PAGI itu saya berkesempatan nderek pengajian KH Achmad Chalwani di dua tempat: Wonosobo dan Demak.

Pagi-pagi saya sudah standby di depan kediaman beliau. Saya, sopir serta seorang santri menunggu di beranda rumah. Beliau masih menemui tamu yang seakan tiada henti setiap harinya. Kebetulan barangkali, tiga mobil yang datang bertamu adalah romongan PCNU Purworejo. Tidak tahu saya urusannya apa, yang jelas KH Achmad Chalwani merupakan ulama NU yang dituakan. Pantas saja kalau tokoh-tokoh NU sering sowan kesini.

Setelah beberapa saat, akhirnya beliau muncul juga. Seperti biasa, saya bersalaman mencium tangan beliau yang lembut kemudian membukakan pintu mobil. Ada kedamaian tersendiri ketika bersalaman dengan beliau.

Sudah menjadi tradisi, sebelum berangkat, kiai berhenti di muka swalayan untuk membelikan air minum dan rokok untuk para penderek-nya. Hal ini selalu dan selalu beliau lakukan. Suatu kehormatan bagi santri ataupun orang yang nderek dengan beliau diberi rokok. Sederhana tapi sebuah ungkapan cinta yang tak terucapkan.

Kulihat sosoknya yang begitu berkharisma sudah memutih rambutnya. Sepanjang perjalanan tentu saya tidak menyia-nyiakan hal ini. Beberapa pertanyaan keluar seakan tak kukendalikan. Di mobil itu, saya banyak bertanya tentang Aswaja, NU, Politik dan problem sosial kemasyarakatan. Daya ingat serta kealiman beliau membuat saya takjub. Belum lagi hati dan jiwa beliau yang bersih membuat saya teduh sekaligus kagum dibuatnya. Ketika saya menyampaikan beberapa ejekan dari orang yang tidak suka dengan beliau, jawabnya hanya enteng.

“Yowis, ora popo, dinengke wae men do ngono; iki urung ono apa-apane karo perjuanganne kanjeng nabi; saya tidak apa-apa, biarkan saja mereka begitu. Perjuangan saya ini belum apa-apa dengan perjuangan baginda nabi,” kata beliau dengan penuh kebijaksanaan. Saya terdiam. Kadang-kadang hati ini merasa dicabik-cabik ketika mendengar kiai dihina atau diolok-olok, hanya karena kiai di Golkar dan dulu ikut membela Abu Hasan di Muktamar NU Cipasung, 1994. Mereka yang berkomentar semacam itu saya berani menjamin belum kenal sepenuhnya pada kiaiku. Namun, sudahlah. Masalah politik akan selalu menarik dan bermacam pembelaan.

Di Wonosobo kami disambut masyarakat dengan antusias. Puluhan kendaraan bermotor menjemput kami kemudian di arak sampai lokasi. Ketika kami melewati venue, semua orang berdiri menghormati sang kiai dengan mengalunkan shalawat nabi. Saya sendiri jadi terharu. Merasa tidak pantas mendapat sambutan seperti ini. Tapi saya menyadari bahwa ini penghormatan sepenuhnya untuk Mursyid Thariqah itu, bukan saya. Kami dipersilahkan masuk dan makan oleh tokoh masyarakat setempat. Kemudian berbincang, melingkar, seperti rakyat yang kedatangan rajanya.

“Kiai, saya itu sakit asam urat tidak sembuh-sembuh sudah tahunan. Adakah solusi untuk penyakit saya, kiai? Sudah segala pengobatan dari yang traisional sampai modern saya coba, tapi hasilnya nihil,” kata salah seorang tua yang duduk di tengah. “Saya punya kenalan, orang ahli pengobatan alternative, pak. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sini, silakan nanti minta nomor telponnya pada sopir saya,” jawab kiai.

Kemudian majelis itu mendiskusikan banyak hal, termasuk politik. Apa-apa yang disampaiakan kiai diikuti anggukan kepala dari tokoh masyarakat tersebut. Saya melihat aura kiai memancar ditengah majelis itu. Beliau bak artis yang selalu di kagumi dan dipuja, tapi juga ditunggu-tunggu apa yang keluar dari mulut beliau. Disisi lain, kiai juga perhatian pada tokoh-tokoh masyarakat. Selain hafal namanya, beliau juga menanyakan kabar dan berbagai hal yang melingkupinya. Beliau pandai betul bagaimana mengorangkan orang, memanusiakan manusia.

Tak lama kemudian, beliau dipanggil untuk menyampaikan ceramah. Dua hal yang selalu dibawa-bawa kemanapun beliau ceramah adalah Aswaja ala NU dan Pesantren. Dua hal itu selalu saya dengar diberbagai ceramah beliau. Wajar kalau kini beliau di daulat menjadi Syuriah PWNU Jawa Tengah, setelah dahulu sempat dikudeta ketika menjabat Rois Syuriah PCNU Purworejo karena berseberangan dengan Gus Dur.

Ke Demak Bintoro

Perjalanan dilanjutkan ke Demak Bintoro. Dijalan, kiai membelikan kami aneka roti dan jajan sebagai pengganjal perut. “Makanlah ini dulu, nanti makannya di langganan saya saja, di Demak,” kata beliau. “Injih,” kami menjawab serempak. Dijalan saya bisa mendapati kiai bercerita mulai yang berat sampai yang ringan seperti bergurau dan lain sebagainya. Banyak hal yang beliau ungkapkan yang tentunya tidak saya sampaikan disini karena saking banyaknya, atau lebih tepatnya banyak yang lupa. Maaf.

“Ayo kita shalat beramaah dulu, kemudian makan. Setelah makan nanti kita sowan dulu di Makam Sultan Fatah,” kata beliau. Kamipun berbegas shalat di pinggir restoran dekat Masjid Agung Demak. Setelah makan, kami menuju ke masjid Demak yang legendaris itu. Masjid yang menempati urutan kedua destinasi wisata setelah candi Borobudur. Kebetulan, kami akan dijeput disana oleh panitia yang mengundang.

“Ini lho, saka-saka (tiang-red) serambi hadiah dari Brawijaya untuk Sultan Fatah. Saka ini dulunya milik kerajaan majapahit,” kata kiai kepada kami menjelaskan. “Diatas pengimaman itu juga ada lambang Surya Majapahit. Bukti bahwa pengaruh Majapahit masih kuat di awal-awal Islam,” tambah beliau. Kemudian kami diajak masuk ke pusara Makam Raden Fatah, Sultan Demak pertama. Kiai memimpin tahlil, doa sekaligus tawassul. Saya, sopir dan penderek mengamini dibelakang. Setelah itu, kami dijemput untuk dibawa ke lokasi pengajian.

Di venue, ternyata saya baru tahu acaranya: Haul KH Abu Sujak, Bonang Demak. Selain KH Achmad Chalwani, ada juga Habib Syekh dan Gus Sabuth yang mengisi. Memasuki transit, kami dikawal ketat oleh keamanan. Ribuan nahdliyyin berjibaku bagai lautan manusia. Setelah sampai transit, kami diminta makan. Usai makan, saya merasa bangga karena ditawari rokok oleh Gus atau putra almarhum KH Abu Sujak. Kiaiku diajak para sesepuh untuk menuju panggung. Sementara karena tamu amat banyak, saya, sopir dan penderek keluar untuk mencari udara.

Lantunan Habib Syekh memecah ribuan nahdliyyin. Gelombang cahaya nabipun berkumandang membawa kedamaian. Tak lupa Habib Syekh melantunkan juga syiir NU. Setengah perjalanan lantunan shalawat, Habib Syekh dari Solo itu rehat. KH Achmad Chalwani gantian memegang mikrofon.

Kiai menyampaikan pentingnya menyekolahkan anak di pesantren. Kader-kader bangsa yang didik ulama banyak yang menjadi tokoh dan pahlawan bangsa, seperti Bung Hatta, Kartini, Ki Hajar Dewantara, KH Wahid Hasyim dan lain sebagainya. Kemudian beliau juga bercerita sejarah Demak dengan amat fasih dan akurat. Ditengah usianya yang tidak lagi muda, kiai masih hafal sejarah Nusantara lama sampai era kemerdekaan. Hadirin dibuat takjub dan tercengang. Beliau juga melantunkan syiir Padang Bulan dalam tiga versi bahasa: Jawa, Arab dan Inggris. Ketika bahasa Inggris diiringi shalawat, hadiriin gemuruh, tambah takjub. Banyak kamera handphone yang dinyalakan untuk mengabadikan peristiwa langka tersebut.

Usai pengajian, Habib Syekh melanjutkan shalawat. Di akhir acara, Gus Sabuth dari Kediri datang, tapi kami dan rombongan Habib Syekh sudah keburu pulang. Salah satu pemandangan yang mengesankan, ketika kami pulang, banyak remaja yang menyambut. Mereka sepertinya terkesan karena Kiai melantunkan shalawat dengan bahasa Inggris.

“Bagaiimana tadi pengajiannya?,” tanya kiai. “Sae kiai, semua pengunjung terkesima, tidak ada yang beranjak,” jawabku. “Saya tadi salaman dengan Habib Syekh, mau mencium tangannya malah terlambat, tangan saya keburu diciumnya,” kata beliau. “Oh,,,” jawab saya sambil berusaha membayangkannya.

Sampai di Ungaran, perjalanan terhenti. Lampu mobil mati. Saya kurang tahu entah aki atau apa yang salah. Kami sibuk telfon kesana-kemari mencari orang atau alumni sekitar yang masih melek di jam 02.00 WIB. Saya melihat sosok kiai begitu santai dan dingin menghadapi situasi seperti ini. Tak ada kecemasan sedikitpun terpancar dari wajahnya, meski besok pagi beliau harus mengisi pengajian lagi di lain tempat. Setengah jam kemudian, telfon kiai diangkat oleh Mas Maroip, ketua alumni asal Semarang, daerah Lemah Abang, Ungaran. 10 menit kemudian ia sudah sampai dengan membawa mobil.

Setelah saling meyapa dan tanya kabar, kiai hendak melanjutkan pulang ke Purworejo. Sementara saya sekalian pamit karena esoknya harus menghadiri Rapat Kerja Wilayah IPNU Jateng di Lasem, Rembang. Setelah bersalaman dan diberi uang saku oleh kiai, saya ikut dengan Mas Maroip dan ingin menginap dirumahnya.

Mas Maroip datang membawakan saya kopi, dengan mukanya yang merona kedatangan santri, dihiasi sedikit sisa kantuk. “Silakan kopinya, Mas, diminum,” katanya. “Oh, iya. Terima kasih banyak, Mas. Jadi bikin repot saja nih,” jawab saya basa-basi. Lalu saya menanyakan banyak hal kepada Mas Maroip, utamanya waktu ia nyantri di pesantren. Banyak hal yang saya dapat dari diskusi itu. Ia mengaku berkah kiai amat banyak dalam menjadikan hidupnya sekarang.

Mas Maroip mengaku, di pesantren yang hanya sebentar yaitu tiga tahunan, kurang serius dan nakal. Meski begitu, ia bangga suatu saat setelah lama keluar dari pesantren, ia ditelfon langsung oleh kiai. Ternyata kiai masih ingat dan perhatian padanya. Ia kemudian bangkit. Setelah melewati hidup yang sulit mulai dari menjadi kernet di jalan sampai kuli, menjalani kehidupan kelam jalanan, ia kemudian mengajar TPQ kepada anak-anak kecil. Perlahan ia memiliki penghasilan dan mengantarkannya pada kehidupan yang mapan. Kini TPQ-nya sudah memiliki gedung dan guru tersendiri. Mas Maroip menggajinya sendiri. Karena waktu, hubungan harmonis dengan kiai selalu ia jaga. Sampai akhirnya ia di daulat menjadi ketua alumni wilayah Semarang.

Paginya, saya pamit untuk pergi ke Rembang. Mas Maroip mengajak saya sarapan pagi dulu. Kami asyik ngobrol seputar pesantren, kiai dan kehidupan luar. “Berkah kiai memang luar biasa, Mas. Saya merasakan sendiri manfaatnya. Di masyarakat omongan saya diipercaya orang. Orang mendengar apa yang dikatakan seorang Maroip,” katanya menasehati. Setelah makan, saya diantar menuju jalan utama untuk naik bus. Saya minta kontaknya, mengucapkan terima kasih dan kamipun berpisah. Banyak pengalaman berharga dari perjalanan yang saya lakukan. Semoga ini semua menjadi kapital-sosial saya untuk masa depan. Amin.[]

Home Base PC IPNU Purworejo, Kamis, 03 Maret 2014