Tulisan Ini merupakan hasil gendu roso anak-anak basecamp PC IPNU Purworejo yang sayup-sayup saya dengar dan catat..


Sekolah itu ibarat bengkel: mendandani anak yang rusak, turun mesin baik dari segi akhlak, kognitif, afektif dan psikomotorik. Tak pilih-pilih pasien dan mengutamakan yang amoral, rusak untuk kemudian diminimalisir kekurangannya.
Namun yang terjadi hari ini: diseleksi, diambil yang pintar dan santun saja. Diluar itu, tak bisa masuk ke sekolah yang bonafide. Paling-paling dibuang ke sekolah swasta yang hampir ambruk karena bebas jam masuknya.

Bahkan, jika ada siswa yang amoral dalam prosesnya, akan dipecat jadi siswa dan dipulangkan kepada orangtuanya. Bukan malah sebaliknya: mengedukasi supaya lebih baik. Padahal, tugas sekolah mengedukasi siswa adalah amanat undang-undang. Sebagai instrumen negara, lembaga pendidikan idealnya harus siap menerima kelebihan siswa sekaligus kekurangannya.

Jadi, sebenarnya, yang favorit itu justeru sekolah swasta yang kini tidak dianggap prestis itu. Oleh karena, tingkat kerusakannya lebih parah dan guru-guru disana setia menemani proses pembelajaran. Bahkan, ada sekolah yang mau menerima siswa-siswa buangan karena hamil diluar nikah lalu dikeluarkan.

Seorang guru swasta pernah bercerita, bahwa tugasnya begitu berat karena menangani siswa-siswi yang turun mesin. “Kalau sekolah yang pakai seleksi dan siswanya nurut bak robot itu gampang pengorganisirannya. Proses transfer ilmu juga relatif mudah, beda dengan mereka yang punya jiwa pemberontak, amoral dan lemah-logikanya.”

Dengan demikian, para guru yang masih setia mengurus siswa-siswi ini, termasuk guru honorer masuk kategori pejuang yang lebih dari guru-guru sekolah favorit dan bonafide. Keteguhan, kesabaran dan daya angon mereka benar-benar teruji. Ibarat sebuah nelayan, hadapan mereka bukanlah air tenang yang menenteramkan, namun gelombang badai yang siap menikam perasaan dan fikiran. Meski begitu, tetap jarang sekolah seperti ini di negeri merdeka ini, negeri yang menjamin hak pendidikan generasi penerusnya.

Bicara pendidikan, haram tanpa melibatkan pesantren tentunya. Oleh karena, lembaga pendidikan inilah yang tertua dan asli milik nusantara. Kalau sekolah atau lembaga pendidikan modern baru ada tahun 1900-an imbas dari politik etis, pesantren sudah berabad-abad jauh sebelumnya ada.
Sampai kini, pesantren lah yang serius mencerdaskan generasi bangsa tanpa pandang siapa siswa atau santrinya. Bahkan, di pesantren, banyak santri preman atau preman-insyaf yang bertato dengan segala keugal-ugalannya. Apapaun bentuk santrinya entah masih ori atau seken, tetap diterima, diedukasi dan dibina baik secara intelektual, moral, spiritual dan sosial.

Selanjutnya, pesantren juga bertanggungjawab atas moral dan akhlak santrinya. Jika melanggar peraturan, ta’ziran atau hukuman siap menghampirinya. Selain intelektual, moral juga menjadi indikator kelulusan selain pengakuan lingkungan masyarakat. 24 jam santri diawasi oleh kyai maupun peraturan sekaligus mendidik dan siap sedia jika ada pertanyaan keilmuan maupun kehidupan.

Hal ini berbeda dengan sekolah apalagi kampus umum, yang hanya berkepentingan pada ranah kognitif dan nilai semata, meski dewasa ini mulai ada revisi untuk itu. Betapapun bejadnya siswa atau mahasiswa, sepanjang nilai mencukupi, akan diluluskan dan menjadi sarjana. Kampus tak bertanggungjawab berapa perawan yang sudah dihabisi, misalnya, oleh si mahasiswa.
Inilah problem yang sampai hari ini semakin parah hingga banyak lembaga mulai meniru sistem pesantren, utamanya pesantren salaf.

Ki Hajar Dewantara dulu bahkan pernah berkata: ” Sistem pendidikan terbaik di negeri ini adalah sistem pesantren”. Sistem pesantrenlah yang menginspirasi beliau untuk mendirikan Taman Siswa. Namun, banyak masyarakat yang belum sadar sampai akhirnya setelah kemerosotan moral dan mental tersadar juga.
Karena malu memakai nama pesantren, dibuatlah nama “Islamic boarding school/ house” yang pada intinya meniru sistem dan budaya pesantren.

Pasca reformasi, pesantren mulai mendapat tempat kembali ditengah masyarakat. Anak pejabat, politisi dan tokoh-tokoh mulai ramai-ramai dimasukkan ke pesantren. Apalagi, selain doktrin keagamaan, pesantren kini sudah menyediakan pelbagai ilmu eksak sebagai sebuah konsekuensi logis atas perkembangan jaman.
Matematika, geografi, sosiologi, fisika mengimbangi khazanah Islam abad pertengahan yang diterjemahkan dengan arab pegon tinggalan nenek moyang. Masa lalu, masa kini, masa depan; Jawa, Arab dan Yunani dielaborasi menjadi sebuah pengetahuan yang komprehensif.

Pesantrenlah, hari ini yang menawarkan dua sekaligus: dunia dan akhirat. Santri tak hanya melulu berkarier di KUA, namun bisa menempati pos-pos strategis baik sektor pengusaha, birokrat, teknisi, seniman, pemimpin masyarakat dan lain sebagainya.

Inilah peran penting pesantren sebagai lembaga pendidikan yang komprehensif dan tetap bisa menggauli zaman. Meski demikian, masih banyak juga masyarakat yang meragukan, selain perhatian pemerintah yang sebelah mata melestarikan. Wallau A’lam.

17 Oktober 2014