Sore itu aku baru saja mandi dan ngopi di emperan rumah. Langit tampak merah merona,tak ada tanda-tanda hujan. Suara burung pun berisik mencari tempat bermalam di pepohonan. Tiba-tiba temanku di klub bola, Tolib, datang dengan naik sepeda motor. Ia memintaku untuk menemaninya mengaji dengan seorang kyai muda yang akhir-akhir ini naik daun namanya sepulang dari pesantren. Namanya Kyai Sudrun, namun anak muda lebih sering memanggilnya Gus Sudrun.

“Bagaimana mungkin, Bro, saya kan orangnya kotor begini: masih suka mabuk dan main perempuan” jawabku sambil garuk-garuk kepala. “Aku kan malu kalau nanti ditanya macam-macam: shalatnya atau apanya, lah” kataku menambahkan. “Emang kamu saja? Aku ini juga nakal, kan? Siapa yang tidak tahu kenakalanku di desa ini?” katanya meyakinkanku seraya menyulut sebatang Marlboro. Aku jadi teringat kisah hidupnya. Ia memang paling nakal di desa. “Jadi, gimana tawaranku, mau, ya?” katanya sambil meyakinkanku. “Ya sudah, aku mau, ayo berangkat”

*

Kami tiba di depan kediaman kyai muda itu. Ternyata di rumahnya yang sederhana ramai oleh puluhan pemuda-pemudi. Kami berdua melihat kondisi isi rumah dari jendela yang terbuat dari kaca itu. Ada pemudi sedang bersimpuh menangis di pangkuan kyai muda itu. Sepertinya ia sedang menyesali sesuatu hal. Sementara, yang lain bersenda gurau. Diantara mereka terlihat ada yang memakai celana jalanan yang sobek dan compang camping, bahkan celana pendek. Aku jadi ragu akan ke-kyaian-nya, namun juga penasaran. “ayo, kita masuk saja!” pinta Tolib. “ayo” jawabku.

Setelah salam, kami dipersilakan masuk oleh kyai muda tersebut. Salah seorang santri membuatkan kami minum dan mempersilakan menikmati hidangan. Kami bergabung dengan para pemuda yang datang duluan. Diantara meraka, ada yang kukenal, teman sekolahku bernama Usman. Aku bersalaman danduduk disampingnya. Kekhawatiranku ternyata tidak terjadi. Aku dan teman kutidak ditanya macam-macam, hanya ditanya kabarnya. Seakan ia mengerti pertanyaan mengenai kehidupan masa laluku itu membuat kami malu. Sambutan itu membuat aku nyaman.

Kemudian ia bercerita tentang pelbagai hal dalam kehidupan. Sementara kami melingkarinya dan mendengarkan dengan seksama. Jika ada yang ingin tanya tentang suatu persoalan tinggal langsung menyampaikan. Karena gaya kyai muda tersebut lucu, kami seringkali dibuat terpingkal-pingkal. Ia menasehati kami untuk bermakna bagi banyak orang, karena itulah yang disebut manusia. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sungguh bijak bak mutiara. Kami semua dibuat takjub olehnya. Aku tak lagi meragukan lagi kapasitas ke-Kyaian-nya. Setelah sampai malam dan disuruh makan, kami semua berpamitan pulang.


Sebulan sudah berlalu sejak pertemuanku dengan kyai muda itu. Aku disibukkan dengan kerjaan. Pada malam minggu, aku mengajak Tolib untuk pergi makan mie ongklok ke Alun-alun kota. Setelah dua jam makan dan ngopi sambil ngobrol macam-macam, kami memutuskan untuk pergi mencari gorengan. Tak kami sangka, dibelakang penjual gorengan, ada sebuah café yang penuh dengan PSK. Kami sontak kaget. Kekagetan kami bukan karena kafenya atau PSK nya.

“Bro, itu kan, mobilnya…..”, belum habis aku berkata, Tolib menyela, “Gus Sudrun!” serobotnya. “Ah, apa mungkin mobilnya dipinjam orang lalu dibuat begituan?” kataku sambil menyodorkan uang lima ribu kepada penjual gorengan. Tolibmemandang kafe itu dengan sorot tajam. Ia sepertiku: terheran-heran. “Bisa jadi bro, ada anak yang pinjam mobilnya untuk beginian. Kalau begitu aku tak terima Gus Sudrun diperlakukan seperti ini, biar nanti orangnya aku habisi” katanya sambil agak emosi. “Anu saja, bro, tak ada salahnya kita tunggu disini sambil sembunyi. Kita lihat siapa orang yang berani menyoreng nama Gus Sudrun dengan cara seperti ini” pintaku.

Ia sepakat. Gorengan aku bawa dan mencari tempat untuk bersembunyi dibalik sebuah pohon. Aku sambil makan gorengan untuk menenangkan. Sementara,Tolib sudah memegang batu. Ia seakan langsung ingin menimpuk siapa saja yangberani mencoreng nama Gus Sudrun. Lama kami menunggu, orang silih berganti belum juga ada yang masuk ke mobil itu. Setelah sekitar dua jam menunggu, segerombolan wanita dengan pakaian pendek keluar. Ia mendekati mobil itu. Aku dan Tolib deg-degan melihat siapa yang memasukinya. Setelah kami lihat dengan seksama, betapa terkejut hati kami.

“Bro, itu kan Gus Sudrun sendiri” kataku. Sementara Tolib masih belum yakin. Ia mengucek-ucek matanya untuk memastikan. “Gila bro, kok bisa ya,itu memang benar-benar Gus Sudrun, masuk mobilnya diantar cewek-cewek seksi” jawab Tolib. Batu di tangannya lepas. Ia lemas dan pucat mukanya menyadari hal itu. Sementara mobilnya sudah melaju dengan agak cepat. Kami jadi tak karuan rasanya, antara percaya dan tidak. Bagaimana mungkin seorang kyai muda, sering khotbah, pengajian dan diganrungi pemuda-pemudi di desa ke tempat seperti itu. Rasa penasaran itu kami simpan dalam-dalam, karena hari semakin malam. “ Ayo,bro, kita pulang saja, besok kan kamu kerja” kataku. Kamipun pulang kerumah masing-masing dengan membawa rasa penasaran.


Sehari kemudian aku bertemu Usman di jalan. Aku bercerita perihal Gus Sudrun tempo hari kepada teman mainku iru. Ternyata, ia juga pernah melihat hal yang sama, bahkan lebih tragis: Gus Sudrun di cium oleh PSK. “Yang benar saja, kau, Man?”kataku meyakinkan diri. “Sumpah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Gus Sudrun ada di tempat karaoke bersama para preman pasar dan PSK itu. Kulihat para preman itu memanggil PSK dan berbisik kepadanya. Tak lama kemudian, ia menciun Gus Sudrun. Atok temanku saksinya kalau kau tak percaya!” kata Usman menjelaskan. Seketika simpatiku luntur padanya. Padahal, sebelum kesana, aku menderngar ia sering berceramah di desa tetangga, punya jamaah manaqib dan sebagainya. “Ya sudah, makasih, bro, sana kalau mau lanjut jalan” kataku pada Usman.

Hatiku meletup-letup. Aku tidak terima kalau sampai Gus Sudrun hanya menggunakan kedok agama sebagai jalan menarik simpati masyarakat. Jiwa idealismeku meletup-letup. Aku sampaikan pada Tolib bukti kedua. Kami sepakat nanti malam akan demo kesana. “Nanti aku kerahkan massa bro, tugasmu orasi dan membeberkan bukti” kata Tolib padaku. Aku mengangguk sambil melihat matanya yang tajam bak pedang. Sorenya kusiapkan properti demo seperti tulisan besar pengecaman pada Gus Sudrun, antara lain: “Gus Sudrun Preman berkedok Kyai”, “Usir Kyai Hobi Main PSK” dan masih banyak lagi.

Tepat pukul 19.00 WIB, massa sudah berkumpul di barat Masjid depan rumah Gus Sudrun. “Pokoknya, nanti jangan anarkis dulu. Kita bikin dia malu didepan umum” kata Tholib kepada massa. Massa bergerak ke depan rumah Gus Sudun dengan yel-yel dan nada kecaman. Sampai di depan rumah, seisi rumah kebingungan. Gus Sudrun keluar di dampingi orang berperawakan besar yang tak aku kenal. “ Usir Gus Sudrun dari desa ini!” pekik salah satu pendemo. “Setuju!” diikuti massa lainnya. “Stop dulu hadirin, biar Gus Sudrun menjelaskan” potongku. “Ada apa ini, ada apa?” kata Gus Sudrun bingung namun ia nampak tenang menguasai diri. “ Gini Gus, kita minta penjelasan kemarin malam sampean ke diskotik di damping para PSK!” kataku. “Betul! ada banyak saksinya!”umpat salahsatu massa. “Diam!!!” kata Tolib menyela. “Kemudian”, kataku “Usman juga melihat sampean dicium oleh salah satu mereka. Apa maksud ini semua?” sambungku.“Oh, begitu, sekiranya tidak etis disini malam-malam, mari masuk dulu”tawarnya. “Jangan!” ada yang nyemplong. Tapi kemudian atas kesepakatan, kami bersama memasuki rumahnya.

Kami duduk melingkar. Gus Sudrun di ujung tengah. Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian dihembuskan secara perlahan. “Begini mas-mas. Pertama, memang saya rutin tiga bulan sekali mengunjungi kafe itu. Di Aula kafe itu, mereka biasa berkumpul dengan saya. Mereka ingin memperdalam ilmu agama. Hanya saja, memang saya tak larang mereka berpakaian ala mereka. Syaratnya cuma satu, disana tidak minum-minuman keras” jelas Kyai Sudrun. “Kenapa harus di Kafe, tidak di Masjid?”kata salah satu massa.“Ya, kalau langsung ke masjid, mereka nyengklak, kaku. Begitupun kalau langsung saya suruh pakai kerudung, biarsesuai dengan dunia mereka dulu. Alhamdulillah, banyak diantara mereka yang sudah Insyaf. PSK juga kan butuh surga, tidak hanya kamu, iya tho…!!!”kata GusSudrun santai.

“Lalu, bagaimana yang sampean dicium wanita di Karaoke itu?” kata Usman menanyakan. “Iya!, iya!, iya!” massa yang duduk tegang itu mengangguk mengiyakan. “Saya juga ngurus preman dan wanita-wanita yang begituan, mas. Nah, waktu itu mereka mau shalat isya asalkan habis shalat karaokean. Saya iyakan. Setelah di tempat karaoke, entah para preman-preman itu bermain atau judi, kalau salah satu cewek itu mencium saya mau dikasih hadiah uang. Hingga, ketika saya sedang asyik menyanyi, tiba-tiba ciuman mendarat”kata Gus Sudrun. “Lha, terus, gimana itu hukumnya”sergah Tolib sambil melotot antusias. “Lho, beda mas persoalannya. Saya di-cium bukan men-cium, tidak tahu pula. Jaditidak apa-apa” Jawabnya. Setelah itu, kami pamit, dengan muka merah semua.[]