Tempe. Iya, tempe. Siapapun orang Indonesia pasti kenal dengan makanan yang satu ini, kecuali orang pedalaman yang terisolir hidupnya. Bagi saya, tempe itu makanan favorit, utamanya tempe goreng telanjang; yaitu tempe goreng yang tak dibungkus tepung. Saya tidak tahu kapan peradaban tempe ditemukan. Namun, yang jelas, sejak kecil saya sudah dijejali makanan itu oleh ibu. Ibulah yang mengenalkan makanan itu pada saya, bersamaan dengan mengajari banyak hal tentang kehidupan.

Bagi sebagian orang, tempe mungkin makanan kelas dua atau makanan orang pinggiran. Oleh karena lidah mereka sudah mengenal peradaban pizza, spaghetti atau makanan modern lainnya. Namun, bagi saya, meski sudah menjajal aneka makanan kelas satu di berbagai hotel dan restoran mahal, tempe tetaplah menempati porsi tersendiri dihati. Sekian lama saya bersetia memakan tempe, tak pernah merasa bosan. Selalu menghadirkan kejutan-kejutan rasa yang selalu menggoda untuk melahapnya.

Selain itu, tempe memiliki rasa yang dinamis. Ia bisa dimasak dengan berbagai macam olahan: mulai digoreng, dioseng, disayur bahkan dibuat sate tempe. Namun dari sekian banyak orang ber-eksperimen mengeksplorasi rasa tempe dan menghadirkannya dalam sajian, tempe goreng telanjanglah yang paling saya suka. Bagaimana cara membuatnya? Cukup mudah. Tempe tinggal digoreng dan diberi bumbu hasil tumbukan bawang putih, garam dan air. Uih, jika disajikan dengan sambal dan nasi panas, sungguh tiada rasa yang menandinginya kecuali malam pertama.

Berkaca dari rasa tempe diatas, saya merefleksikan apa itu kenikmatan. Jika tidak tercampur unsur nafsu, gengsi dan kelas sosial, nikmat itu ternyata sederhana. Teramat sangat sederhana, tinggal bagaimana orang itu merasakan dan mensyukurinya. Bersamaan dengan itu pula, meminjam istilah Pram, hidup ini ternyata memang sederhana, hanya tafsiran-tafsirannya saja yang luar biasa. Dari tempe saya belajar bagaimana menjadi orang yang dinamis dan adaptasi dengan lingkungan bumbu yang ada. Selain itu, kesederhanaan tempe yang menyatu dan akrab dengan lidah rakyat kecil mengajari saya untuk senantiasa hidup sederhana dan bersahaja.