Aku baru saja mengikuti Pra-Rakernas Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama di Hotel Permata, Bogor Jawa Barat, 12 – 14 Desember 2013. Rapat itu diikuti Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah IPNU se-Indonesia untuk membahas program organisasi secara nasional. Di penghujung acara oleh panitia kami diajak jalan-jalan menelusuri bilik-bilik Istana Kepresidenan Bogor yang begitu sejuk, sarat nilai sejarah dan pemandangan Kebun Raya dengan ribuan Kijang yang hidup menghiasinya.

Usai acara, aku menghubungi teman-teman semasa kecilku yang kini mengadu nasib di Jakarta, ibukota yang sebenarnya ‘rimba’ itu. Kebetulan mereka amat senang mendengar aku akan main ke Jakarta. Selain silaturrahmi, ngumpulke balung pisah, aku juga ingin ber-romantisme dengan teman-teman yang memberiku kenangan indah di masa kecilku. Aku di jemput oleh teman ngaji dan bermain waktu kecil: Usman, Farid, Tongi, Ngumar dan Heru di Cibinong dan dibawa muter-muter mengelilingi ibukota.  Gedung-gedung pencakar langit yang angkuh sampai orang-orang yang tinggal dikolong jembatan menyisakan sesak didadaku mengiringi perjalanan.

“Ini hari tidak libur bro, jadi teman-teman belum bisa berkumpul semua. Bagamana kalau kumpulnya malam minggu besok, bisa ya?”

“Ya” jawabku sambil menyedot Pro-Mild

Mereka sepakat mengadakan pertemuan di malam minggu nanti. Usman akan mengkoordinasikan semua teman-teman di daerah Jakarta dan sekitarnya. Setelah ngobrol selesai dan agak larut malam, tiba-tiba ponselku bordering, tanda pesan masuk.

“Lagi dimana, Mas?” sebuah pesan yang kulihat pengirimnya bernama Umi Sangadah, ketua PW IPPNU Jawa Tengah yang juga rekanku berjuang di organisasi sayap NU.

“Sedang di Jakarta, Neng. Gimana?” jawabku singkat.

“Besok malem bisa ke Karanganyar ndak, ngisi materi Jurnalisme Online? Mas kan seringnulis-nulis gitu”

“Pesertanya siapa?”

“Utusan IPPNU se-Jawa Tengah, Mas. Bisa ya?”

“Insya Allah, bisa. Besok saya berangkat”

Esok paginya aku menuju terminal Ciledug untuk mencari tiket bus dan sempat sarapan Soto Lamongan disana. Setelah Tanya-tanya, ternyata jurusan yang menuju Solo baru akan berangkat pukul enam sore. Kemudian aku mencari tiket kereta dan ternyata sama. Akhirnya Umi menyuruh naik pesawat dan aku segera meluncur ke Bandara Soekarno-Hatta. Malang sungguh malang, tiket penerbangan Jakarta – Solo sudah ludes dipesan orang.

Ditengah kegalauan, akhirya ada calo bernama Aar yang menawariku tiket seharga Rp 750.000,-. Setelah kutawar dan sedikit lobi, ia menyerahkan dengan bandrol Rp. 500.000,-. Langsung saja aku menuju ruang tunggu karena lima menit lagi Lion Air akan segera lepas landas.

Tepat pukul 02.30 WIB aku sudah berada di tempat duduk ujung kiri dekat jendela. Di depan tempat dudukku tersedia majalah serta buku doa naik kendaraan dengan lima versi agama. Beberapa saat kemudian, pramugari-pramugari cantik dengan belahan rok sampai atas datang memberi arahan untuk memakai sabuk pengaman dan cara melepas pelampung disaat darurat. Setelah itu, baling-baling mulai berputar dan pesawat lepas landas dengan sempurna.

Kulihat gemerlap kota Jakarta dengan segala kegelamourannya. Sedikit demi sedikit, gedung-gedung itu begitu kecil, kendaraan-kendaraan seperti barisan semut. Hatiku campur aduk dan berpikir, betapa kecilnya aku di alam semesta ini. Betapa keagungan yang kuasa atas segala-galanya menjadikan itu semua berjalan sesuai sunnatullah. Ditengah lamunanku, tiba-tiba  hujan mengguyur jendela dan memecah khayalku. Kilat dan petir seakan bersahut-sahutan di jendela. Pesawat bergoyang-goyang dan sirine berbunyi. Satu per-satu pramugari keluar menyuruh kami semua memakai sabuk pengaman dan siap-siap memakai pelampung. Hari itu cuaca buruk sedang terjadi. Semua penumpang khawatir, termasuk diriku yang deg-degan. Aku hanya bisa berdoa dan pasrah kepada Allah SWT.

Pesawat terbang diatas laut Jawa. Aku berpikir aneh-aneh, termasuk kemungkinan pesawat yang kutumpangi jatuh di laut dan aku harus berjuang untuk mempertahankan hidup. Bagaimana dengan ratapan ibu dan Bapaku jikalau mereka melihatku mati sebelum sempat membalas jasa-jasa mereka? Setelah sekian tahun dihidupi dan dibesarkan mereka? Ditengah kekacauan penumpang, goyangan pesawat disertai petir itu aku mendamaikan diri dengan melamun mengenang masa kecilku ketika dekat dengan orang tuaku dirumah. Wajah Bapakku membayangiku dan mengajakku pergi ke masa lalu bersamanya.


Bapakku bernama Ahmad Mahin. Ia lahir sekitar 60 tahun lalu dari pasangan Kasnubi dan Aminah petani desa di Kenduren Wedung Demak Jawa Tengah. Memasuki usia remaja, Bapakku berkelana mencari ilmu dari pesantren satu ke pesantren lain. Sampai akhirnya Bapak terdampar di Pondok Pesantren An-Nawawi Purworejo, menjadi lurah pondok disana dan bertemu dengan santri putri asal Wonosobo, yaitu ibuku.

Sewaktu aku kecil, kasih sayang Bapak begitu kentara menyentuh pori-poriku. Tiap pagi Bapak mengajakku jalan-jalan agar badan sehat, serta membuatkan banyak mainan dan pelajaran penting untukku sebagai anak desa. Bapak membuatkanku wuwu untuk mejebak ikan belut atau pelus yang dipasang di kolam. Ia juga membuatkanku layang-layang yang besar dan waktu itu paling besar di desaku, sekitar lima meter. Ia menaikkan sendiri untukku layang-layang itu disawah dibantu dua orang yang memegangnya. Sedangkan Bapakku yang menariknya juga dibantu dua orang. Aku amat gembira ketika itu melihat layang-layang made in Bapakku terbang.

Layang-layang termasuk hiburan dan mainan fovorit kecilku. Besama teman-teman, aku banyak menghabiskan waktunya di sawah dan ladang untuk menerbangkannya. Kadang, jika ada mobil bak lewat kami mengejar dan menumpanginya sampai berkilo-kilo. Atau, jika ada suara pesawat kami girang menyorakinya sambil bernyanyi. Sesekali, kami mengejar layang-layang yang jatuh karena kalah dan adu gesrek-gesrean, sejenis pertarungan layang-layang di udara. Kami senang meski harus berkilo-kilo menelusuri hutan, sawah dan berjibaku dengan lumpur. Jika layang-layang nyangkut di pohon, kami akan memanjatnya. Suatu kebanggaan dan gengsi tersendiri waktu itu jika mendapatkan layangan yang putus.

Jelang hari raya, Bapak juga membuatkanku petasan dari bambu. Dalam bahasa desaku anak-anak menyebutnya “long bumbung” sebagai menu wajib untuk memeriahkan datangnya Idul Fitri di desaku. Dengan memakai arit dan alat seadanya, Bapak membuatnya dengan penuh ketelitian. Sementara aku menunggu didekatnya sambil melihat langkah demi langkah caranya. Begitu H – seminggu Idul Fitri, desaku sudah riuh bersahut-sahutan suara petasan ini. Sungguh menggembirakan hati ketika itu mendengar suara-suara gemuruh bak bom-bom dalam peperangan.

Jika senja datang, Bapak menyalakan lampu teplok yang memakai minyak tanah untuk menerangi ruang tamu dan bilik-bilik kamar rumah kami. Lampu-lampu itu kadang ibu yang bikin dari botol-botol minuman bekas. Sementara di masjid depan yang penerangan sebelumnya memakai lampu Senthir, sudah selangkah maju, menggunakan petromakh. Orang desaku sering munyebutnya strongking, yaitu lampu dengan bahan bakar pirtus dan bohlam kain. Tahun 1993, petromakh masih menjadi barang mewah dan langka di desaku. Anak-anak kecil sebayaku berkeliling takjub melihat setiap pengurus madrasah masjid menyalakan lampu ajaib itu di sore hari.

Selepas isya, Bapakku mulai mengajar ngaji. Sesekali ia mengingatkan anak-anak yang masih saja main petak umpet atau bermain lampu oncor ketika jam ngaji dimulai. Begitulah aktivitas Bapakku setiap malamnya. Bahkan, selesai jam ngaji, Bapak masih menerima santri senior yang belajar di rumah. Waktu itu, aku yang nakal sering menggangu dengan bermanja-manja diatas pangkuan Bapak, atau sesekali menarik kopiah santri putra atau kerudung santri putri. Hari libur adalah malam jumat. Jika hari itu datang, Bapakku sudah dijemput rekannya untuk menghadiri kenduren. Meski hujan lebat mengguyur, Bapak tetap akan berangkat memakai payung hitam yang ujungnya sudah patah.

Di bulan-bulan tertentu seperti mulud dan rejeb  Bapakku kadang diundang mengisi ceramah pengajian. Meski harus menyewa diesel, waktu itu pengajian sering diadakan malam hari. Jika Bapak pergi, kadang aku harus menunggunya sampai larut malam sambil belajar atau bermain dengan adikku yang masih kecil. Aku menunggu karena seperti biasanya, Bapak membawa pulang berkat dari pengajian. Aku senang makan berkat yang rata-rata ada dagingnya, sedangkan makan daging merupakan selera yang masih wah waktu itu, tidak seperti sekarang.

Menjelang malam, aku seringkali sulit tidur. Bapaklah yang menemaniku dengan dongeng-dongeng yang penuh inspirasi dan menentamkan hati. Tak terasa Bapakku membangun nalar imajinasiku lewat dongeng yang sederhana. Tiap malam, Bapak mengganti dongeng agar aku tidak bosan tentunya.  Diantara cerita yang ia sering dongengkan adalah kisah: Jaka Tingkir, Kebo Ndanu dan Aryo Penangsang, Si Kancil Nyolong Timun, Sunan Kalijaga, Perahu Nabi Nuh, Nabi Ayyub, Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim, Nabi Adam- Hawa dan lain sebagainya. Setelah besar dan aku ngaji Tafsir Jalalain, aku baru tahu beberapa dongeng Bapakku tentang nabi, merefer dari kitab karya Imam Jalaludin Suyuhi yang dikaji semua pesantren salaf di Nusantara.

Pernah suatu saat Bapakku mendongeng tentang masa kecil menginjak remajanya, tahun 1940-an. Penjajah waktu itu masih bernafsu untuk menguasai Indonesia, meski kemerdekaan sudah di proklamirkan 17 Agustus 1945. Pada faktanya kolonialis masih membelenggu kedaulatan tanah air dari perjanjian Linggarjati, Renville, Roem Royen sampai akhirnya diselesaikan di Konferensi Meja Bundar di Denhag Belanda tahun 1949. Keadaan itu membuat kesejahteraan rakyat masih dipertaruhkan, termasuk keluarga Bapakku.

Ketika itu, Bapakku mengurus empat adiknya dalam keluarga yang sederhana. Nasi masih menjadi barang langka waktu itu. Sehari masing-masing dijatah satu kepal, dan digantung diatas tungku. Karena lapar, jika Bapak menyuapi adiknya, ia sering mencurinya. Jika berangkat sekolah, Bapak mengaku tak pernah membawa uang saku. Ia harus rela tenggorokannya kering ditengah cuaca panas Pantai Utara Jawa yang menyengat.

Menginjak remaja, Bapakku pamit mengembara menuntut ilmu. Dengan membawa beras yang dibungkus kandi dan dipanggul dengan tongkat, ia menelusuri terjalnya jalanan. Dari pesantren satu menuju pesantren lainnya, ia berbekal sedikit keterampilan dagang buku dan kitab-kitab. Dari situlah ia menyambung hidup dan mereguk ilmu di pesantren. Kemudian dekat dengan kyai dan sering dipercaya mem-badali-nya.

Sirine memecah lamunanku untuk kedua kalinya. Para pramugari kembali keluar. Ia mengabarkan bahwa cuaca sedang buruk di Bandara Adisumarmo Solo dan pesawat tidak bisa melandas disana. Hatiku deg-degan bukan main. Pikirku, jalur akan dialihkan menuju bandara terdekat yaitu Bandara Adisucipto di Jogjakarta. Usai pesawat balik arah mengurungkan landasnya, penerbangan mulai lancar kembali. Setelah agak lama, akhirnya pesawat mendarat juga. Tapi semua penumpang heran ketika dilihat tulisan bandaranya adalah Soekarno – Hatta. Ternyata pesawat kembali ke Jakarta setelah sampai di langit kota Solo. Setengah jam menunggu pesawat mengisi bahan bakar, pesawat kembali lepas landas menuju Solo.

Aku kembali dalam lamunan panjang mengenang Bapakku. Meski di desa ia sering diundang ceramah, pada dasarnya Bapakku orangnya pendiam. Ia cenderung tidak bicara akan problematika yang dialaminya, amat bersahaja. Paling-paling, kalau kecapean ia menyuruhku untuk ‘menginjak-injak’ badannya. Ia kadang terlihat melamun sambil menyading kopi dan rokok di pinggir jendela. Ia juga hobi ngotak-atik, bongkar-pasang radio untuk mencapai akurasi frekuensi. Muthalaah kitab juga sering ia lakukan dengan mengguakan kacamata min besar miliknya.

Setelah aku mencicipi bangku kuliah, dan adik-adikku sekolah semua, aku baru merasakan betapa Bapakku berjuang dari nol menuju keadaan yang sekarang. Ia mengawali dari seorang pendatang yang melamar ibuku dan tinggal di salah satu kamar di pesantren milik Simbahku. Setiap pagi, siang dan petang santri mengantarkan nasi untuk makan keluarga kecil kami. Sampai perlahan, Bapak membangun rumah sendiri yang tentunya dibantu Simbahku selaku mertua. Setelah bisa tinggal serumah, adik-adikku lahir dan sampai kini empat di pesantren sambil kuliah dan sekolah, sedang dua masih belajar di bangku sekolah dasar.

Sebagai anak tertua, kakak dari M Syauqi Taufiqurrahman, Naily Ulya Ulin Ni’mah, Kuni Farichatul Kamila, Ahmad Chotibul Anam dan Lu’lu’ul Mutala’liah aku mulai berpikir tentang keluarga. Perlahan, aku merasakan diamnya Bapakku menyimpan kepedihan yang mendalam tentang perjuangannya untuk menaikkan anak-anaknya di masa depan. Meski demikian, ia tegar bak karang yang dihempas gelombang besar. Mungkin ini juga berkat ibuku yang setia dan adil dalam berbuat. Ia pandai mengiris telur secara adil untuk kami makan sekeluarga, sampai ia mengirimi aku aneka sayur dan beras di pesantren.

Aku menganggap Bapakku sudah maksimal dalam mendidik anak, juga ibuku yang selalu kejam dalam urusan pendidikan agama. Meski aku tidak atau belum menjadi kyai, tokoh, pengusaha atau pejabat—yang oleh sebagian besar orang dianggap sukses—aku menganggap kedua orang tuaku sukses. Minimal, Bapak yang ‘hanya’ lulus SMP dan ibu yang lulus SD bisa menyekolahkan dan mencicipkan bangku kuliah padaku dan adikku. Untuk membayar uang pendidikan—yang sebenarnya tak seberapa dibanding yang lain—dulu Bapakku sering hutang dan ibu tak segan mengelupas kelapa sendiri untuk dijual dan hasilnya dikasihkan untuk bekalku.

Sampai saat ini, kasih sayang Bapak dalam bentuk long bumbung, dongeng sebelum tidur, dan sebungkus berkat dari pengajian merupakan cinta yang tak sempat terucapkan. Ketika hari raya Idul Fitri kemarin aku dan adik-adikku berkumpul dan makan bersama, aku melihat rona bahagia ada di raut muka mereka. Meski sekarang aku baru bisa membelikan rokok Dji Sam Soe kaleng eksklusif, menunjukkan tulisanku di beberapa media, membelikan sepatu untuk adik-adikku atau memberi sedikit uang belanja untuk ibu, kurasakan mereka begitu bahagia. Tentu, aku ingin lebih dari itu semua. Dan kini jalan panjang di umurku yang 25 tahun, masih banyak waktu untuk membuat hati mereka  dan masyarakat syukur-syukur bangsa ini bangga. Semoga.

Pendaratan pesawat yang berada di daratan licin mengoyahkan lamunanku. Perlahan aku keluar setelah perjalanan Jakarta-Solo-Jakarta-Solo ditempuh dalam waktu tiga jam. Kutapakkan kaki di bandara Adisumarmo yang masih basah oleh hujan. Di depan bandara, ramai sopir taksi dan ojek mencari mangsa penumpang. Aku segera mgnghubungi Umi bahwa aku telah sampai di Bandara. Sambil menunggu jemputan, aku melepas deg-degan selama perjalanan yang menegangkan dengan membeli rokok dan kopi di beranda bandara. Sejam kemudian, Umi, Mini serta sopirnya datang menjemputku menggunakan Avanza Hitam. Setelah disinggahkan di rumah makan, mobil menuju Objek Wisata Tawangmangu, tempat Pelatihan Jurnalistik. Sesampainya di lokasi, aku dibuatkan kopi, beberapa jajanan oleh cewek-cewek  di ruang panitia. Kemudian aku disarankan istirahat di Kamar Villa yang tanpa AC sudah membuat badanku menggigil kedinginan.

Esok paginya aku lari-lari untuk menghirup udara segar pegunungan. Hamparan pohon teh mengeluarkan oksigen yang begitu segar memasuki rongga dadaku. Sungguh, udara yang masih perawan dan belum terkontaminasi racun-racun industri. Tepat pukul 08.00 wib aku memasuki ruangan untuk mengisi materi Jurnalistik Online. Dihadapan kader putri Nahdlatul Ulama se-Jawa Tengah, aku lebih banyak menyampaikan pengalamanku menulis yang otodidak. Setelah sejam presentasi, banyak juga respon dari mereka di sesi pertanyaan. Rata-rata mereka sudah menjadi pejuang pena di Kampus atau kepengurusan IPPNU di Kabupaten masing-masing. Aku begitu plong, lega dan bangga bisa sharing dengan mereka, calon penerus perjuangan ulama utamanya melalui tulisan dan media.

Setelah acara selesai, aku pergi ke Semarang semobil dengan panitia. Selain untuk melihat kondisi kantor PW IPNU, juga mengikuti rapat panitia Rakerwil IPNU-IPPNU Jawa Tengah. Usai rapat, tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku.

“Semua sudah saya hubungi dan malam minggu besok kita kumpul-kumpul bersamanya di Daerah Rawamangun” tulis Usman di inbokku.

SMS itu benar-benar menghentak jantungku. Ternyata aku sudah berjanji reuni dengan kawan ngaji dan bermain sewaktu kecil di Jakarta. Esok paginya, aku langsung bertolak lagi menuju Jakarta, demi kesetiakawanan dan kata “Ya”.

 ***

Base Camp IPNU Purworejo, Selasa, 04 Februari 2014