Politik Ala Rakyat Jelata

Awal bulan Februari 2015 lalu saya bersama seorang partner, sebut saja namanya Bejo pergi ke Tasyikmalaya, DKI dan Bandung. Kepentingan kami adalah untuk survey harga karcis destinasi wisata, meloby restoran sekaligus transit atau hotel. Ini karena saya akan membuka jasa biro wisata. Ada pelajaran yang banyak sekali dari perjalanan kami selama dua minggu. Tulisan berikut ini akan sedikit merekam dan memberi beberapa pelajaran berharga, khususnya untuk diri saya. Meski agak telat karena memang waktu itu saya malas mencatat, semoga catatan-perjalanan ini menjadi oleh-oleh yang bermanfaat. Amin.

***

Rencananya, surveynya adalah tanggal 01 Februari 2015. Namun terpaksa saya kalahkan karena ada adara PKD Ansor dan kebetulan atau yang milih sambil ngelindur barangkali, saya dijadikan wakil sekretaris. Praktis, saya harus mem-backup penuh acara dari awal sampai akhir. Pas habis penutupan, saya langsung pamit untuk pergi ke Bandung. Dari lokasi saya nebeng mobilnya Sahabat Budi Sunaryo alias Mbah Majir, Calon Wakil Bupati Purworejo. Kami hanya punya waktu 15 menit untuk sampai di statsiun dan memesan tiket kereta. Terburu-buru.

Pucuk dicinta ulam tiba. Ketika saya minta mbah majir untuk berhenti si secretariat IPNU Purworejo sekadar mengambil tas, ada seorang teman, Maman namanya yang hendak pergi ke Tasyik, nyetir sendirian pula. Aku berminta maaf kepada mbah majir, tak jadi ke stasiun dan ia memaklumi. Kamipun bertiga, aku, Bejo dan Iman meluncur ke Tasik.

Singkat kata, sampailah kami di Tasyik. Setelah tidur, aku dikenalkan oleh temannya Maman bernama Mr. X. kami disambut dengan hangat oleh Mr. X dan diajak jalan-jalan ke Gunung Galunggung, sampai akhirnya Mr. X tahu maksud kedatangan kami. Ia membawa kami ke sebuah restoran dan pusat oleh-oleh di Rajapolah.

Pelajaran Pertama.

Sampai direstoran, Mr. X langsung menemui seorang kasir. Ia minta kartu nama bosnya. Aku dan Bejo mulai curiga, namun kami biarkan saja. Mr. X kemudian menelfon sang bos restoran dengan bahasa sunda yang tak kami mengerti. Lima menit kemudian sang bos datang. Kami memaparkan maksud dan tujuan sampai menanyakan harga prasmanan. Sang bos menjawab, untuk sebuah rombongan, biasa mereka memberi harga Rp. 17.500,-. Dug! Hati kami, aku dan Bejo berdetak kencang.

Ternyata, dibalik senyum Mr X yang tulus itu, tersimpan kepalsuan yang kejam. Harga Rp. 17.000 untuk rombongan adalah harga yang tak masuk akal. Biasanya Rp. 12.000 – Rp. 14.000,-. Ini berarti Mr. X telah bermain duluan dengan sang bos restoran. Senyum palsu yang sungguh menyakitkan. Seolah membantu tapi menikam dari belakang. Sialan!

Kami menyadari itu, tapi tetap tersenyum meski hati tak karuan. Bukan soal uang Rp. 5000,- tapi harga sebuah pertemanan yang baru dikenalkan begitu murah. Bayangkan jika kelak kami membawa 4 bus rombongan, dan Mr X yang modal bacot itu leha-leha sudah dapat Rp. 5000 x200 orang. Itu setiap kami membawa keberangkatan. Ini bisa membunuh biro kami secara perlahan. Setelah diskusi dengan bejo, aku putuskan untuk tidak memakainya. Mending dipercayakan kepada sopir. Itulah, kehidupan jalanan, rentan dimanfaatkan.

Pelajaran Kedua

Malam harinya, dari Tasyik kami menuju Bekasi. Tujuan kami adalah ke Asrama Haji untuk menanyakan transit. Sampai di Asrama Haji, kami menanyakan kamar transit dan sang penjaga mengatakan kosong semua. Ia juga menyarankan agar menghubungi Mr Y, seorang juragan cetering yang juga bisa mencarikan tempat transit. Kami lemas, tapi tak patah semangat. Lalu langsung pergi ke Gedung Islamic Centre dan memperoleh jawaban yang sama. Sungguh ini sebuah ujian.

Bersambung… (mau udud-udud dulu sambil dengerin ida laila)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: