Di kontrakan kami memiliki dua bak mandi: satu didalam dan satu diluar. Nah, yang diluar ini ukurannya cukup besar, sekitar 2×2 meter. Sejak tahun 2010, bak mandi ini diisi lima ekor ikan mas. Itu artinya, ikan itu sudah menemani kami selama empat tahun. Kini, ikan-ikan itu telah berubah jadi ikan yang dewasa, tak kekanak-kanakan lagi. Tak lucu dan imut seperti dulu. Dagingnya yang tebal menegaskan bahwa ikan-ikan itu sudah cukup baligh untuk dimasak.

Sekian tahun hidup bersama dengan ikan, meski beda tempat, kami rukun dan tak pernah ribut. Seisi kontrakan menganggap ikan-ikan itu sebagai saudara dan sesama makhluk tuhan yang harus saling membantu. Tanpa di instruksi, seisi kotrakan memberi makan ikan-ikan itu. Pada awalnya, kami membelikan makanan khusus kepadanya. Namun kini, semenjak ia dewasa, cukuplah sisa nasi yang kami makan. Alhamdulillah, mereka tetap sehat wal afiat dan tak pernah kami larikan ke dokter hewan.

Kini, setelah empat tahun bersama, kami sesisi kontrakan sudah ada tautan hati kepada mereka. Kami seakan tak mau menggoreng atau memasaknya untuk kemudian dimasak. Kepikiran pun tidak. Ikan-ikan itu sudah mengiringi suka dan duka kita dalam menjalani kehidupan. Ia sudah menjadi bagian dari keluarga besar kita, keluarga besar Rumah Sibak, sebutan untuk keluarga kami. Ia akan terus kami pelihara dengan penuh cinta dan kasih sayang, sampai entah kapan.