Membunuh Manusia

Guyuran hujan deras malam ini begitu kelam mencekam. Langit seakan pilu mengantar detik-detik eksekusi mati 6 orang gembong narkoba di Boyolali dan Nusakambangan. Hembusan dingin angin menyertai detak jantung para terdakwa, setelah Jaksa Agung Prasetyo dan Presiden Jokowi tak memberi lagi ampunan kepada perusak generasi bangsa.

Pada dinihari yang penuh haru biru, ketika orang terlelap dalam tidur nyenyak, satu-satunya nyawa yang dimiliki 5 WNA dan 1 WNI tersebut melayang untuk selama-lamanya. Kejagung menyatakan, 5 terpidana di Nusakambangan dieksekusi pukul 00.30 WIB, sementara 1 terpidana dieksekusi pukul 00.45 WIB.

Kali ini kukagumi keberanian Jaksa Agung sekaligus Sang Presiden yang kurus ini. Ketegasannya dalam memutuskan hukum dan mengambil sikap menggetarkan hati dan sanubari. Aku yang bahkan rakyat biasa, ikut bergetar hatinya melewati detik demi detik pergantian malam.

Aku membayangkan, seandainya menjadi Rini Andriani, salahsatu terdakwa mati. Melewati waktu menembus jalan-jalan gelap menuju medan eksekusi. Detak jantungku berpacu tinggi, menikmati udara setiap detik sebelum akhirnya dada ditembus peluru yang panas mendidih.

Kemudian ditengah sakitku, kuingat orang-orang terbaik yang berarti dalam hidupku, dan aku belum sempat membalas budi baik mereka. Aku berdoa dengan begitu khusyuk kepada tuhan semesta, bahwa yang kuhadapi detik ini adalah pilihan baik diantara dua hal buruk: mati atau menghancurkan masa depan bangsa.

Pagiku kini masih malu untuk tersenyum cerah. Ia masih berlindung dibalik mendung yang murung. Air mata hujan semua sudah tumpah membasah. Mengisi kehidupan petani melalui ladang dan sawah-sawah. Menjadi dingin embun yang mencairkan amarah.

Namun, hati dan jiwaku terlalu syahdu untuk menghukum mati. Entah tak bakat menjadi pemimpin besar, atau memang ditakdirkan menjadi orang melo yang penuh kasih. Aku lebih berani dan memilih mendeportasi mereka dari Indonesia, atau membuangnya di pulau.

Pun demikian dengan para koruptor kelas kakap yang memiskinkan bangsa, yang lebih berhak untuk dicabut nyawanya. Aku tak setega itu. Aku lebih memilih memiskinkan mereka, dan dibuang ke pedalaman. Namun itu hanyalah intuisiku, seorang yang mungkin masih miskin keberanian dan ketegasan.

Ini tentang supremasi hukum. Ini tentang keberanian. Ini tentang kebijaksanaan. Ini tentang kepemimpinan. Ini tentang penindasan. Ini tentang moral. Ini tentang hak dan kemerdekaan manusia yang dibatasi manusia lain. Terakhir, ini adalah tentang hidup dan kehidupan.

18 Januari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: