Pergeseran Nalar Politik

Melihat perkembangan suhu politik yang relatif memanas dewasa ini, sebenarnya adalah hal yang sangat wajar. Jika melihat sejarah, antara kebenaran vs kesalahan, kebaikan vs keburukan, kebajikan vs kemungkaran dan pro-pemerintah/ penguasa vs oposisi selalu mewarnai kehidupan di bumi ini.

Meski memanas, etika-politik dewasa ini tentulah ada peningkatan dibanding masa lampau, semenjak Aristoteles menguraikan kesatuan antara etika dan politik.

Dari bentuk aristokrasi, monarki oligarki, perebutan kekuasaan selalu memakan korban yang tak sedikit. Untuk mencapai kekuasaan, pembunuhah menjadi suatu nalar wajar untuk mendominasi suatu kelompok atas lainnya. Pun demikian sebenarnya dengan demokrasi khususnya di Indonesia. Semenjak 1945 berdiri republik ini, gesekan dan konflik horisontal selalu memakan korban nyawa yang tak sedikit.

Angin segar reformasi pada 1998 memberi ruang baru untuk berperang secara pemikiran. Meski memakan korban nyawa, namun polemik dan adu argumen tetap mendominasi sebagai bentuk dari ideologi yang masing-masing diperjuangkan oleh kelompok masyatakat.
Kini, ruang demokrasi semakin lebar. Masyarakat mulai belajar bagaimana menentukan arah masa depannya meski sebagian masih luluh karena uang atau terkendalikan karena oligarki media yang sedang trend dan pesat.

Kini setiap orang bebas bicara, memfitnah dan membully siapapun yang tak disukainya mulai dari pelanggan bensin sampai presiden. Bunuh-bunuhan fisik kini telah beralih trend menjadi bunuh-bunuhan karakter untuk saling mendominasi dan menghegemoni satu kelompok atas lainnya.

Jika demikian keadaannya, satu hal yang harus hadir sebagai kontrol sosial diluar poros itu semua yaitu kekuatan civil sosiety seperti ormas dan LSM. Keduanya perlu melakukan revitalisasi, evaluasi untuk tidak ikut memperkeruh suasana, namun turut andil dalam pencerahan masyarakat.

Jika hari ini ada pro-pemerintah di parlemen yaitu KIH dan KMP sebagai kekuatan oposisi yang saling berebut dominasi, maka kekuatan civil sosiety-lah yang harus tampil sebagai kekuatan penengah untuk memoderasi keduanya agar selalu dalam domain dan tracknya. Jika civil sosiety justru berlindung dibalik ketiak salahsatunya atau menjadi penonton setia, bisa jadi karut-marut perpolitikan kita akan membusuk dan berpotensi memecahbelah persatuan bangsa.

Di momentum Sumpah Pemuda ini, segenap civil sosiety hendaknya berbenahdiri menata arahgerah dan merevitalisasi diri agar semakin memperkuat keutuhan bangsa. Pembaharuan selalu dibutuhkan, mengingat kebutuhan dan tantangan berbeda dan bahkan lebih mengerikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: