Sinau Bareng Cak Nun

Sowan Kadipiro: Jamaah Maiyah Purworejo ketika sowan ke Rumah Budaya EAN di Kadipiro, Jogjakarta.
Sowan Kadipiro: Jamaah Maiyah Purworejo ketika sowan ke Rumah Budaya EAN di Kadipiro, Jogjakarta.

Semalam aku dan sahabat-sahabat Jamaah Maiyah Purworejo merapat ke Alun-Alun Kutoarjo dengan dua mobil dan puluhan motor. Kami bermaksud menghadiri acara Ngaji Bareng Cak Nun yang diselenggarakan oleh salahsatu lembaga ekonomi di Purworejo. Sekadar informasi, Jamaah Maiyah adalah sebutan untuk jamaah atau komunitas yang sering ngaji dengan guru bangsa, Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan Cak Nun beserta kelompok musiknya, Kyai Kanjeng. Selain datang langsung ke pertemuan-petemuan rutin, Jamaah Maiyah tak sedikit yang datang di acara undangan Cak Nun dan Kyai Kanjeng di berbagai kota dan pelosok tanah air.

Kami dan sahabat-sahabat Jamaah Maiyah Purworejo sendiri relative sering datang di acara Macapat Syafaat, pertemuan rutin Cak Nun dan Kyai Kanjeng yang digelar di TKIT Alhamdulillah, Bantul, Jogjakarta. Selain itu, biasanya kami datang di kota-kota yang masih dekat dengan Purworejo. Jika tidak, kami mengikutinya via youtube, fesbuk atau website tentang reportase pengajian Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Untuk Jamaah Maiyah Purworejo sendiri, kami mengadakan pertemuan rutin malam tanggal 1 setiap bulan. Pertemuan ini kini sudah mengadakan 53 kali sejak tahun 2011 di Jl Sibak No 18 Pangenjurutengah Purworejo.

Sampai di Kutoarjo. Karena tidak membawa alat tulis ditambah android sedang lowbatt, aku hanya menyimak untuk diresapi kemudian menulisnya setelah acara selesai, dengan mengingat-ingat tentang topic yang disampaikan. Mohon maaf apabila tidak runtut atau kurang sama persis. Ini adalah penangkapanku sendiri tentang Ngaji Bareng Cak Nun semalam.

Kyai Kanjeng membuka pertemuan dengan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW diiringi music khas tradisional-modern. Ribuan orang sudah tumbah ruah di alun-alun ikut bersenandung, dengan beralaskan plastic yang disediakan pedagang dadakan seharga Rp. 2000. Dari yang tua, muda, anak-anak dengan pakaian rapi ala kyai sampai kaos oblong dengan celana pendek semua melebur menjadi satu.

Cak Nun membuka pertemuan dengan komunikasi kepada audiens tentang kaya harta. Menurutnya, kurang tepat jika kita ingin kaya, sebab kaya adalah akibat. Idealnya, yang kita inginkan adalah menjadi orang yang baik, jujur, ramah, tekun dan mengabdi kepada Allah SWT. Dengan begitu, sebagai sebuah efek dari kepercayaan orang lain kepada kita adalah kekayaan itu sendiri.
Kemudian beliau membahas tentang taqwa. Cak Nun membacakan Al-Quran surah At-Thalaq ayat 1 – 2, yang kurang lebih berarti:
“(2) ….Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3) Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)Nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan ursan (yang dikehendaki)Nya….”

Dalam ayat ini, lanjut Cak Nun, kita melakukan satu dapat bonus dua: jika bertaqwa, akan mendapat solusi atas persoalan kita dan rizki dengan jalan yang tidak diduga-duga. Lalu, jika kita bertawakkal kepada Allah, akan dapat dua balasan: dicukupi kebutuhan kita dan Allah akan menyelesaikan urusan kita.
Sebagai penghibur suasanya penonton dipersilakan untuk ikut bernyanyi bersama Kyai Kanjeng. Hamdan Kurnia Aji dan Habib Hamidi, anggota Jamaah Maiyah Purworejo, memberi kejutan dengan memberanikan diri naik ke atas panggung duet bareng vokalis Kyai Kanjeng, Doni eks Seventeen dan Imam Fatawi. Mereka menyanyikan lagu Perdamaian buah karya pendiri Nasida Ria H. Muhammad Zein, dan sempat dicover oleh grup band Gigi. Nomor kedua, lagu Sebelum Cahaya milik putra Cak Nun, mas Sabrang atau lebih dikenal Noe Letto juga mengalir dengan penuh kehangatan.

Karena dalam sela-sela menyanyi, Habib Hamidi (namanya saja yang Habib, bukan Habib beneran alias habib Jawa) sempat berteriak “Hidup Indonesia!!!”, usai menyanyi ia ditahan Cak Nun. “Ngapain kamu tadi teriak hidup Indonesia!!!? Memangnya kamu tahu apa itu Indonesia?” tanya Cak Nun. “Indonesia adalah bangsa saya” Jawab Habib yang barusaja bergabung dengan Jamaah Maiyah Purworejo. “Siapa yang membuat nama Indonesia?” tanyanya lagi. “Nenek Moyang saya” jawab Habib. “Kamu harus belajar sejarah,” jelas Cak Nun. “Dulu itu Colombus ketika mencari pulau India nyasar sampai kesini, lalu disebutlah nama Indish. Ketika penjajah masuk, jadilah kata Hindia Belanda karena dikuasai oleh belanda. Jadi, nama Indonesia yang kamu agung-agungkan itu ciptaah penjajah. Hayo mau apa kamu?” seloroh Cak Nun. Habib-pun hanya tersipu malu. Lalu ia turun dari panggung setelah dirangkul oleh Cak Nun sambil menasehatinya untuk belajar sejarah nusantara dari jaman raja-raja.

Cak Nun kemudian menjelaskan sedikit tentang music. Menurut beberapa ulama dahulu, ada yang mengharamkan music. Namun, menurut Cak Nun, dulu fatwa itu muncul karena music identik dengan kemaksiatan. Dimana ada music disitu ada maksiat, maka itu diharamkan. Dalam pandangan Cak Nun, music adalah benda yang tergantung pemakainya. Ia mengumpamakan dengan sebilah pisau, bisa dibuat membunuh atau menyembelih kambing kurban. Tergantung pemakainya. Baginya, music pun demikian. Music bisa dijadikan sarana atau wasilah untuk membersamakan semua kalangan dan mendekatkan diri kepada tuhan.

Dalam pada itu, Cak Nun juga menjelaskan kalau dirinya merokok. Menurut Cak Nun, hukum rokok tidak bisa di gebyah uyah, samaratakan haram. Soal rokok, makanan dan minuman masing-masing orang memiliki ukuran dan pengetahuan. Misalnya orang punya penyakit darah tinggi, ia bisa saja haram memakan makanan yang membuat penyakitnya itu bertambah parah. Cak Nun, dalam rokok bisa mengukur diri bahwa rokok baginya tidak membahayakan. Namun ia melarang untuk mengikuti jejaknya, jamaah disuruh menentukan sendiri pilihannya.

Cak Nun memberi rangsangan logika berpikir dalam memilih. “Jika kalian memilih calon istri,” kata Cak Nun, “maka pilihlah yang shalihah” lanjutnya. Kalau wanita yang shalihah tidak ketemu, ya pilihlah yang pinter. Kalau yang pinter tidak ketemu, ya pilihlah yang setia. Kalau yang setia tidak ketemu, ya pilihlah yang rajin. Kalau yang rajin tidak ketemu, ya pilihlah yang sabar. Kalau yang sabar tidak ketemu, ya pilihlah yang cantik. Kalau yang cantik tidak ketemu, ya pilihlah yang pantas. “Begitu juga dalam dunia ekonomi, social dan politik. Kalau tidak bisa memilih yang pinter, minimal yang pantas. Jangan karena hanya uang Rp. 50.000,- dalam memilih, memilih pemimpin yang pantas jadi pemimpin saja tidak” terang Cak Nun disambut ger-geran tawa dan tepuk tangan hadirin.

Pembahasan selanjutnya adalah tentang takfir. Menurut Cak Nun, manusia tidak punya hak untuk mengkafir-kafirkan orang lain. Jangankan mengkafirkan, menurut Cak Nun, ia sendiri saja enggan menyebut dirinya muslim. Yang berhak menyebutnya muslim adalah Allah SWT. Padahal Allah SWT sendiri sudah memberi pilihan dan membebaskan untuk menjadi muslim atau kafir. Jadi, kita sebagai manusia tidak boleh mengkafir-kafirkan, oleh karena yang punya 100 % saham kita manusia serta alam semesta adalah Allah SWT. Sebagai manusia, kita bisanya mengingatkan dan menunjukkan jalan, adapun keputusan untuk menjadi Islam, Budha atau Kristen adalah masing-masing manusia.

Kemudian Cak Nun menjelaskan bahwa dirinya bersama Kyai Kanjeng sudah ribuan tempat yang dikunjunginya, namun ia tidak pernah mau jika ditayangkan di TV Nasional. Ini karena TV Nasional hari ini, menurut Cak Nun, hanya berisi soal uang, uang dan uang. Agama, nilai dan budaya semua diresduksi menjadi kepentingan ekonomi. Meski telah ribuan kali mengurus grass-root selama bertahun-tanum, ia mengaku tidak dianggap oleh Negara. Namun ia tidak ada urusan dianggap atau tidak, oleh karena ia dan Kyai Kanjeng mengabdi kepada Allah SWT, tidak kepada manusia, lembaga, Negara atau apapun.

Cak Nun juga mengatakan dan menegaskan bahwa dirinya tidak mau dikultuskan, dianggap kyai atau ulama. Ia memilih disebut sahabat yang menemani kami semua berproses menggapai cahaya. Cak Nun mengatakan tidak ingin menguasai siapapun dan apapun, tidak ingin mempunyai anak-buah dan tidak ingin dikategorikan sebagai orang shaleh. Dari itu, kadang ia tak segan untuk menghina-hina diri sendiri. Ia mengejek-ejek sendiri agar tidak dikira orang baik. Ia merendah di tempat yang paling “rendah” sehingga tak ada yang bisa merendahkannya.
Dalam hal manageman Kyai Kanjeng, ia juga mengaku tidak tahu menahu soal bayaran. Kalau dikasih ya ia terima, kalau tidak ya tidak ditanyakan. Manageman Kyai Kanjeng sendiri tidak punya patokan harga. Kadang dikasih bisyaroh, kadang juga justeru malah mengeluarkan biaya sendiri untuk pentas.

Di sesi akhir, cak nun menjelaskan tentang nama Bank Syariah yang ada sekarang banyak dipakai untuk kepentingan ekonomis saja. Logikanya, jika orang pindah agama dari islam menjadi Kristen atau sebaliknya, ia sudah tidak menjalankan agama yang terdahulu. Nah, di Indonesia ini tidak. Bank tertentu membuka system konvensional, lalu kemudian membuka bank syariah dan menjalankannya secara bersama-sama. Bukan system konvensional ditinggal ganti syariah tapi memperluas segmen pasar.
“Besok kalau pengelola bank ditanya malaikat Munkar dan Nakir, kenapa namanya Bank syariah tetapi tetap ada ribanya?” kata Cak Nun seakan menirukan pertanyaan malaikat. “Kami kan hanya menulis syariah(berarti jalan) di belakang nama bank, bukan Syariat Islam. Jadi yang salah si nasabah dong..!!!” Gerrrrr!!!!!! Gelak tawa dan tepuk tangan hadirin bergemuruh.

Terakhir, Cak Nun berpesan agar dalam jual beli dan transaksi lainnya memakai kaidah “’an taradhin”, sama-sama ridla. Kalau ada himbauan dari PLN berbunyi: “mohon tidak memberi tip kepada kariawan” itu adalah himbauan yang salah. Adalah hak semua orang untuk memberi dan berinfak. Harusnya pihak PLN yang menghimbau kepada karyawannya, bukan kepada penerima jasanya. Begitu juga dalam berhutang, misalnya. Jika si peminjam uang ingin meminjam uang dan akan mengembalikan lebih dari yang dipinjam, itu sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah pihak yang dihutangi menuntut orang yang berhutang untuk mengembalikan melebihi nilai yang dipinjamnya.

Kemudian Cak Nun mengajak semua hadirin berdiri dan bershalawat bersama. Suasana syahdu menyelimuti semua jamaah. Lebih-lebih, ketika Cak Nun mengalunkan shawalawat dengan begitu ikhlas dan seakan dari hati yang paling dalam, badanku sendiri jadi merinding. Apa yang dari hati memang akan sampai ke hati juga. Acara ditutup dengan doa oleh KH Muzammil dari Madura. Kami pun bubar meninggalkan arena. Oh ya, dijalan aku dicegat oleh wartawan radio untuk diwawancara mewakili Jamaah Maiyah Purworejo. Akupun terima wawancara dan permintaannya untuk menjepret gambarku dan sahabat-sahabat Jamaah Maiyah Purworejo.

Demikian yang bisa kutulis dalam sesaat. Mohon maaf apabila kurang lengkap, maklum sambil lupa-lupa ingat. Kapasitas rekam otakku baru bisa segitu yang bisa diingat. Semoga yang sedikit ini memberi pencerahan dan manfaat, baik di dunia maupun di akhirat.

Purworejo, 12 April 2015 – 09:13 AM.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: