Di tengah ingar-bingar orang-orang menyambut tahun baru, ada yang berbeda di Sekretariat IPNU Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (31/12). Sekelompok pemuda dari lintas komunitas menggelar diskusi rutin dengan tema “Sebaiknya Tidak Ada Indonesia?”.

Selain diskusi, puluhan pemuda dari Ikatan Pelajar NU (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pemuda Katholik dan santri An-Nawawi yang tergabung dalam Jamaah Maiyah Wolulasan ini juga menjadikan momentum tersebut sebagai peringatan haul keempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Forum yang sudah berjalan tiga tahun ini dimulai dengan membaca al-Quran, Shalawat nabi dan menyanyikan Indonesia Raya. Deni, salah satu peserta diskusi, mengatakan, secara struktur dan teritori, Indonesia memang ada dan tampak secara jelas. Meski begitu, secara fungsional peran pemerintah mati dan kurang dirasakan.

Statemen itu juga diamini peserta lain, Anis Fahmi. Fahmi secara gamblang mencontohkan penanganan kasus banjir di Purworejo beberapa waktu lalu. Dia mengaku kaget mendengar pernyataan staf Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat saat memantau banjir di daerahnya.

“Ia mengatakan, banjirnya sudah dangkal di atas mata kaki orang dewasa, kalau sampai pak menteri memantau ini memalukan. Saya ndak habis pikir seorang staff bisa berkata seperti itu. Banjir ya tetap banjir. Toh menteri turun tangan setelah beberapa hari banjir, sehingga air sudah relatif surut” katanya.

Peserta lain, Anjar Duta, menyorot pemerintah yang tak punya gigi dalam menghambat perusahaan-perusahaan asing di Indonesia.

“Ratusan kekuatan asing sudah tertancap di bumi tercinta kita. Kita sebagai negara sudah tidak punya kedaulatan, ditambah pemerintah yang korup dan memikirkan partainya masing-masing, tidak memikirkan bagaimana masyarakat sejahtera. Undang-undang diamandemen sedemikian rupa dengan menganut ekonomi liberal. Bagaimana nasib anak cucu-kita kelak?” tandasnya.

Diskusi berjalan dengan tertib meski sempat alot dan ramai dalam menemukan pemecah masalah. Menjelang subuh, Lukman Hakim salah satu penggerak diskusi menyerukan agar pemuda tetap optimistis memandang Indonesia ke depan. Ia berharap pemuda, santri dan mahasiswa menjadi motor penggerak arus perubahan, dimulai dari diri sendiri, lingkungan dan skala yang lebih luas.

Di pengujung diskusi, Ahmad Naufa mengungkap sejarah kebesaran nenek moyang Indonesia yang tangguh dan perkasa. “Di abad tiga, menurut catatan Tiongkok, kita sudah bisa membuat kapal 65 meter, padahal kapal cina baru berukuran 20 meter. Sebelum pedagang menyebarkan Islam, kita juga sudah punya kitab undang-undang yang ditulis oleh Kartikea Singa, suami Ratu sima di Kalingga,” katanya.

Dia menambahkan, pada abad 7-8 dinasti Syailendra juga bisa membuat mahakarya monumental berupa Candi Borobudur dan Prambanan. Ketika bangsa Mongol mengirim utusannya ke Singosari, Kertanegara memotong telinga Men Chi, bukti Kertanegara tidak mau tunduk.

“Ini semua membuktikan kehebatan bangsa kita masa lalu. Pasca 1511 portugis mengunci Malaka, perlahan mental kita dijajah dan kurang pede untuk menjadi trendsetter dalam berbagai bidang. Untuk itu, marilah kita bersama optimistis membangun masa depa dengan ilmu dan peradaban,” jelasnya. Diskusi ditutup dengan bacaan fatihah dan makan bersama.