Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada teman se-kontrakan, sebut saja namanya SH. Ia anak ragil yang umurnya lebih muda dari saya, junior saya juga di sebuah organisasi kepemudaan. Gelagatnya aneh, tak seperti dahulu-dahulu. Setelah saya usut, mahasiswa dan pengusaha muda 24 tahun ini ternyata sedang jatuh cinta. Alamak! Indah benar jiwanya, berkobar dan menyala-nyala bak intan permata.

Namun permata itu seakan tertutup lumpur. Betapa tidak?ia membiarkan dadanya bersemayam bara cinta semenjak 2010 lalu, empat tahun membelenggu. Kasihan akan nasibnya, saya bersama Anjar Duta mengajaknya ke sebuah tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Kobaran cintanya belum mampu menggerakkan lidahnya, itu persoalan utamanya. Sungguh suatu perjuangan yang berat dan menyesakkan dada.

Lalu saya kuatkan hatinya, perbesar mentalnya untuk dapat mengucap tiga kata “I Luv U” pada pujaannya. Saya katakan juga padanya, bahwa cinta itu seperti politik, hitungannya detik. Jangan sampai terlambat mengatakan barang semenit, akibatnya bisa fatal. Perlahan akhirnya dia mulai muncul sisi kejantanannya. Saya hanya menargetkan ia berani mengungkapkan cintanya; supaya kerinduan dan api cinta yang meledak-ledak di dadanya terucap dan lega. Duta juga memberi banyak saran yang berharga padanya, pada lelaki yang hidup seperempat abad di dunia. Meluaplah mimpinya dan asanya.

Akhirnya, dua hari kemudian, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan cintanya. Karena target kini masih tinggal di Bogor, ia me-rental mobil untuk lima hari. Bersama tiga temannya ia diantarkan menjemput cinta di kota yang memiliki istana kepresidenan dengan ribuan kijang itu.

Sementara saya menunggu di kontrakan dengan harap- harap cemas. Oh iya, karena SH seorang yang pemalu, saya membuat kontrak cinta: “Jika SH sesudah sampai Bogor tidak berani mengungkapkan cintanya, ia akan saya tampar sekuat tenaga”. Itu kami sepakati bersama. Tujuan saya bukan untuk bermain atau apa, semata agar di berani menyatakan cintanya. Agar setelah sampai di Bogor tidak hanya saling sapa. Agar penantiannya selama empat tahun mendapatkan jawabnnya. Agar bara api cinta di dadanya, tak ia pendam selamanya. Minimal terungkapkan. Soal diterima atau tidak, itu urusan belakangan, toh masih banyak wanita yang menunggu pinangan.

Lima hari saya dikontrakan dalam penantian, akhirnya ia datang juga bersama rombongan. Mukanya datar, senang tidak susah tidak. Setelah saya dudukkan, ia baru menyatakan: bahwa cintanya tidak ditolak tetapi juga tidak (atau belum)diterima. Katanya masih ingin belajar dan berkelana mencari pengalaman dunia. Mendengar itu, saya agak bangga, minimal SH telah mengungkapkannya. Selanjutnya, ia juga mengaku lega berhasil mengeluarkan bara cinta di dadanya. Namun, karena peluang 50:50, ia jadi dinamis sikapnya: kadang murung kadang bahagia.

Kini, SH setiap hari belajar bermain gitar sekaligus menyanyikannya. Meski mendengar suaranya bikin perut mual, saya menghargai usahanya. Mungkin ia sedang menikmati kegantungan cintanya, atau memanifestasikan perasaannya. Saya dan teman membiarkannya, menghiburnya dan sesekali mengejeknya. Jika saya, Duta dan teman-teman lain berkumpul menyanyi ia tak segan request lagu kesukaannya. Lagu-lagu yang dipesan kebanyakan bernada kegagalan cinta dan bagaimana menjadi pejantan tangguh.

Terlepas beberapa hari ini kedepan ia akan tahu jawabannya, ditolak atau diterima, saya menghargai perjuangannya: merindukan, memendam rasa, berbagi cerita, menghadiahi aneka dan menuntutnya dalam jarak yang jauh adanya. Ia terlihat meningkat kedewasaannya, setia pada tanggungjawabnya dan memperjuangkan cita-cintanya.

Meski dari luar terlihat ia menderita karena cintanya, tapi saya yakin ia justeru menikmatinya. Meski terlihat sengsara, tapi ia sedang menikmati nikmat dan anugerah tuhan bernama cinta. Jarak yang jauh akan senantiasa dekat dalam hati. Raga yang jauh serasa memeluk selama masih dihangati satu mentari. Cintanya telah membawa alam ruhaninya terbang jauh ke syurga, meninggalkan fisik dan kesedihan duniawiahnya.

Terakhir sekali, saya menulis ini karena saya mendapat pelajaran dari kisah cintanya. Ada tuhan, perjuangan, cinta dan kehidupan didalamnya. Saya sudah senang ia berhasil mengungkapkan perasaan terdalamnya. Semoga saja, beberapa hari kedepan, ia mendapatkan jawaban yang terbaik untuknya. Jawaban seorang anak manusia yang akan memberi warna dan romantika dalam hidupnya; entah DITOLAK atau DITERIMA!

SELAMAT BERPUASA…!!!

Purworejo, 17 Juli 2014