Saat pulang dari Alun-alun kota pkl 23.30 malam tadi, dijalan kulihat kakek-kakek renta yang masih jualan sapu, sulak dan kipas. Dengan nafas terengah ia berjalan sambil menyunggi dagangan di pundaknya, ditengah ingar bingar kota dan pasangan muda-mudi yang mengadu mesra.

Kuhentikan sementara perjalanan. Oh, alamak, dompetku ketinggalan! Kuraba saku kanan, ternyata hanya berisi uang 16.000. Sedang yang kiri berisi uang 50.000, yang memang lama kujaga sebagai ‘jimat’, tak akan kubelanjakan karena dikasih langsung oleh kyaiku, guru besarku. “Ah, mungkin 16.000 cukup untuk sekadar membeli sapu itu, untuk sekadar berbagi rizqi yang dititipkan tuhan” gumamku dalam hati.

Ku kembali.
“Kek, berapa harga sapunya?” tanyaku sambil melihat bungkuk punggungnya dimakan tua. Kubayangkan jika kakek tua itu adalah nasibku dihari tua kelak.
“25.000, Dik” jawabnya lirih sambil meletakkan dagangannya.
Duh Gusti! Kurang ini uang 16.000-ku. Kutanya yang lain. “Kalau sulaknya berapa, Kek?”
“Sama, Dik, 25.000” katanya sambil memilah-milah dengan jari-jemari, sesekali menyeka keringatnya.

Hatiku tergetar. Ah, kukeluarkan saja uang 50.000-ku. Nggak jimat-jimatan.
“Sapunya saja, Kek, satu” pintaku sambil mengambil sapu dan menyodorkan uang.
“Iya, dik” jawabnya diikuti merogoh saku menghitung kembalian. Agak lama ia menghitung receh-receh uang. Ia pergi mendekat di bawah lampu jalanan. Kudiamkan, kuberi kesempatan. Mungkin matanya terlalu lelah dimakan usia, tuk menghitung angka-angka.

Lalu ia datang.
“Ini, Dik” katanya sambil memberi kembalian.
“Kakek rumahnya mana?”
“Saya dari Kec. Bener, Purworejo, Dik”
“Jualnya kok sampe malam gini, Kek?”
“Iya, Dik. Saya menginap di dekat Markas Kodim sini, ini sekalian mau kesana”jawabnya dengan suara terbata.
“Oh ya, Kek, semoga dagangannya laris manis. Saya permisi, Kek…”
“Amin…hati-hati, Dik, dijalan…” pungkasnya dengan tatapan dan senyum penuh keteduhan.