Namaku Gombloh. Teman-temanku memanggilku, bloh! Sejak remaja, aku hidup dalam kerasnya dunia jalanan. Setamat SMA, aku pergi keluar kota untuk mencari penghidupan. Aku gengsi bertani, tak tahu sebabnya. Mungkin karena justru aku lulusan SMA itu. Aku sering mencuri, membegal dan mabok-mabokan. Hal itu aku lakukan sampai menikah dengan istriku, Lia. Lia amat benci dengan polahku yang hidup dibawah kubangan lumpur ini. Meski begitu, ia tak berani melawan aku, sebagai lelaki sekaligus pemimpin rumahtangga.

Setahun menikah, aku dikaruniai anak laki-laki yang lucu dan rajin. Ia kuberinama Budi. Anakku pandai bergaul dengan teman sebayanya. Ia bermain layang-layang, kelereng dan sepakbola di depan balai desa. Anakku tidak tahu pekerjaanku. Yang ia tahu pagi dan seingnya siang aku keluar. Kadang di terminal dan kadang pasar. Pulang kadang sore dan seingpula malamhari. Anehnya ia tidak Tanya macam-macam tentang pekerjaan ayahnya ini. Tahunya bapaknya kerja di terminal. Sekarang, aku ngontrak di rumah komplek kos-kosan para buruh real estate.

Suatu ketika sepulang kerja, menjelang maghrib hujan menghajarku. Demi sampai rumah, tentu hujan air tak aku pedulikan. Sampai depan rumah, aku melihat untuk pertama kali Alpin mengajar ngaji anak-anak lingkunganku di beranda kosnya. Ada empat anak yang melingkarinya. Tak kusangka, ia juga bisa mengaji. Padahal, sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh bangunan di real estate ujung jalan. Aku jadi salut dan terharu melihat pemandangan itu. Di beranda kost yang sempit, dan hujan ditiup angin membasahi mereka, namun tetap saja lanjut.

Tak kunyana – mungkin karena pengaruh temannya – anakku mengaji pada Alpin. Secara batin, tentu aku senang. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya ada di jalan kebenaran. Orangtua mana yang ingin anaknya bahagia, meski diriku sendiri ada dalam derajad hina. Bahkan sampai sekarang, aku masih suka menghinakan diri dengan mabok dan judi. Setelah aku berkonsultasi dengan Lia, istriku, aku menyuruh Ustadz Alpin agar mengaji di kontakanku. Kebetulan lantai dua masih kosong dan Ia menerima tawaran ini. Seperti sudah di setting sebelumnya, anakku langsung mengikuti ngaji bersama teman-temannya. Tak dinyana, lima bulan berjalan, santri membludak.

Aku masih belum berhenti mabok. Meski demikian, karena iba dengan Ustadz Alfin, seminggu sekali aku kasih dia fee sebagai ucapan terima kasih. Seperti sudah nasibku, kurasakan semenjak rumah kontrakanku dihuni anak-anak yang mengaji itu, rejekiku seakan jadi mudah. Aku diterima menjadi salahsatu pegawai jual beli mobil. Kurasakan orderku makin hari makin lancer saja, bagai air yang turun deras dari gunung. Hingga empat bulan kemudian, aku berinisiatif membuka sendiri. Akhirnya aku keluar dan usaha sendiri.

Meski akumasih ada dalam kubangan nista, terus terang aku senang pada orang yang mengaji, apalagi ini anak-anak, termasuk anakku. Hal ini mengingatkanku masa kecil di desa yang mengaji pada kyaiku dulu. Tak ayal, semua aku lengkapi. Buku-buku, papan tulis, bangku dan raport. Karena gajiku kini sudah lumayan, Alpin aku beri Rp. 300.000,- per minggu. Alhamdulillah, usahaku meningkat pesat. Mungkinkah karena amalku ini? Aku tidak tahu. Bias saja. Mungkin juga karena memang usahaku yang membuahkan hasil.

Terbebas Belenggu
Kini setahun tahun sudah berjalan. Usakahu neracanya naik dengan pesat. Aku memiliki 17 kariawan tetap dan dua tidak tetap. Kantorku memiliki gedung baru. Untuk rumah juga aku sudah bebaskan. Sebagai tempat mengaji Ustadz Alpin, sudah kubangunkan gedung madrasah tiga lokal. Kini muridnya mencapai 150 lebih dengan 7 ustadz atau ustadzah. Mereka semua “kugaji” dari kantongku sendiri. Karena dalam hati aku merasa bahwa beramal dapat memudahkan rizqi, dan memang ternyata benar, maka aku perhatikan dengan benar nasib para ustadz yang mengajar.

Aku mendapat masalah. Tiap malam dan pagi, hatiku mau copot gara-gara ankku sendiri. Anakku selalu mengajak shalat utamanya Isya dan Subuh. Padahal selama ini aku tak pernah shalat. Dulu waktu ngaji di desa mungkin iya. Tapi kini sudah banyak yang lupa. Suatu subuh, ditengah asyiknya menghindari dingin, anakku sudah bangun.
“Ayoh, pa, kita shalat sama-sama. Itu ibu sudah ambil air wudhu…”seru anakku sambil menarik-narik sarungku.
“Duluan sana, papa nanti nyusul” seruku melegakannya. Namun ini sudah yang keberapakali aku menipunya?menipu darah dagingku sendiri. Ah, persetan.
“Ayolah pa…itu kasihan ibu sudah nunggu”katanya lagi tak berputus asa.
“Sana duluan!!!”bentakku. anakkupun lari sambil nagis. Ibunya mendekapnya penuh cinta. Aku sendiri tersayat-sayat hatinya. Namun bagaimana lagi.

Sampai suatu ketika, akhirussanah menghampiri. Tasyakuran tanda telah selesainya belajar mengajar digelar secara besar-besaran. Seluruh wali murid di undang. Para pejabat dan tokoh masyarakatpun berduyun-duyun berdatangan. Ini memang sengaja dirayakan secara besar-besaran untuk pertama kalinya. Ustadz Kornet, yang terkenal di tivi itu kami datangkan. Ini strategi yang jitu untuk menyedot pengunjung dan menaikkan elektabilitas sekolahan.

Sampai pada akhirnya, aku melihat anakku, darah-dagingku sendiri maju mengenakan sarung, pakaian putih dan kopiah hitam sesuai seragam teman-temannya. Khusus untuk kelas anakku yang maju, kugeret istriku yang sedang sibuk menyiapkan minuman bersama para tetangga. Wajah anakku tampak berbinar-binar. Sebelum mulai, didepan ia melihat kedua orangtuanya menyaksikannya hasil belajar setahun ini.

Anakku bersalam di depan microfon, dijawab teman sekelasnya. Kemudian bait-bait kitab alala dilantunkan. Oh, aku melihat anakku begitu lancar dan fasih. Anakku! Benar-benar anakku!Oh, tuhan, betapa selama ini aku menyia-nyiakannya. Hatiku meledak-ledak. Aku bangga sekali melihatnya. Istriku tak kuat menahan rasa. Ia menitikan air mata bak mutiara. Segera ia mengusap dengan tangan kanannya. Hatiku dag! Dig! Dug! der! Kepalaku hampir pecah merasakan ngilu yang luar biasa. Seluruh tubuh ini terasa begitu lemas menahan bahagia dan perih jiwa sekaligus. Selesai membaca di panggung, kelas anakku disambut standing uplous dari ribuan hadirin. Aku menyambutnya dibawah panggung dan menciumnya dengan lembut. Sejak saat itu, aku belajar shalat lagi. Aku belajar dari anakku. Yah, meski masih kecil, ia bisa meneladaniku!dan membangkitkan usahaku!

[Purworejo, 28 Mei 2014]