Pengamen Lusuh

Di halte terminal baru tadi, seorang pemuda lusuh duduk di dekatku. Kulihat, tubuhnya kumal dan kukunya hitam-hitam menghitung recehan. Ia justeru mulai menyapaku.
“Kemana, mas?”
“Sokaraja,” jawabku.
“Ke Purbalingga, ya?”
“Kok tahu?”
“Kalau turun Sokaraja paling ya mau ke Purbalingga”cetusnya.

Tak tahu kenapa, ia justeru curhat dan berceritera tentang dirinya. Mungkin karena melihat sosokku yang memakai baju timnas. Mungkin juga yang lain.

“Beginilah nasib hidup dijalanan, mas, keras” ia membuka diri.
“Iya, sama, aku juga dijalanan”sahutku.
“Sejak kecil aku ditinggal wafat bapak. Sejak itu saya ngamen. Jabar, Jateng sampai Jatim saya sudah jajaki dari bus ke bus terminal ke terminal”
“Oh….lha senjatamu mana?”tanyaku yang tak melihatnya memegang gitar
“Dirampas Satpol PP, mas”
“Dimana?”
“Di Kebumen”
“Kok bisa ya satpol PP begitu?”
“Nggak tahu, mas, waktu itu lagi operasi. Mungkin operasi gelandangan dan pengemis”
“Sekarang, apa senjatamu?”
“Cuma icik-icik, mas”
“Ngomong-ngomong, rumahmu mana?”
“Aku Wangon, mas”
“Oh, Wangon. Sudah makan belum? Silakan makan di warung sebelah, aku bayarin”
“Belum, mas. Nggak usah, nanti saja gampang”

Tiba-tiba bus datang.
“Itu, mas, bus ke arah Sokaraja”

Akupun naik bus, sebelum sempat memberinya uang. Menyesal rasanya, oleh karena aku menyimpan di dalam tas kecil di dalam tas besar. Siapapun kamu namanya, duhai anak yatim yang malang, semoga tuhan selalu melindungimu. Kuberharap, suatu saat kita dibersamakan kembali.

28 Maret 2015

Konflik Pengamen Jalanan

Di Sokaraja, Banyumas.

Bus berhenti. Seorang pengamen cewe setengah baya dengan gitarnya masuk dari pintu belakang ketengah. Ia menyapa penumpang dan akan membawakan sebuah lagu. Baru ia mengucap tiga bait lagu, sesuatu bakalan terjadi.

Dari arah pintu depan, seorang pengamen cewe bertato masuk dengan bodyguarg cowo. Ia membentak pengamen cewe pertama; menyuruhnya menghentikan lagu dan keluar. Cewe pertama wajahnya mewek. Mungkin malu atau dipermalukan. Mungkin juga takut dengan cewe bertato yang menyanyikan lagu hargai aku-nya armada. Lagu yang menunjukkan perilaku sebaliknya.

Cewe pertama keluar. Cewe bertato menyanyikan lagu hingga usai. Sampai pada penarikan saweran, kulihat receh ditangan sang cowo bodyguard bernilai sekitar Rp. 1400/1600.

Inilah kerasnya jalanan. Soal perut dan makan. Betapa berapa uang recehan, bisa menimbulkan kebencian dan permusuhan.

29 Maret 2015

Tuhan Menjawab Doaku

Sepulang dari Purbalingga, di bus aku bertemu kembali dengan sosok pengamen yatim yang masih muda. Wajahnya masih lusuh seperti kemarin. Bajunya tetap sama. Ia naik dari Prembun, Kebumen. Kusapa ia, namun malang sudah tak mengenaliku. Maklum, pakaianku yang kemarin memakai kaos timnas kini berubah baju ala orang kantoran. Ia berusaha mengingat-ingat. Tak jua mengenali, kemudian ia ketengah untuk menyanyi.

Dari belakang, kudengar suaranya sayup-sayup ditengah suara mesin dan alat musik ala kadarnya. Usai nyanyi, ia tak menarikku saweran. Kusapa untuk kedua kalinya.

“Ayo maen ke kontrakanku. Ada gitar, lho”
“Dimana, mas, jauh ya?”
“Nggak, kok, di deket kota”
“Lain kali aja, mas, ini lagi rame”

Kemudian kami saling diam. Aku bingung mau ngasih apa. Ngasih uang sepertinya kurang menunjukkan persahabatan. Setelah kupikir, kutawari saja ia kaos timnas yang sempat kupakai tempo hari.

“Tak kasih kaos timas mau, nggak?” tawarku.
“Ia mengangguk”

Kubuka tas dan kukeluarkan baju merah timnas berlogo garuda. Ia menerima. Kulihat wajahnya berbinar-binar. Kebahagiaan nampak jelas tergambar diwajahnya. Rona mukanya seakan menunjukkan kasih sayang yang lama diidamkan.

Potret pengamen yatim yang malang tersebut bukan satu-satunya. Ada ribuan nasib serupa di negeri ini yang tersebar di jalanan, terminal dan kota-kota besar. Mereka adalah juga anak-anak manusia yang mempunyai hati, mimpi dan cita-cita. Tak selayaknya, sebagai orang yang beriman, kita acuh pada nasib-nasib mereka. Tentu yang paling bertanggungjawab adalah mereka penyelenggara negara.

29 Maret 2015