Sedang hormat Maulid Nabi di Pendopo Kabupaten Purworejo.
Kata pembicara, Baginda Nabi menghormati Khadijah karena dua hal: (1) umurnya terpaut 15 tahun lebih muda dan (2) ketika menikah nabi belum punya apa-apa selain akhlakul karimah.
Adakah yang janggal, saudara? Nah lo!


Saya sunting status ini untuk melanjutkan cerita.
Setelah acara usai dan ribuan jamaah berduyun-duyun pulang, saya ditemani Rekan Kukuh Prasetyo masih diam ditempat semula, bawah pohon paling belakang. Saya mengajak Kukuh untuk klarifikasi soal dua hal janggal diatas, dan ia mau.

Kami lalu pergi ke utara pendopo tempat mobil sang kyai. Kebetulan disana masih ada Rekan Imam yang hendak nytater motor untuk pulang. Saya culik saja si Imam, karena dia berpakaian rapi ala orang ngaji: pakai peci, jas IPNU dan sarung. Lumayan, ini menjadi akhlak taktis. Soalnya, ia beda dengan kami yang tak berpeci dan malah berpakaian preman. Awut-awutan.

Kami menunggu sang kyai keluar, sambil menghisap-hisap rokok. Sekitar lima menit kemudian, sang kyai keluar diiringi rombongan Bupati Purworejo dan Muspika. Kami mendekat mobil sang kyai dan bersalaman dengan beliau.
“Maaf, kyai, saya ingin menanyakan sesuatu terkait materi pengajian tadi”
“Oh, ya, tanya apa? Silakan!”
Semua pengiring termasuk Bupati menyimak percakapan kami. Lalu saya utarakan dua poin diatas tadi.
“Begini kyai, sepengetahuan saya, ketika nabi melamar Khadijah itu, beliau sudah sukses dan kaya. Bahkan jika di kurs-kan dengan rupiah sekarang, jumlah maharnya mencapai milyaran”
“Itu saya tadi dari referensi yang lain,” kami semua terdiam sesaat. Kemudian ia melanjutkan.
“Memang semuanya itu sudah dimiliki nabi, namun yang paling menarik hati Khadijah adalah akhlakul karimahnya” jelasnya.

Sebenarnya, saya masih bisa mendebat balik dengan bertanya, referensinya itu buku atau kitab apa? Saya berani bertaruh beliau tak bisa menyebutkan. Namun, dengan penjelasan terakhir, secara tersirat saya membaca kemauannya untuk memperbaiki atas apa yang beliau sampaikan.

Lagi pula, bupati dan beberapa tokoh pejabat masih disitu, tidak elok jika terlihat berdebat. Kata orang bijak, jika memberi masukan itu empat mata. Kalau di ruang publik itu namanya menghabisi. Maka saya putuskan, atas retorika jawaban terakgir dari beliau, urusan clear. Malahan, beliau balik tanya, “ini dari mana, mas-mas?”katanya sambil senyum hangat. Saya jawab, “dari IPNU, kyai”. “Oalah, saya dulu juga sempat menjadi ketua IPNU tiga tahun”, balasnya diikuti salam terakhir dan memasuki mobil. Beliaupun meluncur setelah mobilnya mengebel dua kali sebagai etika perjalanan.
Kemudian, Pak Bupati pun menawari makanan di dalam pendopo. “Mas, itu syukurannya di dalam masih banyak. Silakan pada dinikmati!”
Pembantaian pun dimulai.


Oh iya, ada yang menarik dari pengajian tersebut, yaitu tiga akhlakul karimah yang diimplementasikan diri Nabi Muhammad saw dalam hidupnya:
1. Thalaqatul wajhi, ajer peraupane, ramah raut mukanya.
2. Fadlul ma’rufi, menyerahkan jiwa dan raganya untuk kebaikan.
3. Khafadzul Adza, menjaga diri dari menyakiti sesama.

09 Januari 2015