Semalam saya mendengar kabar bahwa Makam Imam Nawawi di Nawa, Syiria, dihancur-leburkan dengan bom. Saya kira ini merupakan salahsatu agenda de-aswajaisasi kelanjutan dari proyek pembongkaran makam nabi ketika dicounter oleh komite hijaz dulu, yang kemudian bermetamorfosis menjadi NU. Pelakunya, jelas Islam puritan atau para penyokongnya.

Dengan memusnahkan situs-situs bersejarah seperti makam (termasuk tradisi dan budaya lokal), perlahan fakta-ilmiah Islam terkikis dari peradaban. Dengan pendekatan positivisme, kemudian paham dan ritual itu akan dianggap takhayyul, bid’ah dn khurafat. Lalu, setelah suatu kaum lupa dan tidak tahu tradisi leluhurnya, akan mudah dicekoki dengan paradigma dan budaya baru. Makin mudahlah neo-kolonialis mencengkeram.

Mereka tidak hanya mengacak-acak tatanan keagamaan, namun hidden agenda besarnya tentu menghegemoni secara ekonomi dan politik.

Dari dagelan isu receh terorisme, MTA, ISIS, sampai pengeboman Makam Imam Nawawi sebagai Hujjatul Islam tersebut, sebenarnya ada arus bergerak dibelakangnya yang mendesain secara sistematis dan terprogram.
Kita tak usah reaktif, namun tetap butuh sikap sebagai maenstream. Tak perlu menghabiskan energi yang berlebih mengkonfrontasi isu murahan. Namum lebih pada tindakan riil di lapangan untuk mengkonsolidasikan segenap kekuatan.

Tambah satu lagi, kata orang Jawa, Eling lan Waspodo!