Maaf Ibu, Saya Pilih Pak Prabowo

“Kamu, Nak, sudah pulang. Makin tampan saja setelah potong rambut.”
“Sahaya, ibu, menghaturkan sembah”
“Ibu banyak dengar, kau gembar-gembar Prabowo sebagai Capres, padahal ibumu ini orang PKB, yang seyogyanya mendukung Jokowi. Padahal yang kudengar, dia itu tokoh dibalik kasus Mei 1988 dan didukung Islam Fundamentalis. Bisa kasih alasanmu, ngger! ibumu menyimak.” kata ibuku sambil membelai rambutku di pangkuannya, seperti ketika kecil dulu.
“Ampuni sahaya, bunda. Beliau seorang pemberani, berpengetahuan memiliki visi kebangsaan yang visioner untuk memajukkan negeri sebesar ini. Negeri yang telah lama di injak-injak asing ini.” kataku dengan menunduk.
“Lalu bagaimana kasus 98 dan orang yang dibelakangnya itu?”
“Itu kasus yang dibuat-buat ibu. Beliau hanya menjadi korban dan sampai saat ini tidak terbukti, hanya menjadi komoditas politik limatahunan” aku bernafas sejenak, sambil menikmati belaiannya, “adapun orang yang dibelakangnya, saya tidak khawatir, ibu. Beliau memiliki kharisma, ketegasan dan tekad yang teguh. Apalagi dulu ketika masih sugeng, Gus Dur yang waliyullah modern itu, sudah mengatakan bahwa Prabowo adalah pemimpin yang paling ikhlas, ketika ditanya Indi Rahmawati di TVONE: siapa kira-kira pemimpin yang akan dipilih oleh rakyat. Jadi, saya yakin beliau tidak dikendalikan, tapi justeru mengendalikan yang bahkan oleh orang-orang eropa di negeri atas angin sana. Beliau negarawan ibu. Jika jadi presiden nanti, ia sudah minta maaf pada Gerindra dan PAN untuk pamit dan mengurus bangsa. Baru ini ada negarawan yang muncul, Ibu, semua sibuk atas kelompoknya, agama dan organisasinya masing-masing. Ampuni sahaya sudah lancang, ibu” jawabku panjang lebar, sambil takut pada kutukan bundaku.
“Begitu, ngger, anakku. Yasudah, tetaplah pada pendirianmu. Biarlah ibu pada pendirian ibu. Kamu justeri tidak lancang, namun memiliki prinsip. Orang hidup itu harus memiliki prinsip yang jelas, berani berpihak dan memutuskan, jangan jadi blungkon apalagi malah apatis terhadap persoalan bangsa. Jika kau begitu malah kau berdosa, kamu, ngger anakku sudah terdidik, tidak seperti ibumu yang berhenti di SD ini. Aku merestuimu, nak, mendoakanmu apapun yang terbaik untukmu”
“Terima kasih atas kebesaran hati ibu. Sahaya juga cuma membantu dan berharap, ibu. Jika capres dan cawapres adalah sopir dan kernet bus, dan timses adalah calo penumpangnya, maka sahaya hanya penumpang yang ingin cepat dan sampai pada tujuannya, dan dengan memberi arahan pada orang yang belum tahu jurusannya, ibu”
“Oh, begitu…yasudah. Hati-hati, bermain politik itu seperti bermain api, jika tidak lincah dan waspada bisa terbakar. Dari 10 orang yang kau temui, bisa jadi yang sembilan itu bohong kepadamu, ngger anakku”
“Sahaya, ibu”
“Yasudah, sekarang mandi dulu sana. Ibu sudah bikinkan air hangat dan masakkan ikan gurami kesukaanmu”
“Terima kasih, ibu”

Iklan

One thought on “Maaf Ibu, Saya Pilih Pak Prabowo

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: