Hari Guru Nasional

Memperingati hari Guru ini, aku ingin menulis cerita tentang salah seorang guruku waktu sekolah dulu. Sebut saja guru ini bernama JM. Ia mengajar mata pelajaran english conversation di sekolah kami. Rumahnya jauh dari sekolah sekitar 15 km dan ia menempuh itu dengan motor buntut tua. Rambutnya tak pernah rapi, pun baju dan sepatunya. Kadang malah kulihat bajunya kena jamur dan lusuh.

Sebagai remaja, aku dan teman-teman tak mempedulikan itu. Justeru kami kadang “mengecam” beliau karena sering absen tanpa tugas yang jelas. Disisi lain, sebagai pelajar normal kami bahagia karena jam kosong bisa dimanfaatkan untuk gedobrakan meja nyanyi-nyanyi atau ada yang iseng lempar-lemparan kertas surat antara cowo dan cewe. Hingga kami agak marah karena jam kosong hampir pasti di jam pak JM ini.

Lama tak masuk mengajar, tersiar kabar bahwa pak JM sedang sakit. Mendengar hal itu, aku selaku ketua kelas waktu itu bersama tokoh-tokoh kelas yaitu Agus Candra Hidayat dan Muh Imron Rosyadi ingin menjenguknya. Anggota kelas kami umumkan untuk menyumbang seikhlasnya. Hasilnya cukup fantastis waktu itu. Akhirnya, bermodal pinjaman motor kami bertiga meluncur mencari rumah sang guru.

Hujan rintik agak menemani perjalanan kami. Bekal alamat dari sekolah kami tambahi dengan tanya pada penduduk sekitar. Akhirnya, sampailah kami dialamat yang dituju.

Kami bertiga berdiri di depan rumahnya sambil menghela nafas panjang. Semenjak melihat rumah itu, aku merasa bersalah selama ini, banyak mengecam beliau dan egois ingin diajar tanpa tahu keadaannya.
Rumah bambu (Jawa: gedhek) tua berukuran kurang-lebih 4×6 m itu sungguh menggetarkan hati kami. Disamping rumahnya kulihat motor buntutnya didiamkan terkena percikan hujan. Setelah agak tenang, kamipun mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum”
“Uhuk-uhuk…..Wa’alaikum….salam”jawabnya sambil batuk-batuk.
“Ehhh…anak-anak, mari silakan masuk…!”
Kami bersalaman cium tangan dan perlahan memasuki rumah kecil itu. Kulihat dalamnya agak berantakan. Isterinya dengan anak-anaknya yang masih kecil bermain mainan ala anak-anak desa, dari bambu atau kayu. Mungkin anak-anak ini tak kenal yang namanya PS atau mainan modern lainnya.
“Maaf, rumahnya agak berantakan”
“Oh, ndak papa, pak, sama saja kok!”

Kamipun menanyakan kesehatannya. Aku curiga pak JM kesulitan membiayai periksa dokter dan obatnya. Apalagi aku tahu, bahwa gaji guru honorer waktu itu sungguh sangat kecil. Untuk beli bensin ngajar saja belum tentu cukup.
“Dirumah saya sambil jualan sayur, mas. Maklum, kalau ngandalin gaji guru anak-isteri saya mau makan apa?” Katanya membuka obrolan.

“Oh, iya, pak” jawab kami singkat waktu itu. Maklum, kami masih pelajar dan masih minta upeti ortu, belum tahu susahnya mencari uang dan kerasnya kehidupan. Lalu kami ngobrol ngalor ngidul tak tahu ujungnya. Ia nampak bahagia murid-muridnya perhatian dan mau berkunjung ke rumahnya.
Setelah lama ngobrol, kami dipersilakan untuk makan. Awalnya kami tolak karena sudah beli mie ayam di jalan, namun karena dipaksa ya kami terima.

Di meja makan itu kulihat empat piring serta sendok bertumpuk mesra. Sebelahnya hanya ada nasi di wadah berkat kecil serta teko berisi air putih. Nasi itu adalah hasil dari berkat atau tetangga yang sedang hajatan, tuduhku dalam hati. Aku sebenarnya tak kuasa memakan, tapi karena dalam tradisi Jawa menyuguh tamu adalah suatu kehormatan, meski sedikit kami makan. Usai makan kami menyampaikan pesan dan doa dari kawan-kawan kelas, lalu memberikan titipan uang hasil ngamen di kelas. Setelahnya kami pamit dan pulang.

Semenjak itu, saya belajar memaknai kehidupan. Bahwa melihat orang itu harus utuh atas segala aspek, kondisi dan lingkungan yang melatarinya. Bahwa nasib guru memang belum sejahtera sepenuhnya. Bahwa hidup memang keras adanya. Bahwa menilai, menyalahkan orang hanya dari perilaku luar itu salah besar adanya.

Dengan ilmunya, pak JM telah mengajariku komunikasi bahasa Internasional. Meski secara tenses saya belepotan, namun corversation “agak” mendingan. Minimal jika ada turis saya berani bertanya, ngobrol dan tidak menganggapnya sebagai artis atau idola yang layak diajak foto bersama.

Nasib guru seperti pak JM ini, sepertinya masih banyak di negeri ini. Ghosob istilah Iwan Fals, guru yang mencetak profesor, insinyur, bahkan otak seperti otak Habibi, tapi mengapa gaji guru dikebiri. Jika jadi guru jujur berbakti harus rela makan ati. Semoga di pemerintahan yang baru ini, nasib dan kesejahteraan guru semakin dimengerti. Utamanya guru wiyata, honorer dan para ustadz di madrasah dan pesantren.

Di hari guru ini, saya ingin berterima kasih kepada guru-guruku, yang sudah mengajariku dari kecil sampai sebesar ini. Tak ada dikotomi, baik kyai, guru ngaji, guru sekolah, dosen, teman atau siapapun yang diam-diam juga saya curi dan belajar ilmun darinya. Terima kasih untuk semua, semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan. Amin.
Selamat Hari Guru….!!!

Purworejo, 25 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: