Ramadhan Hitam

Ramadhan ini hati temaram
Hitam kering kerontang
Ayat-ayat tuhan tak lagi mistis
Yang didesa dulu amat romantis
Mesin dan modernitas mengubur semuanya
Mati entah dimana
Alunan waktu kecil memanggil
Menyertai sayup teplok yang menggigil
Pakailah sarung dan pecimu, Nak
Jangan lupa tadarrus, kata ibu semarak
Iringan oncor membangkitkan imanku
Pecah dalam malam beku
Hilang kini semua hilang
Musik dan lirik semakin menarik
Me-nash ayat tuhan yang penuh aromatik
Dunia online memenangi pertarungan licik
Oh ramadahan…
Mengapa kini tak menarik
Penuh intrik dan munafik
Memuja pimpinan jadi nabi picik
Aku lumpuh penuh peluh
Menggesa hendak berlabuh…
Sendiri sunyi
Ditengah manusia berlari
Mengejar apa saja yang materi
Diujungnya merobek hati

16 Juli 2014
Batal SukaBatal Suka ·

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: