Ibu, dulu di pesantren, setahuku wanita tak berani memandang mata lelaki. Ia berjalan menunduk melihat langkah dan tentunya menenteramkan.

Setelah keluar, ibu, kulihat di ibu kota sana sebagian wanita menjadi komoditas dagangan, utamanya yang punya paras menawan. Jangankan menunduk, tatapannya pada lelaki menantang. Ada yang membantu jualan obat, makanan, minuman dan bahkan kendaraan. Banyak juga yang jual diri kepada laki-laki, mereka menyebutnya dengan tempat prostitusi atau lokalisasi.

Namun, juga ada wanita-wanita yang jadi pejuang, ibu. Mereka jadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di luar negeri. Ini mirip dengan wanita-wanita di lereng sumbing, ibu. Ia bekerja dibawah terik mentari membantu suaminya, dengan beban berat rumput, sayur atau kayu di punggungnya.
Ada lagi, bu. Jika ibu kerjanya memasak, mengepel rumah, ke sawah, menjahit dan mendidik anak-anakmu, aku lihat ibu yang beda dari itu.

Ia kerja di kantoran. Punya banyak kariawan. Bisa sarapan di Jakarta dan makan siang di Jepang. Pintarnya melebihi laki-laki, ibu. Semoga suatu saat aku bisa kenalkan.

Oh ya, soal wanita juga soal belanja, bu. Kalau dulu kita kepasar dan ibu menawar seribu-duaribu jika nggak dikasih pura-pura kabur, di kota sekarang nggak ada lagi tawar menawar. Semua sudah pasti harganya, bu. Orang-orang kelas itu, paling miskin belanja habis dua juta. Banyak ya bu? Kalau untuk beli tempe dan sayur pasti cukup untuk kita makan setahun.

Ada lagi bu. Kalau di desa kita wanita paling hanya menjadi supporter bola, di luar negeri wanita juga main bola, ibu. Ia bahkan jago-jago, lho. Bisa jadi, tim bapak-bapak desa kita kalah.
Kalau di desa kita dulu ada dukun pijat, di kota banyak ibu. Malahan ada yang pake plus-plus lho. Ih, serem kalau yang ini jika diceritain ibu. Bisa-bisa, ngaji yang bertahun-tahun engkau ajarkan, menjadi lupa jika aku terperosok ke dunianya.

Kalau sempat, kapan-kapan ibu kuajak terbang. Nanti kuperlihatkan pramugari-pramugari cantik yang sopan, namun belahan roknya hampir mentok sampai pinggul badan. Mereka itu wanita pilihan, ibu.
Wanita galak? Ada ibu. Wanita ini adalah kapolres atau kepala kejaksaan. Dia seperti punya nyawa lapis delapan. Beraninya bukan kepalang. Bapak pejabat yang kena kasus, didampratnya sampai diam atau ampun-ampun menjadi pilihan.

Terakhir bu, ini adalah kaum wanita-wanita yang “terdidik” dan beruntung. Dia adalah bu dosen ibu. Banyak juga yang gelarnya doktor. Dia ngajar para pemuda dan bapak-bapak. Banyak yang diajar kemudian jadi politisi, pemimpin dan tokoh. Sayang, ibu nggak nerusin sih sekolahnya, cuma sampai SD di desa. Nggak bisa deh berdebat dengan bu doktor yang mempesona.

Tapi tak apa ibu. Duniamu memang berbeda. Meski begitu, engkaulah wanita yang paling kucinta, dari semuanya.

14 Januari 2015