Di Konfercab NU Purworejo semalam, saya ngobrol banyak dengan Drs KH Masduqi, kiai dari NU Ranting Pangenjurutengah yang sudah sepuh. Panjang lebar, ia berpesan dan cerita begini:

“Mas, jadilah orang yang ikhlas. Jika kamu ikhlas membesarkan agama Allah, nanti jangan khawatir soal rizqi, nanti pasti ada saja.” Lalu beliau mengutip Firman Allah: “Yaa Ayyuhalladziina aamanuu in tanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum (Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong [agama] Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu)”

“Jangan sekali-kali kamu mengambil yang bukan hak kamu. Saya sekarang sudah pensiun, mas, jadi pegawai. Dulu, ketika jadi pegawai, tak sepeserpun pun uang bukan hak saya yang saya ambil. Padahal waktu itu saya adalah kepala KUA tingkat kabupaten. Maka, jika kelak kamu jadi pegawai, bersyukurlah kepada Allah, serta mohon agar direkso jangan sampai mengambil yang bukan haknya”

“Bagi saya, mas, lebih baik dan bangga menyuguh tamu dengan ketela hasil keringat saya sendiri dibanding menyuguh roti namun hasil mencuri atau korupsi. Kamu yang hidup dijaman sekarang, musti hati-hati. Di tivi bahkan di sekitar korupsi sudah hampir lumrah. Ini saya saja datang ke Konfercab NU ini membawa bonggol ketela pohon, dikasih teman. Saya tidak malu sepanjang itu halal.”

“Dulu, prinsip saya, jangan sampai perut saya ini kemasukan barang haram. Saya ingin anak saya hafal al-Quran. Kalau barang haram masuk, jadi darah dan daging lalu bibit anak, mau seperti apa polahnya anak”
“Kamu harus yakin, mas, Allah itu Maha Adil. Semasa jadi pegawai dulu, gaji saya kecil, hanya cukup untuk makan sehari-hari, tapi Alamdulillah cukup. Ini saya datang ke Konfercab ini saja hanya bawa uang yang cukup untuk beli bensin. Ndilalah kalau butuh sesuatu, ada saja sebab yang dijadikan Allah.”

“Saya mau cerita. Dulu setelah saya pensiun, tahun 2007 saya ditawari Kemenag untuk naik Haji.”

“Kyai, mbok daftar haji…”
“Besoklah gampang kalau sudah ada uang”
“Ini hari jumat, senin depan pendaftaran sudah tutup”
“Iya gampang, besok kalau sudah ada uang”
“Tanpa dinyana, mas, ketika saya hari sabtu masuk ngajar di sekolah, ada telfon aneh.”
“Pak, ada telfon dari BRI” kata TU sekolah
“Lho, saya nggak punya urusan dengan BRI”
“Mungkin diterima dulu, pak, telfonnya”
Setelah saya bicara dengan pegawai BRI, ternyata saya sudah didaftarkan naik haji oleh Hamba Allah untuk saya sendiri. Masya Allah, mas, saya langsung gemetar. Kaki saya tidak bisa berdiri. Seakan saya tidak percaya. Tapi saya juga bingung, sebab saya sudah bersepakat naik haji bareng dengan istri saya. Saya langsung pusing dan ijin pulang dari sekolah.

“Sampai rumah, istri saya tanya:
“Sakit apa, bah”
“Pusing, bu”
“Apa perlu saya kerokin?”
“Tidak usah. Saya tak tidur saja, tolong bangunin jam 16.00 sore”
“Setelah bangun, akhirnya saya cerita terus terang kepada istri saya. Namun ternyata, istri saya kekeh: tidak membolehkan jika saya haji sendiri, harus bersama-sama.”
“Yasudah bu, harta saya hanya mobil buntut itu di depan. Jika perlu saya akan jual untuk kamu. Tapi itu tetap masih kurang”
“Pokoknya saya mau naik haji bareng bapak! Titik.”
“Yasudah, besok saya tak pergi, jangan ditanya dan dicari sebelum kembali”
“Iya, pak”

“Ahad pagi saya akhirnya keluar mas. Jalan tak tentu arah, hanya bisa berpasrah pada Allah. Ditengah kegalauan itu, saya ingat teman lama saya. Langsung cling di otak. Dia pensiunan, kaya, sampai senja belum punya istri. Saya datang kesana.
“Oh, kawan lama datang. Mari kita makan dan ngobrol dulu, bicara seriusnya habis magrib saja” kata teman saya. Lalu kita ngobrol dengan hangatnya.”

Maghrib berlalu.
“Ada perlu apa?”
“Saya butuh pinjam uang untuk naik haji serta tasyakuran”
“Berapa uang diperlukan?”
“Tujuh juta”
“Oh, ambil saja. Kebetulah di rekening BRI saya masih ada 300-an juta” kata teman saya. Alhamdulillah, saya lega banget mas. Saya langsung pulang dan bersujud syukur sama ibu”
“Senin pagi saya langsung mendaftarkan istri saya. Tak dinyana, aja juga kiriman lagi yang saya terima dari BRI yaitu uang tasyakuran haji dari Hamba Allah sebanyak enam juta. Akhirnya, beberapa bulan kemudian, saya berangkat haji dengan istri saya, mas.”

“Itulah mas, salahsatu contoh yang saya sendiri alami. Pesan saya, hidup itu untuk ibadah, kerja dengan jujur dan berbuat baik terhadap sesama, insya Allah nanti dunia dapat akhirat dapat”


Lalu, riuh pemilihan Rois Syuriah dan Ketua Tanfidz NU memecahkan kami. Obrolan terhenti sampai kami menjadi saksi duet KH Habib Hasan Aqil Al-Ba’bud dan KH. Hamid AK terpilih kembali. Selamat, semoga NU kedepan bisa lebih baik lagi. Amin.