Berlatih Khusnudzon

Minggu lalu, saya nge-deal kontrakan rumah. Sewanya setahun Rp. 3000. Sementara saya bayar dulu Rp. 2000, sisanya tanggal 15 Maret depan dan sang pemilik mau. Akhirnya saya yang ketika itu di Jakarta mentransfer ke ATM-nya. Rumah bisa ditempati senin depan.

Ba’da Isya’ tadi, tiba-tiba sang pemilik SMS, ingin bertemu. Hatiku curiga, ada apa gerangan? Hatiku bertanya-tanya dan coba menebak. Apakah saya disuruh membayar lagi? Bukankan jika begitu melanggar kontrak awal? Ah, kudatangi saja rumahnya.

Setelah sampai dirumahnya, saya disambut aneka makanan dan teh manis. Ia berkata,

“Mas Nop, rumah kontrakan senin depan Insya Allah bisa dipakai. Dapur sudah siap. Pompa sekaligus penampung air sudah saya belikan. Lantai sudah keramik yang depan, untuk dapur sudah saya plaster walau belum keramik. Untuk nyuci baju sudah ada tempatnya. Oh iya, kasurnya juga sudah ada. Kompor gasnya juga silakan dipakai saja. Tambah lagi, disana ada satpam dan warga perumahan ditarik Rp. 35.000,- per-bulan. Rp. 10.000,- untuk biaya kebersihan. Ada pertemuan warga dua minggu sekali, silakan hadiri. Masjid juga ada, silakan diramaikan, syukur membuka pengajian.” Tuturnya panjang lebar.

Jleb! Hati saya langsung terhentak. Mengira mendapat racun justeru madu yang berlimpah. Seketika itu, saya sadar dan menuduh hati ini terlalu mudah bersuudzon. Mungkin karena efek sering bersinggungan dengan dunia politik baik dalam organisasi maupun praktis. Mulai kini, saya akan berlatih berkhusnudzon dengan semua orang.

13 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: