Mengenal Akhmad Fadlun SY

Akhmad Fadlun
Akhmad Fadlun

Akhmad Fadlun Zuhri, merupakan putra ke-3 dari 5 bersaudara pasangan KH Zuhri Syamsuddin dengan Ny Kasmunah. Fadl atau Gus Fadlun, begitu ia dipanggil menghabiskan masa kecilnya di Desa Jangkrikan Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo. Ia belajar al-Quran dan Ilmu dasar Islam langsung dari ayahandanya yang merupakan tokoh agama di desanya.
Menginjak remaja, Fadlun dimasukkan oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Roudlatut Thullab (Sekarang PP An-Nawawi) Berjan Purworejo. Namun di pesantren asuhan KH Achmad Chalwani ini ia tidak bertahan lama. Kemudian ia di kirim ke Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur. Di Lirboyo, ia menyelesaikan ngajinya hingga purna.
Fadlun dikenal tegas dan berani menyampaikan pendapatnya. Dengan modal ilmu dari pesantren serta pergaulannya yang luas, ia memberanikan diri terjun ke dunia politik. Bagi Gus Fadlun, dunia politik sudah tidak asing. Politik tidaklah kotor, justru alat untuk mensejahterakan masyarakat. Baginya, jabatan bukanlah tujuan namun alat untuk mencapai sebuah tujuan. Selain karena didikan orang tua, lingkungan dan tentunya ilmu kitab-kitab klasik pesantren seperti Idhohul Mubhan (mantiq; logika berpikir), muqaddimahnya Ibnu Khaldun serta Ahkamus Shulthaniyyahnya Imam Mawardi, ia juga sudah berorganisasi semenjak menjadi santri. Wajar kalau political will-nya terasah dan tumbuh dalam tradisi pesantren.
Selepas pulang pesantren, ia menikah dengan Siti Nur Faridah binti KH Muhammad Auladi. Ditengah kesibukannya ceramah diberbagai tempat, mengajar di SMA Maarif NU Kepil(Kini menjadi SMK Madani) dan mengasuh pesantren tinggalan orangtuanya, ia juga memperjuangkan intensif untuk guru madrasah dan pesantren di Kabupaten Purworejo lewat Forum Komunikasi Madrasah diniyyah(Kini menjadi FKDT).  Khusus dalam domain FKDT, tangan dinginnya telah berhasil mengalokasikan dana 3,2 milyar dari APBD untuk ribuan guru ngaji di berbagai madrasah dan pesantren yang tersebar  di Wonosobo. Selain itu, ia juga aktif membesarkan organisasi kaum islam tradisionalis, Nahdlatul Ulama.
Meski sudah berkeluarga, ia melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD) Jogjakarta. Lagi-lagi, sosok rendah hatinya muncul. Setelah tinggal menyelesaikan skipsi, ia tinggalkan begitu saja. Baginya, gelar bukan tujuan. Namun, yang penting bagaimana dengan ilmu yang dinmiliki, bisa berkontribusi untuk masyarakat. Dan lewat pengabdiannya selama ini, ia telah banyak mengabdikan dirinya untuk masyarakat khususnya kepada umat Islam.
Sebagai tokoh masyarakat, pengasuh pesantren dan politisi, Fadlun adalah sosok yang sederhana. Meski sederhana dan dekat dengan masyarakat, ia memiliki capital sosial yang tinggi. Waktu dan tenaganya sebagian habis untuk berkhidmah kepada masyarakat. Baginya, ini merupakan perjuangan yang membuat hidup penuh makna dan arti. Atas permintaan beberapa tokoh masyarakat dan dengan niat tulus mengabdi, ia kini dicalonkan menjadi anggota DPRD Kabupaten Wonosobo lewat PKB Dapil Kepil Sapuran nomor 3. Sekali lagi, baginyaabatan bukanlah tujuan, namun alat untuk memberi kemaslahatan dan kesejahteraan bagi rakyat. Jika masyarakat memberi kepercayaan kepadanya untuk membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat, tentu ia tidak akan menyia-nyiakannya. Jika belum mendapat mandat, toh kata Gus Dur sebagai sosok yang dikaguminya, “Tak ada jabatan apapun di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian. Masih banyak jalan dan lahan untuk berjuang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: