereka di depan.

“Mereka itu siapa ndan? Kok bareng dengan kita?” tanyaku dengan menunjukkan rombongan yang ada di depan mobil.
“Itu jamaah kita. Mereka rutin sebulan sekali berziarah ke Magelang. Rata-rata mereka adalah pengerajin kayu yang saya beri order pembuatan meja dan kursi. Rumah mereka di kaki gunung Kecamatan Bener, bahkan ada yang tak bisa di akses transportasi. Suatu kali pimpinan mereka aku ajak berziarah, dan ternyata mau. Begitu akan berangkat, aku waktu itu takjub karena pimpinan mereka membawa anak buah banyak. Akhirnya kegiatan itu bertahan sampai hari ini.”ungkap Abah Fahrur menjelaskan.
“Oh, begitu to. Luar biasa ini ndan. Jauh-jauh dan hanya dengan menaiki colt bak buka, mereka rela menembus dinginnya malam demi berziarah ke makam sang wali” jawabku.
“Oh, biasanya lebih banyak lagi dari ini, pakai beberapa truk” ungkapnya.

Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga kami di Makam KH Abdul Hamid Kajoran. Kulihat beberapa mobil peziarah sudah berderet disana. Konstruksi bangunan makam yang kokoh megah berdiri meski belum sempurna. Di sudut makam terdapat warung kopi dengan beberapa pembeli. “Ini ternyata makam ulama yang selama ini banyak kubaca dari buku-buku terbitan Khalista Surabaya itu” gumamku dalam hati.

Kami memasuki area makam. Ada bangunan unik yang mempendekkan pintu masuknya. Entah mengapa si pembuat mendesain begini. “Ah, mungkin agar para peziarah datang dengan takdzim dan unggah-ungguh” kataku dalam hati. Kamipun memulai ritual dengan membaca tahlil dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan. Ada ketakjuban dan ketenteraman yang kemudian menyelimuti hatiku. Entah ini karena apa; yang jelas ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang melakukan. Usai tahlil dibaca, aku masih duduk untuk membaca tawasul dan menyebutkan segala hajat-hajatku. Tentu tidak minta kepada sang arwah, tetapi kepada Allah.

Usai tahlilan di Makam Mbah Hamid, perjalanan pun di lanjutkan. Kali ini tujuannya ke makam KH Nur Muhammad. Aku pernah dan agak sering ziarah ke makam wali yang satu ini. Meski begitu, aku belum begitu tahu profil dan sosok beliau.

“Bah, Mbah Nur Muhammad itu gimana to dulu sejarahnya?” tanyaku. sambil menuntun kedua putranya, Abah Fahrur menjawab.
“Awalnya, diajak nderek KH Achmad Chalwani berziarah kesini. Setelah itu, saya sering kesini. Setahuku, yang pertama kali mengungkap wali ini Mbah Dalhar Watucongol. Suatu ketika, mbah Dalhar pergi haji ke Makkah. Saat Wukuf di Arafah, Mbah Dalhar bertemu dengan Mbah Nur Muhammad dan dipesani agar setelah haji, mau menyambanginya. Pas Wukuf di Arafah itu, semua wali seluruh dunia berkumpul. Nah, setelah Mbah Dalhar pulang dari haji, ia mengunjunginya. Sampai di lokasi, ternyata Mbah Nur sudah wafat. Kemudian Mbah Dalhar sering menziarahinya, dan itu diikuti masyarakat. Dan setahuku sih, selain ulama, Mbah Nur Muhammad seorang konstruktor. Ia banyak dimintai bantuan dalam hal pembangunan semasa hidup beliau.” Jelas Abah Fahrur panjang lebar. Entah bagaimana sebanarnya, yang jelas info tadi sedikit membuatku punya referensi.

Tak terasa kami sudah sampai di beranda. Mobil-mobil dari yang mewah sampai kelas angkot berderet rapi sesuai instruksi tukang parkir. Pedagang-pedagang sibuk melayani peziarah yang lapar atau haus. Kami naik menuju makam. Tak kuduga, ternyata ribuan orang sedang larut dalam bacaan kalimah-kalimah thayyibah. Sungguh pemandangan yang sudah lama tak kulihat, di jam 22.30 malam segitu banyak orang larut dalam gelombang ilahi. Pemandangan yang sebenarnya sudah akrab bagiku semenjak kecil, namun tak pernah kupikir. Pikiranku akan fenomena ini muncul setelah aku begitu banyak tahu gemerlam dunia modern yang serba materialistis. Kulihat dan perhatikan sekali lagi wajah-wajah orang yang bermunajat. Rona kepolosan orang desa masih nampak jelas di muka apalagi pakaian mereka. Lelaki dengan kopiah yang kemerah-merahan memimpin tahlil itu. Ia mengenakan sarung dan sorban hijau yang seakan menjadi tanda pemimpin di kafilah itu. “Inilah orang nahdliyyin. Orang yang tetap setia di garis tradisional dan tak runtuh diserang gelombang globalisasi”kataku dalam hati.

Setelah bacaan selesai, mereka berhamburan keluar bak lebah yang dilempar batu sarangnya. Kami dan rombongan yang dari tadi menunggu tempat beranjak masuk untuk gantian melangitkan kata. Tahlilpun menggema, sampai diakhiri doa.
“Kemana lagi ini ndan?” tanyaku.
“Ke Makam Gunungpring” jawab Abah Fahrur.

Aku langsung paham. Pikiranku langsung melayang ke jaman SMA dulu. Waktu itu aku berziarah ke makam Gunungpring menjelang akhir kelas tiga Madrasah Aliyyah Keagamaan. Aku dan teman-teman sekelas seakan menghadapi momok menakutkan berupa Ujian Nasional. Kebijakan Dinas Pendidikan yang sebenarnya kami tolak, namun apalah daya. Gila!, masa hasil belajar selama tiga tahun ditentukan dalam tiga hari, tiga mata pelajaran. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika pula. Entah apa maunya pemerintah, dari sabang sampai merauke mau disamakan otaknya melalui tiga mapel itu. Sebagai siswa yang baik dan tidak memberontak kepada guru apalagi pemerintah, kami ikuti saja aturan konyol itu. Karena takut, ziarah dan sowan ke ulama menjadi opsi kami untuk mengimbangi belajar dengan ritual. Kami sekelas ke Makam KH Dalhar Gunungpring (1870-1959) dan Sowan kepada penerusnya Al-Arif Billah Simbah Mad Watucongol (1928-2010) yang ketika itu masih hidup. Aku bangga bisa mushofahah dengan beliau waktu itu. Kini aku datang ke Makamnya setelah sekian lama tak mengunjunginya.

Waktu sudah menunjukkan jam 11.30 malam. Kami sampai di pintu masuk bawah Makam Gunungpring. Aku pangling dan heran. Deretan rapi toko dan warung di sepanjang jalan yang dulu dari kayu seadanya kini menjelma megah. Aku teringat alumni pesantren An-Nawawi yang buka warung disini, Pak Toyib namanya. Dulu aku pernah mampir warung ini bersama Mas Khoirul Fata ketika wisata religi Magelang – Jogja. Kutawarkan Abah Fahrur untuk mampir disana, oleh karena kedua anaknya merengek lapar minta makan.

“Pak, kalau makan di Warung Makan Pak Toyib saja. Itu dia, keliatan warungnya!” ajakku.
“Oke, kita mampir dulu kesana” jawab Abah Fahrur.

Sementara jamaah melanjutkan perjalanan ke atas, kami ber-empat mampir di warung pak toyib. Abah Fahrur punya alasan untuk tidak naik dulu karena membawa anak-anak. Perlahan kumasuki warung yang sederhana namun bersih itu. Ada hal yang menarik perhatianku. Yah, gambar ulama: KH Dalhar, KH Nawawi Berjan dan Logo Nahdlatul Ulama. Itu amat membanggakan bagiku yang dalam hal subyektif aku begitu fanatik. Usai kulihat, kuabadikan melalui kamera ponselku sebagai dokumentasi pribadi. Aku makan dengan ikan laut dan lodeh terong yang rasanya begitu nendang. Sementara abah fahrur dengan lauk telur asin kesukaannya. Dua anaknya masing-masing mengambil ayam goreng dan mie instan cup. Usai makan, kami melanjutkan perjalanan ke atas menuju makam.

Di depan pintu gerbang, aku berhenti sejenak. Ada pemandangan yang begitu menarik perhatianku. Gambar sayap kuning emas dengan tulisan jawa begitu indah terukir. Itulah lambang Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

“Bah, berarti makam ini belum begitu lama, ya? Era Mataram Islam?” tanyaku.
“Iya, namun keatasnya sampai juga to ke Majapahit!” jawab Abah Fahrur.

Perlahan kami menapaki selangkah demi selangkah ratusan anak tangga yang mengantarkan kami ke makam. Sepanjang anak tangga itu, kanan-kiri kami berderet penjual yang mengais rejeki. Sesekali kami berpapasan dengan rombongan yang ramai sambil melihat-lihat barang yang dipajang. Dari toko baju batik, blangkon, tas, buah-buahan, sampai jenang cokelat yang khas ada semua. “penjual-penjual ini kecipratan berkah dari sang wali yang masih berkontribusi untuk orang-orang yang masih hidup. Sedang aku yang masih hidup, belum bisa berkontribusi untuk orang lain” gumamku dalam hati. Kuperhatikan, hampir di semua toko itu ada gambarnya Ki Jogo Rekso, salah satu wali yang juga dimakamkan di Komplek Gunungpring.

Sampai diatas, hatiku bergetar mendengar gemuruh ratusan suara peziarah yang memanjatkan doa. Kulihat orang tua sampai anak-anak larut dalam ritual ini. Disebelah kananku, seorang kakek renta sendirian memegang kitab suci. Kuperhatikan ia terus menerus. Wajahnya begitu tenteram dan penuh kedamaian. Ia perlahan membuka kitab suci itu dan dilantunkannya kalam Allah dengan perlahan dan penuh peresapan. Kami mendekat ke makam Mbah Dalhar dan menghadiahkan fatihah kepada beliau beserta leluhurnya, dilanjutkan tahlil dan membacakan yasin di depan pusarannya. Mbah Dalhar adalah putera seorang mudda’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Kyai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kyai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kyai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Aku menikmati detik demi detik ritual itu. Sampai hatiku merasa begitu tenteram dan tenang. Usai yasinan, kami beranjak pulang. Kulihat di dinding sekitar makam terpajang silsilah wali-wali Allah ini sampai ke Raja Majapahit, Bhre Wirabhumi. Di beberapa sudut ruangan juga terpajang lambang Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. “Ini adalah bukti, kuatnya Islam di Jawa tak lepas dari pengaruh darah biru , trah kerajaan.” Gumamku dihati.

Kamipun turun kebawah dan melanjutkan perjalanan pulang. Banyak hal yang kudapatkan di ziarah kali ini, tak seperti sebelum-sebelumnya. Padahal aku relatif sering berziarah. Setelah kupikir-pikir, ternyata hanya satu yang membedakan sowan ke makam waliku dulu dengan sekarang, yaitu “Berpikir!”

[Base camp IPNU PWR, 6-7 Desember (Dinihari) 2013]