Energi Musik

Reportase “Wolulasan” Jamaah Maiyah Purworejo, Pertemuan Ke-47, 30 September 2014, Durasi – 21.00 s.d. 04.00 WIB, Koordinator Alfin Zidni, S. Pd.I., Moderator Lukman Khakim | Reporter Ahmad Naufa Kh. F.

Part 1. (Kronologis)
Peserta berdatangan Jalan Sibak No 18 Pangenjurutengah Purworejo. Mereka terdiri dari peserta lama dan beberapa baru dari klub musik Purworejo. Hadir juga dua tokoh Purworejo yaitu R. Muhammad Abdullah (Mantan Pimpinan DPRD Purworejo) dan Nur Kholiq, S.Sos., M.Fil. (wartawan Suara Merdeka). Selain diskusi, malam itu spesial karena ada soft launching “ipnuband” yang diinisiasi oleh Departemen Seni dan Budaya PC IPNU Purworejo.

Acara dimulai pukul 20.30 WIB diawali dengan tadarrus membaca Al-Quran oleh sekitar 25 peserta mengelilingi gunungan nasi tumpeng. Kemudian Cak Luk membuka dengan Al-Fatihah 7x dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia kemudian bercerita manfaat fatihah dari pengalaman pribadi. Saat duduk di bangku SMA, matematika-nya buruk. Kemudian ia sowan kepada Mbah Mad Watucongol Magelang untuk minta ijazah doa. Dikasihnya ijazah untuk membaca Fatihah sebanyak 77x usai shalat maktubah. Akhirnya ujian berhasil ia lewati dengan nilai yang sempurna. Lulus.

Kemudian, seperti biasa, membaca “mars” maiyah: Chasbunnallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wa ni’man nashir dipimpin oleh Anjar Duta. Lalu fatihah dilantunkan untuk ditransfer pahalanya kepada para pejuang Indonesia. Selanjutnya, satu per-satu peserta memperkenalkan diri, karena banyak peserta baru dari komunitas musik.

Untuk ngangsu kaweruh dari para senior, Cak Luk mempersilakan yang sepuh dulu untuk memberi testimony kaitannya dengan music. Mengapa orang tua dulu yang disuruh bicara? Orang tua merupakan orang yang sudah mapan dan teruji ditengah masyarakat, kata Cak Luk. Kemudian ia mengutip pendapat seniornya, “Jangan percaya pada omongan pemuda idealis yang belum pernah merasakan kerasnya kehidupan”.

Mas Kholiq mengawali. Ia merasa senang karena dapat “ngobrol” dengan anak-anak muda. Di Purworejo ini menjadi merasa punya keluarga, karena asalnya Jepara. Demikian pula istrinya. Hanya anaknya yang asli kelahiran Purworejo. Ia mengaku termasuk orang yang percaya pada proses, bukan pada hasil. Kemudian ia bercerita semasa muda, menjadi mahasiswa di Jogjakarta dengan keadaan berjuang: pernah kelaparan di kost-kosan dan berjualan buku, kaos dan lain-lain untuk menyambung hidup.

Semasa menjadi mahasiswa, Mas Kholiq juga mengaku pengembara dari organisasi satu ke organisasi lain. Di SMA ia pernah menjadi anggota IPNU. Begitu kuliah, masuk IMM, HMI, Kammi dll. Sampai ia pernah di karantina selama satu bulan disekap di ruang hanya untuk membaca, ketika keluar disamput bak pejuang yang baru pulang dari medan perang. Namun akhirnya,karena karena kurang sreg ia keluar dan berlabuh di PMII.

Kemudian, ia juga berbagi pengalaman ketika kuliah dengan tempo waktu yang lama. Kebetulan waktu itu masih bekerja di Surat Kabar Harian Bernas. Ia liput dosennya sendiri di Koran setelah itu di sodorkan. Semenjak itu, nilainya bagus dan kuliah jadi cepat beres.

Setelah Mas Kholiq giliran Pak Abdullah memberi sambutan. Setelah SD, ia mengaku masuk di pesantren. Ada salah satu teman yang suka banget dengan Nike Ardilla sampai punya koleksi foto dan albumnya. Pak Abdullah mengaku suka dengan lagu-lagu Nike Ardilla karena teman kamar se-pesantrennya. Sampai ketika Nike Ardilla pernah tampil di Purworejo (pernah tiga kali kesini-red) salah satunya Pak Abdullah pernah sekamar bertiga dengan Nike dan Ibunya di Hotel ketika itu.

Mengenai masa muda, Pak Abdullah mengaku memiliki pengalaman yang agak pahit, namun itulah perjalanan hidup. Ketika masih di pesantren, salah satu orang tuanya meninggal dunia. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari pesantren dan hidup di jalan. Segala macam pekerjaan telah banyak dilakoni, seperti: jualan bakso, menjadi kernet angkutan, penjual karcis terminal dll. Semua perjalanan itu memberi makna karena ia selalu belajar dari berbagai hal sampai kini menjadi salah satu ketua DPC partai dan pernah menjadi wakil ketua DPRD Kabupaten Purworejo.

Satu nomor Nike Ardilla dengan Bintang Kehidupan dari IPNU Band memanaskan suasana malam itu. Aneka rokok, gorengan dan minuman pun tersaji hasil dari bantingan teman-teman Maiyah. Setelah nyanyi, Anjar Duta diminta menyampaikan sedikit hal tentang musik perspektif pelaku. Menurut Anjar, musik berperan dalam menyelesaikan problem kehidupan. Bahkan dalam konteks kepemimpinan, menurut Anjar, memiliki dua kecenderungan yaitu: Intelektual atau seniman. Hal ini karena seniman lebih sering mendengar, melihat dan merasakan. Mereka terbiasa menemani dan setia terhadap rakyat.

Cak Luk menambahkan, music sama dengan kehidupan: ada intro, fals dan nada tinggi rendah. Lalu selaku moderator, ia ingin Mas Kholiq membedah musik dengan landasan epistemologi.

Mas Kholiq kemudian bercerita fenomena musik. Hari ini, anak-anak yang lahir pasca kematian Nike Ardila masih bisa menyanyikannya. Menurutnya, musik adalah bahasa universal yang dapat menyatukan berbagai entitas dalam kehidupan ini. Salah satu peran music dalam dunia politik, misalnya, dapat membangkitkan, meneduhkan dan menyatukan. Mas Kholiq percaya, bahwa kemenangan Jokowi di Pilpres kemarin tak lepas dari kontribusi musik yang masuk dan mewarnai. Music sendiri dapat diinternalisasikan dalam berbagai bidang dalam dunia ini: politik, ekonomi dan social.

Cak Luk kemudian memberikan statement bahwa musik dapat mempengaruhi dan merubah psikologi manusia. Pak Abdullah juga menambahkan, bahwa reformasi yang terjadi pada 1998 adalah juga peran musisi yang mampu menghasilkan musik karena gesekan keadaan. Pada sisi tertentu, Dewi dari Rezpector berpendapat bahwa music menjadi alat pemersatu bangsa. Ia mencontohkan lagu Indonesia raya yang menyatukan masyarakat Indonesia dari sabang sampai Merauke.

Anis Fahmi mengemukakan peran music dalam supporter sepak bola. Music dapat mengatur irama gerakan, membangkitkan adrenalin dan mempengaruhi kemenangan tim. Jadi, dalam sepak bola musik juga berperan besar dalam kemenangan sebuah tim.

Anjar Duta memberi batasan tentang musik. Apakah music itu sebuah sarana atau tujuan? Disini harus diperjelas paramenternya. Menurut Anjar Duta sendiri, music bukanlah tujuan, melainkan cara atau sarana. Meski sarana itu kadang bagi sebagian orang khususnya musisi sudah mendarah daging menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup. Namun pada ranah yang lebih fundamental, musik sebenarnya bukanlah tujuan melainkan sarana.

Penulis muda Purworejo, Sidik, ikut berkomentar. Menurutnya, orang yang bermain musik atau bisa bermain music menjadikan aura dan daya pikatnya terbuka. Selain itu, musik menjadikan orang yang memainkannya dapat berdikari secara ekonomi. Meski demikian, kaitannya dengan music, sastra atau secara umum seni dan budaya masih di anaktirikan dalam Negara utamanya di kurikulum pendidikan yang relative melihat seni bukanlah sesuatu yang urgen.

Kemudian Cak Luk menanyakan kepada salah seorang santri, Hidayatullah atau Mbah Doyok, kaitannya music di pesantren. Menurut Doyok, di pesantren sendiri, berdasarkan pengamatan empirisnya, ada dua hal pesantren memakainya. Pertama, untuk mempermudah hafalan. Bait-bait nadzaman kitab-kitab dalam pesantren biasanya dilantunkan menggunakan lagu dan nada meski dengan alat music seadanya. Menurutnya, dengan iringan musik yang menyertai, nadzaman yang jumlahnya ada yang mencapai ribuan bait bisa dengan mudah dihafalkan.

Kedua, music dalam pesantren sendiri dalam khazanah keilmuan menjadi pembeda. Contohnya adalah dalam ilmu shorof dimana dengan alat bantu music bisa tahu fiil – fail – maf’ul sampai wazan-wazannya. Perpindahan kata antara benda, kerja, objek, subjek sampai fungsi bisa diidentifikasi melalui alunan musik yang indah dan meliuk-liuk.

Kemudian Naufa menambahkan bahwa dalam dimensi kehidupan ini, seperti kata Cak Nun, ada tiga: benar dan salah, baik dan buruk, indah dan tidak indah. Nah, dalam mengajarkan pelbagai pengetahuan, pesantren ternyata tidak hanya menggarap aspek benar dan salah ataupun baik dan buruk. Pesantren juga menggunakan keindahan sebagai sarana untuk mempermudah, mengasah kepekaan dan mengaktualisasi daya tarik. Hal ini sebenarnya juga dilakukan pengajaran dalam Hindu – Budha dimana dalam mengajarkan, sang guru menggunakan syair untuk mentransformasi ilmu juga kebijaksanaan.

Bicara musik modern dalam pesantren, Alfin pernah memiliki pengalaman kelam, dimana pesantren yang ia singgahi melarang music. Ia tak pernah melihat televise maupun radio. Bahkan, pernah ada yang ketahuan membawa radio dibanting hingga menjadi berkeping-keping. Praktis, selama empat tahun ia merasa terasing: hidup di dunia tanpa musik.

Kemudian Cak Luk menutup diskusi sesi satu ini dengan potong tumpeng sebagai peresmian IPNU Band oleh Pak Abdullah. Setelah porong tumpeng, Dika, salah satu pentolan “IPNU Band” Purworejo jumpa pers terkait band yang sedang diresmikan. Ia mengatakan bahwa IPNU Band Purworejo ini merupakan wadah untuk kader-kader yang memiliki minat di bidang seni dan budaya khususnya music. Ia juga bertekad memajukan IPNU Band agar bisa menjadi sarana penghibur, penghubung, maupun pemberdayaan potensi kader. Ia berharap support dari berbagai pihak agar bisa membawa progress kedepannya. Makan tumpeng bersama mengakhiri diskusi sesi pertama ini pada pukul 00.00. WIB.

Part 2 (Diskusi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: