Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.
Sebagaimana jamak kita ketahui bersama, bulan suci Ramadhan merupakan bulan kebaikan dan pahala. Uforia Ramadhan disambut secara meriah dan hangat mulai dari pelosok desa sampai acara-acara televisi yang glamour dan materialistik. Sebagai bulan yang penuh berkah dan ampunan, momentum Ramadhan banyak dimanfaatkan kaum muslimin Indonesia untuk berlomba meraihnya, sebanyak-banyaknya. Hal ini sesuai dengan perintah melaksanakan puasa wajib pada bulan ini seperti terekam dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 183.

Selain berdampak pada kuantitas ritual umat Islam, Ramadhan juga meningkatkan geliat ekonomi, apresiasi seni dan tradisi yang mengubah wajah Islam. Kampung-kampung yang sebelumnya sunyi menjadi hidup dengan berbagai lantunan ayat suci al-Quran. Berbagai pesantren kilat, pengajian, buka bersama dan amal shalih menghidupkan nuansa batin kemanusiaan. Bahkan, televisi yang setiap hari tayangannya mayoritas amoral, materialistik, hura-hura dan memuja kekonyolan, kini berubah drastis. Ustadz-ustadz tenar didatangkan untuk mengisi berbagai program. Iklan-iklan menggunakan momentum ramadhan untuk meningkatkan penjualan. Grup-grup musik membuat album religi bertemakan kebaikan dan tuhan. Mendadak artis dan politisi tampil berbusana sopan dan elegan. Ramadhan benar-benar merubah wajah peradaban.

Perubahan sosial musiman ini sebaiknya kita maknai positif, meski banyak juga yang memandang negatif. Positifnya jelas bahwa simbol dan perilaku agama begitu melekat di masyarakat. Seakan-akan syeitan “betul-betul” dibelenggu sehingga yang ada adalah kebaikan dan kebaikan. Meski demikian, ada juga yang sinis memandang: itu hanya sesaat dan pasca ramadhan tak ada peningkatan. Padahal, selain gelar orang yang bertaqwa, lulusnya orang yang menjalani pelatihan di bulan Ramadhan adalah peningkatan akan ketakwaan kepada tuhan. Ketaqwaan dan ketaatan kepada tuhan itu banyak yang runtuh dan bergurguran ketika usai Ramadhan. Kafe esek-esek boleh beroperasi lagi. lokalisasi dibuka kembali. Orang boleh saling menggosip dan memfitnah satu sama lain. Politisi dan pejabat kembali korupsi mengumpulkan pundi-pundi uangnya untuk pribadi.

Jika kita berpijak pada kaidah ushul fiqh: ma la yudraku kulluh la yutraku kulluh; apa yang tidak bisa dilakukan semuanya, jangan lantas ditinggalkan semuanya, tentunya adanya geliat di bulan Ramadhan menjadi suatu positif. Jika memang kita orang Indonesia belum bisa berbuat baik selama 12 bulan, sudah mending ada satu bulan Ramadhan untuk memaksimalkan kebaikan, daripada tidak sama sekali melakukan. Tentunya hal itu harus disertai dengan upaya diri untuk meningkatkan, dari waktu ke waktu, dari bulan ke bulan agar semua bulan bisa dimaknai dan diresapi seperti Ramadhan. Meski itu rasa-rasanya tidak mungkin, namum minimal selalu ada peningkatan.

Kebetulan barangkali, hajat besar masyarakat Indonesia yaitu Pilpres juga akan digelar di bulan ramadhan. tentu hal ini akan menjadi satu catatan penting dalam sejarah, mengingat peristiwa-peristiwa besar terjadi pada bulan Ramadhan. jika kita flash back pada sejarah, kita akan menemukan juga bahwa pada Ramadhan Indonesia meraih kemerdekaan. Juga pada bulan Ramadhan, nabi Muhammad membebaskan makkah (fathu makkah) dan untuk pertama kalinya Islam meraih kemenangan.Masih banyak lagi cerita Ramadhan dan kege,ilangan. Keberkahan ramadhan benar-benar diharapkan dan ditargetkan tidak hanya untuk kesalehan pribadi tetapi juga kesalehan social seseorang.

Pilpres Bersih, Awal Perubahan
Pengalaman pemilu legislatif kemarin benar-benar pengalaman kelam yang terburuk dalam sejarah pemilihan. Uang benar-benar menjadikan panglima untuk sebuah jabatan dan kehormatan. Meski demikian, banyak kalangan menganggap money politic seperti kentut, ada tapi sulit dicari dan dibuktikan, apalagi dipidanakan. Pengetahuan, kehormatan dan harga diri seseorang benar-benar hilang dimakan uang. Kini, kita benar-benar tidak tahu apa itu arti martabat, apalagi menyandangnya. Guru agama, professor, doctor, insinyur, Intelektual benar-benar kalah telak dengan makluk yang namanya uang. Orang kini lebih percaya kepada uang daripada ilmu dan kearifan yang dicari mereka selama bertahun-tahun dalam “pertapaan”.

Jika uang masih akan menjadi panglima perang di Pilpres 09 Juli 2014 nanti, harapan perubahan dan berbaikan nasib tentu hanya akan menjadi Impian. Jika memang masyarakat sudah cerdas dan memiliki kemauan untuk bangkit dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan tentunya akan lebih mendukung capres dan cawapres yang tidak mengutamakan uang sebagai senjata perang pemilihan. Pilpres yang bersih benar-benar menjadi harapan agar masa depan Indonesia semakin cemerlang. Untuk itu, hendaknya kita semua lebih memilih nasib bangsa lima tahun kedepan dibanding serangan fajar uang yang dalam hokum dilarang. Semoga tim sukses masing-masing capres dan cawapres Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla bisa menahan diri untuk menjunjung tinggi proses pemilihan dengan tidak melakukan politik uang.

Apabila momentum Ramadhan benar-benar membawa perubahan positif bagi masyarakat khususnya Islam, tentu takkan ada politik uang dalam pemilihan. Akan sangat naif dan mencederai etika pribadi maupun social jika pada pagi harinya menjual suara dan sore harinya berbuka puasa dengan uang hasil suara. Lantunan tadarrus di malam Ramadhan juga setidaknya akan mengiris hati para politisi maupun rakyat untuk melakukan money politik yang akan dapat mencederai sucinya bulan. Bulan ini akan menjadi momentum perlawanan yang benar-benar berkecamuk baik ditataran pribadi maupun berbagai struktural partai untuk dapat berlaku bersih dan jujur, minimal untuk menghormati adanya bulan Ramadhan. Akankan rakyat dan politisi berhasil? atau justru malah akan meludahi kesucian ramadhan? Sabar, 09 Juli 2014 akan memberi kita jawaban.

Sekretariat PW IPNU Jateng – Semarang, 14 Juni 2014