Tentang Cinta

“Sejak pertama melihatmu, kenapa hatiku langsung jatuh padamu?”
“Kok bisa, mas, kita kan baru kenal?”
“Ia, sejak menatap sorot matamu, matahari jadi redup. Hatiku gelisah. Hanya wajahmu yang menghantuiku”
“Syarat menjadi kekasihku berat, mas”
“Apapun kan kulakukan”
“Kamu harus mencintai sesama, menolong yang lemah, jujur dan adil dalam bersikap”
“Akan kuusahakan”
“Itu berat, mas. Penuh derita dan duka nestapa”
“Laron, anai-anai saja dia berani menderita: sayapnya kadang patah, atau mati demi mendekat pada cahaya cinta, masa aku tak bisa?”
“Mas kuat dengan derita itu?”
“Takkan ada derita, karena isi hatiku penuh dengan rasa cinta padamu. Hujan dan badai kurasakan bagai belaian angin mesra”
“Baiklah, mas. Kuterima cintamu. Kulihat kamu benar-benar mencintaiku. Kan kusediakan sejuta maaf tuk semua khilaf dan ketidaksetiaanmu dalam proses menujuku”
“Ah, ternyata kau juga cinta padaku? Merasakan getaran yang sama?”
“Ia, mas, karena aku dan kamu itu satu. Deritamu adalah deritaku”
“Beribu terima kasih. Sungguh, malaikat cemburu melihat dalamnya cinta kita”

21 Desember 2014

Ayat Suciku

Ayat suciku kini tak intim lagi
Terganti gadget canggih masakini
Bait-baitnya perlahan pudar
Sakralnya tak lagi berbinar
Tapi aku rindu
Bercanda denganmu seperti di malam itu
Dimana jiwa menyatu
Satu

Purworejo, 19 N0vember 2014

Akupun Takjub

Kamu takjub pesawat terbang jatuh dan berkeping-keping?
Akupun takjub pada pesawat terbang yang bisa lepas landas dengan selamat.
Kamu takjub pada tanah longsor yang memakan banyak korban?
Akupun takjub pada tanah yang begitu banyak “memberi” manusia kehidupan.
Kamu takjub pada kapal tenggelam ke dasar laut?
Akupun takjub pada kapal-kapal yang membelah lautan dan berlabuh dengan selamat.
Kamu takjub dengan mayat bergelimpangan karena menjadi korban peperangan, musibah atau bencana?
Akupun takjub dengan penutupan usia mereka karena tak bisa lagi menipu dan dusta, atau takjubku kepada para manusia yang hidup bergelimang harta dan tahta dengan menghalalkan segala cara untuk dunia semata.
Sungguh, aku takjub itu.

03 Januari 2014

Belajar Kehidupan

Dari orang yang mengkhianati, aku belajar bagaimana taktiknya dan rasa disakiti.
Dari orang yang membohongi, aku belajar cara membohongi dan mahalnya harga sebuah kepercayaan.
Dari orang yang menipu, aku belajar bagaimana cara menipu dan arti kewaspadaan.
Dari orang yang memanfaatkanku, aku belajar bagaimana cara menginjak kepala orang lain agar sampai pada tujuan.
Aku belajar dan mempelajari semua itu untuk melihat luasnya kehidupan.

04 Januari 2015

Kadang Aku Berpikir

Kadang aku berpikir,
Untuk apa bersolek diri? Toh pada akhirnya orang akan tahu siapa kita.
Untuk apa pencitraan? Sedang pencitraan hanya untuk orang yang masih butuh akan pengakuan.
Untuk apa menonjol-nonjolkan diri? Toh kemudian orang-orang haus dan mencari yang memang sejati.
Orang baik, bijak dan berilmu dimanapun dia akan selalu dituju. Pun mutiara yang indah di dasar lautan, orang-orang tetap akan mencarinya meski nyawa dipertaruhkan.

04 Januari 2015

Datanglah Padaku

Ketika kau menangis karena dipenggal tulus cintamu, datanglah padaku.
Ketika kau terjatuh ke jurang kehidupan yang teramat kelam, mendekatlah padaku.
Ketika masalahmu hampir menjadi bom waktu yang kan membunuhmu, temuilah aku.
Ketika kau butuh tempat bersandar atas cemoohan orang padamu, gunakanlah bahuku.
Ketika kau putus asa hendak melawan tembok penindasan yang sedemikian tinggi dan besar, kemari dan menarilah bersamaku.
Mungkin aku tak bisa memberi solusi yang solutif atas semua masalahmu. Namun aku memiliki cinta yang seluas samudera hindia untukmu. Karena bagiku, cinta bukanlah untuk cinta itu sendiri. Namun, untuk semua orang yang rindu akan cahayanya.
Cahaya cintaku.

08 Januari 2015

Mungkin

Kita mungkin punya ribuan teman di media sosial dan dunia maya, namun hanya ratusan yang bertemu secara fisik di dunia nyata. Dari ratusan teman di dunia nyata itu, bisa jadi hanya puluhan yang benar-benar dekat dengan kita. Dari teman yang dekat yang puluhan itu, bisa jadi bisa dihitung dengan jari, yang mau menemani kita disaat dilanda sedih, sakit atau terperosok dalam lembah masalah kehidupan.
Kita seharusnya, berusaha mengingat dan membalas budi, atas jasa orang-orang yang bisa dihitung dengan jari ini.

08 Januari 2015

Ujian Hidup

Ujian dalam hidup itu macam bentuk dan warnanya.

Ada yang diuji karena kejombloannya
Ada yang diuji karena cintanya
Ada yang diuji karena tunangnnya
Ada yang diuji karena rumah tangganya
Ada yang diuji tetangga cantiknya
Ada yang diuji belum diberi anak untuknya
Ada yang diuji kenakalan anaknya
Ada yang diuji ekonominya
Ada yang diuji jabatannya
Ada yang diuji keberpihakkannya pada kebenaran
Ada yang diuji kesabaran dan kejujurannya
Ada yang diuji meninggalnya sanak keluarga tersayang
Ada yang diuji kepemimpinannya untuk kemaslahatan
Juga diuji atas segenap tawaran kemaksiatan

Kata orang tua, ujian adalah instrumen dari Tuhan untuk menaikkan kelas, jika kita mampu menghadapi dan memilih jalan kebenaran diantarannya. Jika sudah berlepas dari ujian satu, ujian-ujian selanjutnya mengantre untuk mengasah keris kehidupan kita menjadi semakin tajam.

Beruntunglah bagi kita yang selalu mendapat ujian.🙂

08 Januari 2015

Sombong

Aku telah diajari tuhan, melalui perantara ulama dan tentunya ibuku, tentang bagaimana cara menyembah-Nya, yaitu ketika shalat. Dalam shalat, hal yang paling sakral bagiku ketika bersujud. Sujud adalah meletakkan kepala lebih rendah daripada pantat. Kepala yang menjadi kebanggaanku, begitu nista dan tak berharga dimata tuhanku.
Tapi mengapa, kesombongan kadang masih saja melekat dalam didiriku?

15 Januari 2015

Melawan Diriku

Sayup suara tartil memecah hening
Ketika embun masih terasa nyaring
Menjilati tubuhku yang berselimut dingin
Memaksa diri menyembah pemilik angin

Lalu gema adzan bersahut-sahutan
Sunyipun lari tunggang-langgang
Ia takut pada hentakan tuhan
Dan kan kembali karena kasih sayang

Aku masih melawan diriku
Tenaga bersemangat memacu
Namun kemalasan benar-benar merayuku
Kali ini aku mampu mengejekmu

Menegakkan lebih baik dari tidur, katanya
Namun kenapa bukan banyak sebaliknya
Kata guruku, karena pahala tak terlihat mata
Juga, kita lupa nikmat apa saja yang kita bawa

Purworejo, 23 Januari 2015

Aku Adalah…

Aku adalah daging. Daging adalah darah. Darah adalah sperma. Sperma turun temurun. Sperma pertama adalah anak-anak Adam-Hawa. Hawa adalah Adam. Adam adalah tanah liat. Tanah liat adalah bagian dari makhluk ciptaan Allah. Awal mula penciptaan makhluk, alam semesta, adalah Nur Muhammad. Sebelum Nur Muhammad dicipta, tak ada sesuatu selain Allah SWT.

Aku adalah…?

27 Januari 2015

Guru Kehidupan

Dengarkanlah, Nak, sepagi ini burung-burung telah bernyanyi
Ia melantunkan apa saja tanpa henti
Memuja dan mengagungkan ilahi rabbi
Apa kamu tak malu, Nak, jika meninggalkan kalam suci?

Lihatlah, Nak, sepagi ini mereka terbang mencari rizki
Hanya mencari untuk hidup sehari
Tak perlu menanbung untuk esok hari
Ia terlalu percaya bahwa tuhan setia mengatur rizki

Rasakanlah, Nak, betapa ia bertanggungjawab untuk anak dan isteri
Mengajarkan bagaimana kasih melampaui
Mengepakkan sayap cinta bermisteri
Ketika besar, sang anak terbang hidup sendiri

Fikirkanlah, Nak, betapa ia guru kehidupan
Hidup atas usaha dan kepasrahan
Ah, kaupun pasti sulit memerankan
Kepadanya kau curi pelajaran

Burung-burung menunggu mentari datang
Cahaya tuhan yang menghangatkan
Ia setia hadir menyapa pagi kehidupan
Laksana menutup kelam malam dengan cahaya harapan

Burung sudah setia mengumandangkan
Sedang manusia sebagian masih hilang ingatan

23 Januari 2015

Aku Munafik

Aku memang masih munafik,

Berkata shalat dan ibadahku untuk Allah semata, namun dihati banyak yang dimotivkan pada manusia.

Bersaksi bahwa hidup dan perilaku keseharianku untuk Allah semata, namun faktanya hati mengingkarinya.

Kesal dan gelisah memang, jika mencintai dengan motiv mengharap balasan kembali. Memberi dengan harapan diberi kembali. Berbuat baik dengan harapan kita diperlakukan baik. Jika tak terbalas, hanya nafsu dan emosi yang menggilas.

Aku ingin mampu memberi dengan tak mengharap kembali. Berbuat baik tanpa ingin diperlakukan baik. Mencintai dengan setulus hati tanpa mengiba untuk dicintai kembali.

Aku ingin aku mampu, hanya tuhanku yang menjadi motivku pribadi, sehingga: baik dan buruk, memberi dan diberi, mencintai dan dicintai, dicemooh dan dipuji, derita dan bahagia, semua terasa sama.

Tak ada kesedihan dan kekhawatiran terpendam. Hanya kedamaian.

 

Kupukir-Pikir

Ditemani suara jangkrik dan embun yang bersahaja pagi ini, aku berpikir ditengah terjaga,

Kenapa manusia sedemikian banyak? Padahal dulunya satu jua.
Kenapa saling menipu? Padahal hanya perlahan membunuhnya.
Kenapa merasa paling menang? Padahal diatas langit, langit masih selalu ada.
Kenapa saling sikut? Toh hakikatnya kita bekerja untuk antre mati jua.
Kenapa saling sombong dan membenci? Padahal bahan kita semua sama: sperma.

Kupikir-pikir. Dan terus kupikir-pikir lagi.

Ah, begitulah memang adanya dunia. Memang benar kata lagu, ia adalah panggung sandiwara. Aku hanyalah salahsatu pemeran dalam pementasan kolosal yang berjuta-juta cerita. Seiring dengan waktu, aku tahu naskah, cerita dan maksud sang sutradara.

Akhirnya, aku hanyalah aktor yang akting di dunia. Sesuai jalan takdir dan peran yang dimandatkan oleh Sang Maha Sutradara.

Akting semata.

10 Februari 2015

Aku Tak Bisa Membayangkan

Aku tak bisa membayangkan, jika dunia ini berisi:

Orang baik semua.
Orang alim semua.
Orang benar semua.
Orang bijak semua.
Orang kaya semua.
Orang memimpin semua.
Orang pandai semua.
Orang jujur semua.

Niscaya, hancurlan dunia.

Kupikir, sebagai manusia kita sama: sama-sama saling membutuhkan.

10 Februari 2015

 

Perjalanan

Perjalananku menyeberang lautan memang berat, tapi tak seberat langkahku menuju masjid.

Perjalananku ke puncak gunung memang berat, namun tak seberat langkahku menuju masjid.
Perjalananku menggapai cita memang berat, namun tak seberat langkahku menuju masjid.
Perjalananku hidup di dunia memang berat, namun tak seberat langkahku menuju masjid.

Kulihat orang juga mampu berjalan ke puncak gunung, namun tak kuasa menuju masjid.
Kulihat orang menyeberangi lautan luas, namun tak mampu berjalan ke masjid.
Kulihat pejabat dan penguasa mampu mengatur segalanya, namun tak mampu mengatur kakinya menuju masjid.
Kulihat orang terdidik dengan segala gelarnya mampu berbuat dan berkata apa saja, namun tak mampu berjalan ke masjid.
Kulihat para direktur memimpin jutaan karyawan di perusahaan, namun tak mampu memimpin langkah kakinya ke masjid.

Perjalanan terberat adalah perjalanan menuju masjid. Sebuah perjalanan menuju tuhan. Perjalanan yang tak membedakan etnis, suku atau jabatan. Perjalanan yang murni dari manusia untuk tuhan.

10 Februari 2015