Shalat Yang Merugi

“Jangan bangga, Nak, bahwa kamu sudah melakukan sembahyang”
“Iya, Ki. Sahaya tidak tahu apakah shalat saya diterima atau tidak? Itu sudah monopoli tuhan”
“Betul, Ngger, Anakku. Banyak orang shalat, tapi tidak mengerti substansi shalat itu sendiri, ia justeru celaka”
“Memangnya apa itu, Ki, substansi sembahyang atau shalat dalam agama kita?”
“Shalat itu berdoa, memohon, menghamba, Ngger, Anakku. Selain menyerahkan dirimu sepenuhnya untuk tuhan, kau juga harus mau menolong. Ironis jika kamu selalu berdoa, meminta, dan memohon pertolongan, tapi kamu tidak menolong orang yang butuh disekitarmu; tidak memberi makan orang lapar diantara kamu; tidak menghibur orang sedih disekelilingmu; tidak membantu kesulitan orang yang meenjerit didepanmu. Bantulah mereka semampumu!”
“Sahaya, Ki. Mohon bimbingan dan doanya”
“Iya, Nak. Doaku menyertaimu. Jika kau mau meresapi dan mengamalkan itu, Insya Allah, hidupnu akan difasilitasi dan diberi akses kemudahan”
“Amin. Terima kasih, Ki. Mohon undur diri”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: