Sebuah Refleksi Perjalanan Anak Bangsa

Hari ini merupakan penggenapan usiaku 26 tahun. Itu berarti aku lahir pada 21 Mei 1988. Banyak diantara teman-temanku mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” baik secara langsung maupun melalui jejaring social fesbuk. Rata-rata mereka menambahi ungkapan doa: semoga diberi keberkahan hidup, panjang umur, tercapai cita serta diketemukan jodoh. Banyak pula yang menambahi kapan makan-makannya. Itu semua bagiku merupakan support dan perhatian dari teman-temanku. Aku mengapresiasi, berterima kasih dan menghargainya.

Namun demikian, aku tak pernah atau jarang merayakan apa yang mereka sebut itu sebagai ulang tahun. Jadi, meski aku hari ini sedang ulang tahun, tak ada sesuatu yang kulakukan atau special yang terjadi. Singkatnya biasa-biasa saja. Kalaupun ada yang beda, beranda fesbukku penuh dengan ucapan dari teman-teman.

Jujur, aku kenal dan pernah merayakan yang namanya ulang tahun baru pada tahun 2005. Waktu itu di asrama pesantren yang didorong oleh keinginan luhur teman-temanku untuk merayakannya. Karena permintaan mayoritas teman kamar dan kelas, aku tak kuasa menolaknya. Waktu itu aku sedang bokek, jadi terpaksa meminjam uang. Tak kunyana, permintaan teman-temanku menghabiskan uang Rp. 150.000,-, suatu jumlah yang waktu itu cukup besar untuk santri desa dan sedang bokek pula. Namun tak mengapa, aku merasa senang jika karena aku, kawan-kawanku menjadi senang. Pasca itu pula, aku jarang bahkan tak pernah merayakan ulang tahun.

Sewaktu kecil, aku tak kenal Ulang Tahun. Dan tak pernah dikenalkan oleh ibuku. Hal yang mungkin mirip dengan ini, yang dikenalkan ibu mungkin adalah memperingati weton atau hari kelahiran dalam pasaran penanggalan Jawa. Wetonku adalah Sabtu Wage. Sebulan sekali, setiap sabtu wage itu, ibuku membuatkan among-amongan, sejenis nasi ambeng. Bentuknya adalah lima gundukan nasi dan yang tengah dibuat runcing seperti gunung. Nasi itu ditaruh diatas tampah atau papan berikut kluban(sayur daun singkong), urab(adonan untuk kluban yang terbuat dari kelapa), résé(ikan asin) dan receh(uang logam). Setelah siap dan didoakan, ibuku memanggil teman-temanku untuk memakan bersama. Setelah makan, uang receh itu dibagikan. Itulah tradisi yang diajarkan oleh ibu kepadaku dan adik-adikku hingga kini. Bahkan, kalau pas wetonku tersebut, ibu sering puasa.

Among-amongan ini amat berkesan dalam hidupku. Aku kini jadi merasa bangga sempat merayakan tradisi leluhur yang dewasa ini mulai jarang, bahkan hilang ditelan zaman. Begitulah ibuku mengajarkan, sampai aku tahu gempitanya dunia modern pasca lulus dari Madrasah Aliyyah. Selain dongeng legenda kisah masa lalu, cerita surga neraka, etika sopan santun bermasyarakat, ibuku yang lulusan Sekolah Dasar ini begitu perhatian dalam membuat Among-amongan. Aku dulu dan sampai kini bahkan tak pernah tahu, atau tepatnya masih bingung hari pasaran Jawa itu: Manis/Legi, Pahing, Wage, Pon dan Kliwon. Namun ibuku selalu tahu dan membuatkan Among-amongan itu untukku dan adik-adikku.

Dunia Berubah, Tradisi Goyah
Kini, dunia telah berubah. Di desaku rata-rata orang bahkan sudah merayakan ulang tahun. Karena pengaruh media, mereka tak kuasa meniru orang-orang eropa yang begitu dipuja. Nama anak-anak mereka yang dulu njawani kini berubah menjadi nama-nama orang eropa yang dianggap modern, trendi dan masakini. Pakaian-pakaian kebaya dan jarit yang dulu dipakai oleh semua wanita, termasuk teman-temanku ngaji di desa, kini tinggal dipakai oleh para orang tua. Hanya nenek-nenek desa yang sekarang sudi memakainya. Tradisi unggul hasil karya leluhur kini hilang entah kemana. Terus terang, masa lalu itu memang terkenang dan membawa kedamaian dalam hati jika dikenang.

Tak pernah lagi kini kulihat orang muda membungkuk berjalan di depan yang tua. Tak kudengar lagi kini anak menggunakan kromo inggil dalam bahasa Jawa kepada orang tuanya. Mereka orang tua masakini lebih bangga – meski sebenarnya siasia – mengajarkan anak-anaknya bahasa Indonesia yang sudah diajarkan sekolah dan televisi serta media. Aku kini jadi rindu melihat gadis menggunakan kebaya dan jarit berjalan menundukkan kepalanya. Tak kulihat lagi riuh permainan-permainan anak-anak seperti jrumpet (petak umpet) yang digelar sebelum ngaji malam hari tiba waktunya. Aku rindu bermain telanjang kaki dibawah purnama.

Sementara, anak-anak kini sibuk sendiri di pojokan menggenggam android dan tablet seri terbarunya. Tak lagi kulihat kini anak-anak berbondong-bondong menggunakan oncor membelah malam untuk mempelajari bait-bait agama. Aku rindu saat malam menikam mencari jangkrik dengan teman dan hatipun riang. Bagaimana kabarmu kini, jangkrik clupur, jliteng, jlabrang dan gonteng yang selalu aku dan teman-teman buru di lubang pekarangan dulu? Semoga saja suaramu tetap nyaring melantunkan pujian kepada tuhan, menggantikan orang yang kini sibuk menyimak berita gossip dan sinetron murahan. Aku rindu masa lalu. Keramahan masa lalu. Tradisi masa lalu. Kesederhanaan masa lalu. Keteladanan masa lalu. Kepolosan masa lalu.

Namun aku sadar, dunia sudah berubah. Kini usiaku sudah menginjak 26 tahun. Sebuah waktu perjalanan hidup yang sudah cukup panjang, lebih dari seperempat abad. Aku sudah beda dengan masa lalu, masa kecilku. Masa kecil bagiku dulu tahunya dunia ini hanya beberapa desa di kecamatanku, Kepil dan sekitarnya, yaitu: Desa Jangkrikan, Sitaragen, Pungangan, Gondowulan, Tegalsari, Sikarang, Siduren Balak, Sijati, Gilingan, Sampai Pasar Sapuran dan Dieng. Hidupku hanya di sekitar-sekitar ini. Mengejar mobil yang lewat di desa dan menumpanginya, melihat pasar malam atau layar tancap yang gegap gempita. Aku belajar bahasa dari ibuku, guru-guruku dan lingkungan masyarakat sekitarku. Jika ada pesawat terbang melintas, aku dan teman-teman selalu menyorakinya, memujanya dan mengaguminya. Tak pernah dulu terpikir bahwa tiket pesawat juga bisa dibeli kepada calo dengan harga duakali lipatnya di sekitar bandara.

Bahkan, di tahun 2000 aku bertemu dengan anak Jakarta di pesantren dengan logat bahasa Indonesianya, masih terkagum-kagum. “Inikah bahasa yang aku lihat para artis memakainya di televise-televisi itu?” batinku bertanya.

Di usia 26 ini, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk para guruku, baik guru di pesantren dan di sekolah. Semoga tuhan memberi kedudukan yang mulia kepadanya semua. Juga, kakek, nenek, ibu, bapak, keluarga serta adik-adikku yang telah lama hidup bersamaku. Teman-temanku, kalian juga sudah banyak memberi arti bagi hidupku. Di pergantian usia yang mereka menyebutnya Ulang Tahun ini, aku tak bisa memberi apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih untuk ilmu, cinta dan pelajaran yang telah aku serap untuk bekal mengarungi dunia. Kudoakan semoga tuhan sudi kiranya membahagiakan mereka di dunia dan akhiratnya. Karena mereka semua, kini aku menjadi lebih pede menghadapi dunia.

Karena mereka jua, aku sedikit tahu tentang agama. Dari qunut di fashalatan, fiil-fail-maful, mubtada’ khabar, faidah anut wazan tafaala berfedah lil-musyarakah, tafsir birr’yi, bil ma’sur, ayat saktah dalam bacaan al-quran, sampai kaidah-kaidah fiqhiyyah seperti Idza ta’aradha mafsadatani ruiya ahadihima birtikabi akhafihima, ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh atau ma la yatimmul wajib illa bihi fahua wajib. Dari ilmu tafsir, tafsir jalalain, sampai kini tafsir Hermeneutika yang berasal dari studi bible aku mulai mengenalnya. Fiqih, Nahwu, Sharaf, Tafsir, Mantiq, Balaghah, semua pernah mereka ajarkan demi kehidupan yang mulia. Dan masih banyak lagi lainnya.

Karena mereka semua, aku sedikit mengenal dunia lampau maupun modern. Pemikir-pemikir, pemimpin-pemimpin sampai struktur sosial dan geopolitik yang ada di muka bumi ini. Aku belajar ideologi-ideologi dunia, dari sosialis, kapitalis sampai islam yang selalu bertarung dan banyak mengorbankan nyawa. Aku kenal nama Plato, Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Thufail, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Al-Mawardi, Karl Max, Lenin, Kemal Pasha Attarturk, Juhaiman al-Utaibi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Hasyim Asyari, Kartini, Tirto Adi Suryo, Soekarno, Daud Bueureuh, Pramodya Ananta Toer dan masih banyak lagi. Aku menjadi tahu sejarah masyarakat, stratifikasi sosial, deferensiasi sosial, gerakan sosial dan perubahan sosial yang dulu tak pernah sekalipun membayangkannya. Dan masih banyak lagi, tentang ilmu-ilmu di dunia dan alam semesta.

Karena mereka semua, aku sedikit mengenal bangsaku sendiri; Bangsa Jawa. Aku jadi tahu, bahwa leluhurku pernah mencapai puncak kejayaannya di masa Kerajaan Kalingga dibawah Ratu Shima dan Kartikea Singa, Singosari dibawah Kertanegara, Majapahit dibawah Hayam Wuruk dan Gadjah Mada dan Kerajaan Demak Islam dibawah Sultan Fatah. Pasca 1511 portugis menaklukkan malaka, kita bangsa pribumi mulai menjadi bangsa kacung dan injakan bangsa eropa. Selama 350 tahun lebih penjajahan fisik menerpa, membuat leluhurku lupa bagaimana mengurus diri, masyarakat dan hidup di dunia. Gagap segagap-gagapnya. Tak ada kepedean dari mereka. Bahkan sampai kini, jika ada turis ke Indonesia, mereka masih kagum dan berfoto bersama dengan bangganya, entah turis itu siapa. Orang-orang eropa yang katanya terpelajar itu, dulu membunuh, memerkosa dan berpesta diatas penderitaan nenek moyang kita. Dan kini kita memujinya dengan buta, dari budaya, trend sampai system demokrasi dan ekonomi liberal yang menghancurkan bangsa-bangsa. Sampai kini, bahkan yang menghancurkan afganistan atau palestina adalah professor dan doktor kelas wahid didunia.

kini, bangsaku sudah merdeka. Aku sedikit-banyak bertanggungjawab atas apa yang diperjuangkan pahlawan sebelum merdeka. Tanggal 09 Juli 2015 mendatang, Indonesia, Negara tempat tinggalku juga akan memilih siapa presidennya. Ada dua nama menguat, Prabowo Subianto dan Joko Widodo yang kata orang layak menempatinya. Orang nomor satu di negaraku tercinta. Semoga saja, siapapun yang jadi, kelak akan membawa perubahan yang signifikan bagi bangsa dan Negara. Tentunya, sebagai Negara yang menomorsatukan sila ketuhanan, bisa semakin religius, santun dan beretika. Dalam kebijakan Negara, kedaulatan dalam politik dan ekonomi serta berkepribadian dalam budaya dapat direbut sehingga Negara bisa memakmurkan rakyatnya. Tri Sakti Bung Karno tersebut semoga bisa benar-benar dijalankan dan ampuh untuk mebangkitkan tanah air, yang bagaikan surga jatuh ke bumi bernama Indonesia, namun kini si empunya terlonta-lonta.

Budaya dan tradisi yang baik dari leluhur, seperti Among-amongan diatas, tak terganti dengan Selebrasi Ulang Tahun tradisi eropa atau minimal masih diuri-uri ditengah-tengah masyarakat kita. Dan ribuan tradisi, budaya, falsafah dan ajaran nenek moyang lainnya yang butuh perhatian dan pengawalan kita bersama. Tentunya yang masih relevan dan tidak bertentangan dengan agama, semua menjadi kepribadian bangsa dan identitas dengan bangsa lainnya. Syukur-syukur Negara ikut campur melestarikannya. Karna itu juga, bagian dari ajaran agama: al-Muchafadhatu ala al-Qadimi ash-Shaalih Wa al-Akhdu bi al Jadied al-Ashlah, Berpijak pada nilai-nilai lama yang baik dan bijak dalam merespon kekinian.

[Base Camp PC IPNU Kabupaten Purworejo, 22 Mei 2014]