Aroma Mistis Pada Sakit Adikku (Percaya boleh, tidak ndak apa)

Lu'lu'ul Mutala'liah
Lu’lu’ul Mutala’liah (Lulu’), lemah terbaring di RS

Malam ini saya bersetia menunggui sang adik perempuan bungsu yang masih kecil dan belum punya dosa, Lu’lu’ul Mutala’li’ah (Luluk) di Rumah Sakit Islam Wonosobo, Jawa Tengah. Sebelum sampai disini malam ini, akan saya ceriterakan kronologisnya.

Senin petang kemarin, saya di kabari Om saya via telfon bahwa dik Luluk dibawa ke Rumah Sakit. Dugaan awal adalah karena ia menderita sakit maag. Saya belum bisa menuju Wonosobo oleh karena malam dan cuaca kurang mendukung. Rencana saya Selasa pagi baru akan merapat. Namun seiring saya mengikuti informasi sampai larut malam, ada kejanggalan. Sekujur tubuh dik Luluk mengalami kaku seperti diisi linggis. Ia hanya lemah lunglai tak berdaya melawan rasa sakit. Dokter bingung mengidentifikasi ini penyakit apa.

Malam selasa, saya di telfon keponakan. Ia agak sedikit tahu urusan gaib. Ia mengatakan, bahwa sakitnya begitu aneh, bukan sakit biasa. Katanya, sakit yang menimpa adikku kelas 4 SD, ini mirip yang menimpa kakek beberapa tahun lalu.

Saya jadi ingat kelas 2 SMA ketika menunggui kakek lemah tak berdaya di ranjang tidur. Ketika itu, ia diobati oleh seorang ahli pengobatan alternatif (tabib mistik) asal Solo, Jawa Tengah. Melihat dengan mata kepala sendiri, saya begitu takjub dan terkaget-kaget. Betapa sang tabib mengambil berbagai paku, silet dan beling dari tubuh kakek yang lemah lunglai. Sambil bercucuran air mata, saya seakan merasakan sakit yang hebat ketika paku-paku itu diambil dari jari-jemari, perut dan kaki.

Beberapa bulan kemudian, kakek berpulang ke Rahmatullah. Pasca itu, konon sang tabib menawarkan kepada keluarga agar mengembalikan “kiriman” gaib itu. Namun, berdasarkan rapat keluarga, diurungkan. Biarlah Allah menjadi hakim yang terbaik.

Kembali ke adik saya. Selasa sore saya berangkat ke Wonosobo. Dijalan, saya bertawassul kepada nabi, sahabat dan sulthanul auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani dan tak henti membaca Shalawat Tibbil Qulub untuk dik Luluk. Sebelum ke Rumah Sakit, saya sempatkan mampir rumah. Di rumah Om saya mengabari sakitnya Luluk ini terkait mistik, sebab dugaan Om saya, beberapa hari lalu bapak mengobati orang kesurupan di Desa K, masih di sekitar Wonosobo.

Menjelang maghrib, saya sampai di RSI Wonosobo. Seharian, kata tante-tanteku yang jaga, dik Luluk mengalami kejang-kejang. Sekujur tubuh kaku, tangan termasuk jari semua kaku. Bahkan, karena mungkin saking sakitnya, dik Luluk siang tadi sempat berkata, “Ma, rasanya aku kok seperti mau mati,” diikuti riuh para keluarga yang berjaga. Dokter tak bisa menilai ini apa-apa.

Sehabis maghrib, datanglah Mr M. Ia memang salahsatu temanku yang terbiasa menangani begini-beginian. Jam terbangnya juga tinggi, sampai Jakarta dan luar Jawa.

Pertarungan dimulai. Mr M dengan perlahan tapi seakan mengeluarkan tenaga yang tinggi mengambil sesuatu dari tubuh dik Luluk. Dengan tangan gemetar, ia mengambil satu demi satu. Mr M seperti orang yang berkelahi. Badannya berkeringat dan bergetar seakan kerasukan sesuatu. Sesuatu itu, kemudian dibuangnya. Setelah 15 menit di “bersihkan” dari pengaruh mistis, saya lihat tangan kanan Mr M bengkak dengan besarnya. Tangannya pucat bak mayat. Katanya, ia kerasukan sesuatu setelah bapak mengobati kesurupan di desa K. Lalu makhluk itu mengikutinya dan masuk ke dik Luluk.

Setelah dibersihkan, dik Luluk terbangun. Wajahnya perlahan memerah, tak lagi pucat pasi. Mr M menggodanya, menanyakan sekolah, makanan dll. Ia kemudian sudah bisa menjawab sapa dan tersenyum. Ditanya, sakitnya juga sudah menghilang. Kemudian, saya yang sedari awal menyimak Mr M menangani dipesani untuk memberi asupan makanan. Dik Luluk kini tinggal pemulihan fisik. Mr M pun kemudian pergi untuk menangani pasien di Magersari.

Saya kasih dik Luluk android, dia mau main game. Bebannya seakan separuh hilang. Saya tanya, mau makan apa? Bakso, mie ayam, kentucky atau martabak? Ia menjawab mau makan kentucky. Adikku yang cowok langsung tak suruh meluncur mencari. Sementara saya masih menemaninya bermain android, ngegame dan lihat-lihat gambarku mendaki gunung.

Ketika makanan sampai, dik Luluk sudah terlelap tidur. Sudah sejam ini saya menunggunya bangun untuk menyuapi makan. Biarlah ia memulihkan badan, sementara saya akan bersetia disampingnya untuk menyuapinya makan.

RSI Wonosobo, 18 Februari 2015 | 21.36 WIB.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: