Berikut ini akan saya ceritakan pengalaman saya blusukan malam tanggal 01 Maulud (22/12)tadi ditengah gemerlap kehidupan malam Kota Semarang. Agak panjang memang, karena ini pengalaman saya yang cukup berkesan. Kalau tidak suka, tinggal abaikan dan ganti kegiatan yang lebih bermanfat. Kalau anda sibuk namun penasaran, silakan boleh abaikan sementara dan baca ketika senggang di waktu malam. Jika cukup waktunya untuk dibuang dengan membaca tulisan ini, saya sangat bersenang hati, entah di akhir cerita memencet tombol like atau tidak karena pelit atau memang tulisan ini tidak bermutu, saya tidak peduli oleh karena sudah puas hanya dengan menulis ini.


Karena persiapan kegiatan pengkaderan IPNU Jawa Tengah, tiga hari terakhir ini saya tingal di semarang. Kebetulan, dihari ketiga ba’da maghrib, saya diculik salahsatu pengurus IPNU Jateng asal Sragen, Lystyanto namanya, untuk blusukan ke daerah Pasar Johar Semarang. Keperluan awal kedatangan ini adalah sekadar untuk menemani silaturahmi teman saya yang masih jomblo ini menemui para warga kampung dan teman sejawatnya yang bekerja di Semarang.

Dengan mengunakan motor, kami blusukan pertama ke Pasar Ambarawa, masih di Area Pasar Johar Semarang dan dekat dengan Hotel Diamond. Di depan Hotel yang megah ini, kami memasuki pasar yang mirip gang kumuh dengan tata-kota yang amburadul. Para PKL dan berbagai kesemrawutan ala orang pinggiran berderet manis sepanjang gang ini. Nyamuk-nyamuk nakalpun sesekali bergeming di telinga untuk kemudian menyedot darah kami yang segar meski mungkin kurang gizi. Saya menduga pasar ini ada kaitannya dengan salah-satu kota perjuangan: Ambarawa, karena selain namanya sama, barang yang diperjual-belikan dipasar ini juga kebanyakan palawija dan sayur-sayuran dari daerah Ambarawa dan Eks Karesidenan Kedu. Meski demikian, ada juga yang dari Jawa Tengah lain seperti, Trebes, Tegal, dll.

Sampai dipasar, oleh teman saya tadi, saya diperkenalkan dan disambut hangat oleh para sahabat dan warga sekampungnya. Saya merasa memasuki tempat latihan tinju yang amat besar. Betapa tidak? Saya mendapati mereka yang jumlahnya sekitar 40 orang berbadan seperti Mike Tyson, Evander Holifield, Oscar Delahoya atau Crish John para petinju dunia itu. Ketika berjabat tangan dengan mereka, saya dapati tangan yang kekar dan kasar itu hampir mematahkan jari-jari saking kekarnya. Siapakah mereka-mereka itu? Dalam hati bergeming, namun saya simpan dulu rasa kepo atau penasaran ini. Setelah ber-say helo seperlunya, kami dijamu makan di warung sederhana. Wajah mereka begitu berbinar dan senang dengan kedatangan kami. Rokok, kopi, aneka buah-buahan mereka keluarkan untuk menjamu. Mulailah investigasi saya.

Ternyata, mereka-mereka itu adalah Kuli Jasa Angkut di pasar itu. Pantas saja badan dan ototnya kekar-kekar, tidak seperti saya yang lentik karena kebanyakan ngetik di laptop atau andoid. Dalam gang Pasar Ambarawa itu, terdapat seratusan Kuli Angkut yang dimobilisir secara rapi dan sistematis. Di gang itu terdapat dua kelompok besar, yang mengangkut barang asal daerah Semarang dan sekitarnya, lalu daerah Brebes, Tegal dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Mereka memiliki keanggotaan tetap dan bernaung dibawah organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

Ada hal yang mencengangkan saya, yaitu tentang keanggotaan dan perputaran uang disana. Pertama, keanggotan. Untuk menjadi kuli angkut di pasar ambarawa itu, seorang pekerja harus merogoh kocek dalam-dalam. Untuk satu keanggotan, pekerja harus membayar uang kisaran 60 -80 juta! Wow, sunguh angka yang bagi saya fantastis! Lalu, apakah sulit mencari keanggotan atau orang yang bekerja disitu? Oh, ternyata tidak sama sekali, justeru jadi rebutan. Jika ada lowongan jadi kuli angkut waktu asyar kepada seseorang dan menolak diwaktu maghrib, niscaya waktu isya sudah banyak yang antre. Mengapa bisa demikian?

Ternyata, perputaran uang disini amatlah besa, bisa mencapai milyaran rupiah. Untuk sekali mengangut satu barang, rata-rata mereka mendapat uang 2000 rupiah. Semalam, rata-rata mereka bisa mendapat uang sebesar 300 – 400 ribu rupiah. Belum lagi kalau sedang ramai, mereka bisa mengantongi lebih dari itu. Bayangkan jika ini dikalikan semingu, sebulan, setahun dan beberapa tahun. Pantas saja jika harga keangotan kuli angkut di pasar yang kumuh ini begitu mahal. Bahkan, jika belum bisa menjadi angota tetap, pekerja harus membayar 17 juta sebagai uang kontrak untuk menjadi kuli angkut dalam setahun.
Setelah puas di Pasar Ambarawa, kami bergeser blusukan untuk melihat wajah-wajah pribumi di ibukota provinsi ini.

Selain Pasar Ambarawa, kami mampir ke gang pasar sebelahnya yang juga hampir sama, yaitu Pasar Yaik Baru Kota Semarang. Bedanya, yang di bongkar-muatkan disini adalah aneka buah-buahan. Dengan badannya yang kekar dan gagah, per-satu orang disini berkali-kali mengangkat beban 60 – 80 kg barang dari angkutan dan dibawa ke berbagai tempat pengepul. Seperti diawal, kedatangan kami, khususnya temanku yang satu ini, disambut para pekerja dengan hangat. Mereka langsung merapat, menawarkan kopi, membawakan buah semangka dan kemudian ngobrol hangat saling tukar-kabar dan bercerita ala rakyat jelata.

Saya mendapati bahwa teman saya, Listyanto ini menjadi sosok sentral yang dianut dan dihormati oleh pekerja-pekerja ini. Setelah saya korek keterangan, temanku yang satu inilah yang mengerakkan pemuda dan orang-orang desa dalam berbagai kegiatan baik sosial maupun keagamaan di daerahnya, meski kadang juga mereka berpesta-pora ala “orang jalanan”. Namun, demikian, temanku ini menemani mereka, ngemong dan memberi secerca harapan bagi orang-orang yang selalu rindu akan cahaya. Selain bisa memobilisasi, mengkomandoi orang-orang ini, temanku ini juga sering mengakses berbagai program dan bantuan dari pemerintah baik infrastruktur maupun pemberdayan masyarakat, sehingga orang-orang itu begitu patuh. Mungkin inilah salahsatu hasil temanku selama bergelut di dunia organisasi, bisa ngemong masyarakat.

Setelang ngobrol ngalor ngidul, datanglah kemudian mobil pengangkut buah. Para pekerjapun secara antre sesuai urutan memangulnya. Yang lucu, beberapa orang diantara mereka mengambil buah-buahan dalam pack itu dan kemudian diberikan kepada kami. Saya sendiri sempat malu melihat hal itu, utamanya kepada sang mandor. Tapi, setelah saya tanya apa tidak dilarang, para pekerja itu menyangkalnya, bahwa hal itu sudah biasa. Para pekerja dan kuli angkut biasa dan boleh makan satu-dua-tiga asal tidak dibungkus dan dibawa pulang. Dari beberapa orang pekerja itu, terkumpulah satu plastik besar berisi buah-buahan. Dengan bangga mereka menghadiahkanya pada kami. Mereka seakan orang yang diasingkan lalu kemudian dijenguk oleh keluarganya. Mukanya semua berbinar, bahagia, tidak ada kemunafikan. Kamipun berpamit dan pergi membawa oleh-oleh dari mereka, para pekerja keras di kota ini.

100 Juta Untuk “Harga” Kuli Angkut
Blusukan kami selanjutnya adalah menuju Pasar Kobar, sebuah pasar ikan besar dekat dengan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Aroma amis ikan mulai menusuk hidung kami berdua ketika memasuki pasar yang ramai ini. Di jam 21.30 WIB malam itu saja, sekitar 1000 orang bertransaksi dan berjibaku di pasar itu. Lampu-lampu lapak yang bersinar terang, menyilaukan mata kami di malam yang tanpa hujan itu. Para pengepul, pekerja, kuli angkut, pembeli semua berjibaku dalam transaksi ekonomi. Ada yang menyortir ikan, menimbang, mengangkut sampai pemberian upah atas keringat mereka. Sesekali terdengar dari para kuli angkut itu shalawat atau bahkan “umpatan mesra” ala orang-orang jalanan.

Kami, lagi-lagi, disambut hangat oleh para pekerja dan kuli angkut yang sibuk dengan pekerjaanya itu. Sama dengan diawal, mereka semua berbadan kekar dengan otot yang berisi, sebuah tanda pekerja keras dan semangat yang mereka miliki. Mereka bergegas menghormati kami; membelikan rokok, menyediakan minuman, menawarkan makan dan kemudian melingkar bercerita tentang kehidupan khususnya kehidupan para pekerja.
Saya menemui mandor diantara kuli angkut itu. Namanya saya tak sempat menanyakan. Badanya besar dengan gaya penuh humor dan umpatan khas jalanan. Sambil membagikan upah, sang mandor menjawab dan melayani satu-persatu pertanyanku atas rasa penasaranku. Hampir dua jam saya menginterview, mengamati dan merasakan aura kehidupan malam itu. Berbeda dengan yang diawal, para kuli angkut disini sedikit agak berbeda.

Bedanya, adalah pekerjan yang bebas mengangkuti barang darimana saja. Setelah itu, mereka akan mendapat upah sesuai dengan apa yang mereka bawa. Lalu, yang lebih fantastis, harga satu keangotan disini cukup mahal, kisaran 80 – 100 juta per orang. Wow, lebih mencengangkan tentunya. Meski, mencapai 100 juta, banyak pekerja yang berminat disini. Buktinya, ada 100-an pekerja kuli angkut disini yang setiap harinya berjibaku dengan ikan-ikan itu. Lalu, apakah cucuk harga keangotan yang sebesar itu? Setelah saya tanyakan, wajar memang. Dihari yang sepi saja, mereka bisa mengantongi uang sebesar 350-400 ribu per malam. Jika dirata-rata, setiap hari mereka bisa mengantongi uang sebesar 500-600 ribu. Belum kalau pas pasar ramai atau hari-hari besar, tentu bisa lebih dari itu. Berdasar analis koran, memang perputaran uang di Pasar ini mencapai 2 M lebih dalam semalam.

Wajarlah jika motor-motor pekerja itu bagus-bagus. Beberapa dan banyak diantara mereka punya mobil sendiri dirumah: baik mobil pribadi ataupun mobil bak angkutan untuk dibisniskan. Lama kami bercengkerama dengan mereka, hingga waktupun mulai larut malam. Kami akhirnya berpamitan pulang dengan disertai dua plastik besar ikan segar dari para pekerja itu. Sekali lagi, saya bersaksi bahwa teman saya yang satu ini memiliki aura dalam ngemong masyarakat, selain itu sebuah hadiah dari silaturahmi yang amat dianjurkan nabi. Para pekerja kuli angkut dengan dompet tebal itu tak segan-segan menawarkan kami ikan-ikan lagi jika kurang. Namun kami tolak karena sudah terlalu banyak barang bawaan. Akhirnya, kamipun pulang ke sekretariat PW IPNU Jawa Tengah dengan membawa buah tangan untuk rekan-rekan yang tengah sibuk menyiapkan acara pengkaderan.

Melihat etos kerja yang tingi orang-orang diatas, saya teringat ayat yang sering diulang-ulang ketika khotbah jumat, “ Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Q.S. al-Jumu’ah: 10), atau sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kamu yang melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti).” (HR. al-Baihaki). Orang-orang diatas adalah sebagian kecil pekerja keras yang ada di bumi nusantara. Saya bersenang hati bisa bertemu dengan orang-orang hebat diatas; mereka adalah guru-guru saya yang mengajari tentang kehidupan meski munkin mereka sendiri tidak sadar dan menyadari hal itu.

Sekretariat PW IPNU Jateng, Semarang, 01 Rabiul Awwal 1436 H/ 23 Desember 2014.
Ahmad Naufa Kh. F.