Buka Warung dan Menghormati Orang Puasa

Statement Menteri Agama Drs H Lukman Hakim Saifuddin terkait bolehnya buka warung di bulan Ramadhan dan penghormatan kepada yang tidak puasa, dibully sekaligus diplesetkan di sosial media. Saya jadi resah, begitu mudahnya orang menyalahkan tanpa dasar teologis dan landasan filosofis yang kuat.

Untuk yang pertama, saya jadi ingat ketika pada Ramadhan tahun 2007 lalu saya diutus Pondok Pesantren “An-Nawawi” Berjan Purworejo untuk menjadi ustadz(meski saya belum layak jadi ustadz) di Gunungkidul Yogyakarta selama sebulan. Waktu itu, di pengajian pagi ada jamaah ibu-ibu bertanya,

“Mas Ustadz, saya itu janda dan masih membiayai pendidikan anak-anak saya. Untuk itu, sekarang saya buka warung makan. Di bulan Ramadhan ini, apa hukumnya jika saya tetap buka warung? Sedang diluar sana, FPI men-sweeping dan merusak warung-warung yang buka, seperti kata berita. Sementara jika ditutup, dapur saya nggak ngepul,” katanya sambil menatap cemas.

Usai berpikir sejenak, saya menjawab, “Tidak usah tutup, Bu. Niatkan dalam hati ibu jual makanan untuk: musafir, orang sakit, anak-anak, wanita haid dan non-muslim. Kesemuanya itu boleh tidak puasa di bulan Ramadhan. Allah memberi privilege (hak istimewa) langsung untuk musafir dan orang sakit setelah perintah puasa. Warungnya tetap buka tidak apa-apa. Hanya saja, tolong depannya diberi satir atau penutup untuk menghormati yang puasa” Si ibu itupun sepertinya puas mendengar jawaban dari saya.

Kemudian ia tetap membuka warung seperti biasa, menangung hidup anak-anaknya. Hal seperti inilah yang mesti dipahami oleh para pemeluk agama, apalagi ormas yang membawa nama agama. Islam itu mempermudah, bukan mempersulit umatnya, apalagi marah-marah. Islam harus dibumikan hingga benar-benar membawa kemaslahatan.

Lalu yang kedua, “Orang yang puasa juga harus menghormati yang tidak puasa,” kata Menteri yang ayahandanya (KH Saifuddin Zuhri) menjadi salahsatu idola dan inspirasi hidup saya. Kata itu diplesetkan oleh sebagian orang menjadi, “Orang yang puasa harus menghormati yang tidak puasa” Pertama, kata “juga” dihilangkan sehingga seolah hanya yang puasa saja yang harus menghormati.

Kedua, menghormati yang tidak puasa itu sebuah keniscayaan mengingat yang diperintah puasa ini adalah umat muslim saja. Logikanya, Allah membolehkan umat non-muslim makan. Lalu, secara kualitatif, adanya orang yang tidak puasa juga sebagai penguji bagi yang puasa. Terakhir, Islam mengajarkan: mengormati itu wajib, sedangkan dihormati tidak wajib. Disinilah kita perlu introspeksi diri, apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita, untuk bersikap sabar, arif dan bijaksana? Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya! 🙂

25 Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: