Substansi Ziarah Kubur

Ada percakapan menarik di sebuah warung kopi, kemarin malam.

“Dari mana ini, tumben kelihatan rapi”, kata pemilik warung kepada pelanggan.
“Habis ziarah makam ulama”, jawab pelanggan.
“Apa makna yang paling esensial dari ziarah itu sendiri?”
“Hmmm…ya saya mendoakan ahli kubur dan berwasilah”
“Iya. Maksud saya, tujuan yang paling elementer dari ziarah itu sendiri” kejar pemilik warung.
“Waduh, apa ya?” Jawab sang pelanggan sambil garuk-garuk kepala.
“Jadi, tujuan dan makna yang paling mendasar dari ziarah itu adalah agar kita ingat mati. Nabi, ulama dan pejuang itu wafat dengan meninggalkan kontribusi dan manfaat yang begitu besar. Nah, suatu saat kita juga akan mati; dari itu hidup kita ini sebenarnya adalah mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi mati. Sekuat, sekaya, setampan, secantik dan sekuasa apapun kita akan menyerah menghadapi kematian”
“Begitu ya, memang benar kata orang, hidup itu cuma seperti mampir minum” Sambung pelanggan sambil heran dengan kedalaman ilmu penjual angkringan.
“Iya, mas, hidup kita itu seperti mampir ngopi” tambah sang penjual menutup ketegangan.

16 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: