Temanggung

Aku terhempas dilereng antara Gunung Sumbing dan Sindoro. Sebuah desa yang jauh dari ingar bingar kota yang kejam menikam. Disini kedamaian kembali kurasakan, suara nyanyian alam dan keramahan masyarakat yang “tanpa”kepentingan.
Hatiku tersayat ketika senja datang. Lantunan adzan digemakan oleh anak-anak dengan indah dan lantang. Gema bait-bait albarzanji kemudian bersahut-sahutan penuh keharuman.
Kuresapi makna-maknanya ditengah dingin dan sayup merdu suara. Bahwa baginda nabi begitu pemalu dan tawadlu. Bahwa baginda begitu menebar wangi. Ah begitu merdunya, ma liy habibu siwa Muhammad, tak ada kekasih bagiku selain Muhammad.
Ingin kudendangkan kembali bait-bait itu sebagai penawar racun dalam dadaku. Bersamamu. Hanya bersamamu.

29 Desember 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: