Dalamnya tulang dibalut daging dan kulit. Bentuknya sempurna. Ia dihiasi bulu lembut hitam panjang di kepalanya. Isinya dapat berpikir: ada yang hanya harta, karier, jabatan, wanita, trend gosip terkini, gadget dan barang nggak mutu. Sedikit yang berpikir darimana dan oleh siapa mereka datang dan diciptakan. Untuk apa mereka hidup selain makan, pup, kerja dan kawin di jagad ini.

Aih, isi perutnya lebih aneh lagi!
Sebangsaku hanya memakan daging atau rumput. Ia kulihat apa saja masuk: daging, tempe, sayur, donat, pizza, pecel, rujak, kopi, es krim dan aih, barang-barang alkohol, aspal, dan bahkan dari hasil menjual bangsa mereka sendiri yang merusak mesin perutnya. Kadang kudengar suara mesin perutnya merintih pilu, kekenyangan, memakan hak orang lain dan kelebihan indentifikasi karena saking macamnya.

Makhluk itu, aku penasaran!
Kulihat ada yang bisa bikin kendaraan dan bisa terbang. Membangun gedung tinggi, menghafal banyak hal, tak seperti sebangsaku, yang dari dulu sama saja rumahnya dan bahkan banyak diantara kami yang tak berpikir rumah dan harta. Kami selalu pasrah untuk rizki hari esok denga memulai lagi bekerja.

Kulihat mereka memiliki kesamaan dengan kami.
Mereka makan apa saja, beranak pinak dan saling tikam berebut wilayah dan pemimpin. Banyak juga yang saling bunuh karena beda kulit, kepercayaan serta pandangan. Di bangsa kami, siapa kuat ialah yang menang. Siapa yang berani membunuh dan menikam yang lemah, ialah pemimpin kami meski kami muak dan selalu pingin muntah: lihat janji manisnya dan mulutnya yang busuk baunya.

Tapi
Kulihat ada juga yang baik dan terbaik diantara makluk-makluk itu. Mereka punya panutan. Nenek moyang kami hormat pada beliau sejak dari dulu. Kata leluhur, itulah yang menyebabkan sebangsaku dan bangsa mereka serta alam raya ini tercipta. Nur Muhammad namanya.

Kata leluhur kami, beliau sama dengan makhluk yang kulihat ini. Bedanya ia memiliki perilaku yang terpuji. Tak pernah membalas jika disakiti. Tutur katanya santun meneduhkan. Pernah ia dilempari kotoran bangsa kami tak pernah melawan. Malah ia maafkan dan menjenguk ketika si pelempar sakit karena ujian. Sungguh membuat air mata bangsa kami berlinang. Wajahnya teduh, banyak bangsa mereka yang mengikuti jejaknya karena melihat rona wajahnya. Sekarang malah justeru sebaliknya, melihat muka sebangsa mereka, bangsa kami muak dibuatnya. Jago berkata, mengias diri, bercitra, namun hanya tampilanya saja.

Kata leluhur, makluk sejenis mereka kelak akan dibangkitkan lagi setelah mati di dunia. Lalu mereka melewati padang mahsyar yang panaa membakar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka ada yang malu karena perbuatan di dunia, lalu saking malunya meminta diri untuk disiksa dalam kobaran panas neraka, sebagaimana kekasih malu bersalah kepada kekasihnya, lalu mau dihukum apa saja sepanjang ampunan didapatinya. Entahlah…benar atau salah, bangsa kami tak tahu, karena tak punya pedoman kitab atau akal.

Bangsa kami hanya berdzikir pada pemilik semesta, pembuat langit, gunung, pengatur angin, pemberi rizki, yang selalu awas terhadap tiap helai daun yang jatuh. Kami juga bershalawat pada manusia terbaik itu. Setelah itu kami mati dan usai.

Makhluk-makhluk itu, siapakah mereka?
Mereka begitu lihai mengurus dunia. Ada juga yang serakah merusaknya. Dipikir hidup ini selamanya. Padahal mereka masih ingat waktu kecil mereka dan kini sudah tua. Tak sadar ini hidup sementara. Tak tahu apa motiv hidup mereka, alasan perbuatan mereka, tujuan mereka, yang dicari mereka, persembahan mereka.

Namun, aku hanya binatang melata, dibalik khayal melihat dengan mata.

Purworejo, 03 Desember 2014