Inilah dialog Imajinerku dengan Raja Para Wali.

“Ya syaikh, aku adalah seorang yang tengah galau dan berkelana mencari ilmu dan jatidiri. Ijinkanku untuk mengadu”
“Silakan, ngger anak lanang, mengadulah sepuasmu…”
“Begini, syeikh. Aku dan mungkin banyak orang masakini memiliki penyakit hati, yaitu suka meremehkan orang lain. Mohon nasihat dan petuahnya”
“Meremehkan siapa, ngger?”
“Orang-orang nonmuslim, syeikh”
“Katakanlah dalam hatimu: Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama Islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”
“Iya, syeikh, aku mengerti. Lalu jika bertemu dengan seorang yang bodoh, bagaimana?”
“Katakanlah dalam hatimu: Orang ini bermaksiat kepada Allah SWT, karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku”
“Kemudian jika bertemu dengan orang yang lebih tua, bagaimana?”
“Ucapkanlah dalam hatimu: Dia telah beribadah kepada Allah SWT, jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”
“Jika dengan seorang yang berilmu, bagaimana, syeikh?”
“Ucapkanlah dalam hatimu: Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku”
“Lalu apabila bertemu dengan seseorang, siapapun itu, syeikh?”
“Yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu : Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah SWT, jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”
“Jika bertemu dengan anak kecil, bagaimana syeikh?”
“Ucapkanlah dalam hatimu: Anak ini belum bermaksiat kepada Allah SWT, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”
“Terima kasih syaikh atas semua nasihatnya. Sungguh, aku bersaksi atas kebijaksanaanmu lewat mutiara yang keluar dari hati yang selalu berdzikir. Tepat sekali jika setiap kali melakukan ritual, orang NU selalu menyebut namamu, Sulthanul Auliya, Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani”
Dan seketika beliau menghilang dari hadapanku.

22 Desember 2014