Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.

Semenjak kecil, saya sudah sangat akrab sekali dengan sebuah nama yang orang menyebutnya Gus Dur. Keakraban itu awalnya bukan karena, pemikiran, tindak-tanduk atau kenyelenehannya. Namun lebih pada kekeramatan, silsilah dan humorisnya. Ketika saya masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyyah pada tahun 2000-an, hampir disetiap sudut orang NU: warung, pesantren, kampung, pasar, apalagi di rumah pengurus NU, Gus Dur selalu menjadi buah bibir. Ketika itu, saya langsung takdzim dengan beliau karena kekeramatan dan salah-satu cucu pendiri NU: KH Hasyim Asyari. Sebatas itu saja.

Ketika kemudian menginjak bangku SMA, tulisan-tulisan Gus Dur mulai merasuki pikiran saya. Secara tidak kebetulan tentunya, ayah saya meski guru ngaji kampung, adalah pelanggan setia majalah Aula NU yang diterbitkan PWNU Jawa Timur sejak tahun 80-an. Di majalah itu banyak sekali tulisan, gagasan maupun gerakan Gus Dur yang begitu Gus Dur progresif dan inklusif. Tak hanya itu, kontroversial dan humornya juga banyak. Diantara kontroversi yang melekat dalam benakku adalah peristiwa muktamar Cipasung, yang secara kebetulan ‘berperang’ melawan kyaiku sendiri: KH Achmad Chalwani yang waktu itu mendukung Abu Hasan. Sampai saat ini puluhan majalah Aula kuno itu saya simpan rapi sebagai dokumentasi pribadi.

Pertama kali saya membaca adalah Prisma Pemikiran Gus Dur disusul buku-buku yang mengulas tentang beliau yang ratusan atau bahkan ribuan jumlahnya. Ketika masuk SMA, saya meneukan kekontroversialan Gus Dur karena mendapat perlawanan sengit dari Gus saya di pesantren. Ia sering mengajak diskusi dengan aturan: saya memakai paradigma pemikiran Gus Dur dan Ia menggunakan Adian Husaini. Hal itu menjadikan pergulatan pemikiran pribadi saya semakin luas, utamanya soal konsep hubungan agama dengan Negara. Nation state dengan Islam state.

Selain itu, wacana-wacana Gus Dur yang terkait dengan pesantren sebagai sub-kultur Indonesia juga banyak menginspirasi progresifitas pemikiran saya; seakan membuka harapan baru bagi pesantren. Saya sangat merindukan sekali bertemu secara langsung dengan Gus Dur, dan hal itu tidak pernah tercapai sampai wafatnya. Pertemuan saya dengan beliau hanyalah secara maya dengan tulisan, berita dan cerita banyak tokoh tentang beliau. Meski begitu, saya seakan menemukan ‘bapak’ yang memberi pelajaran makna hidup yang sesungguhnya. Wajar mungkin, ketika tersiar kabar dari beliau, air mataku bercucuran tak henti-hentinya.

Keberanian dan tawa-tawa beliau selalu membuatku rindu akan hadirnya dalam tengah-tengah masyarakat Indonesia dan NU khususnya. Hal itu tidak mungkin, dan pelampiasanku tentu dengan buku dan pemikiran-pemikirannya yang terus hidup dalam hati. Meski raga Gus Dur sudah terkubur, jiwanya hidup dan terus tumbuh dihatiku dan jutaan pemuda Indonesia bahkan dunia yang sepemikiran dengan beliau. Meski sudah tiada, pemikiran-pemikirannya masih menjadi solusi atas persoalan yang ada. Meski telah di syurga, humor-humornya terus menghibur hati yang gundah gulana. Meski telah meninggal dunia, beliau masih peduli dan memberi manfaat kepada orang yang hidup di alam fana.

Deretan panjang pedagang yang mengais rejeki disekita makamnya menjadi bukti kepahlawanannya. Jutaan orang yang memakai jasa travel ke makamnya menjadi saksi betapa begitu besar cintanya. Haul, diskusi, seminar dan berbagai forum ilmiah yang masih digelar membahas ‘sunnah’nya menjadi tanda bahwa ia bukan orang biasa. Ialah revolusioner abad 21 yang mengguncang dunia.

Meninggalkan Romantisme kepada Gus Dur Pasca wafatnya beliau, saya sempat menulis, siapa yang akan sanggup menggantikannya? Pertanyaan yang berat memang untuk dijawab. Meski sulit, kata orang bijak, setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Saya percaya suatu saat akan ada tokoh pendobrak seperti beliau. Entah kapan waktunya saya tidak tahu. Namun demikian, sebenarnya telah banyak lahir Gus Dur-Gus Dur di berbagai bidang, lini dan sektor.

Mereka memiliki pandangan keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan yang utuh. Merekalah kader muda Nahdlatul Ulama baik yang berkiprah di IPNU, PMII, KMNU, Gusdurian dan masih banyak lagi. Meski dengan kapasitas yang lebih kecil. Namun demikian, romantisme kepada Gus Dur agaknya perlu dikurangi. Jika romantisme terlalu dikedepankan, bisa jadi kedepan hanya mencetak pemuja-pemuja masa lalu yang kurang progressif dan visioner.

Fenomena Gus Dur harus diulas secara kritis, sebagai modal dalam paradigma membangun Indonesia di masa mendatang. Ini menarik, minimal dari tiga aspek: Intelektual, Spiritual dan Sosial. Ketiga dimensi tersebut mampu membuat instrument gerakan dan paradigma yang komprehensif terkait dengan hubungan agama dengan Negara. Tambah lagi, gagasan humanisme dan pluralisme yang menembus teritori Negara membuat peran dan pemikiran Gus Dur mendunia.

Dari sisi intelekual, sosok Gus Dur begitu komprehenshif dalam menguasai ilmu-ilmu fakultatif: baik sejarah, sosial, politik, tafsir, ushul fiqh, fiqh, mantiq(logika) dan tentunya tasauf. Elaborasi pengetahuan itu menyatu dan menciptakan pemikiran dan gerakan.

maaf belum selesai; mau cek in ke jakarta dulu.