Mengenang Mas Fata

Nama lengkapnya Muhammad Khoirul Fata, biasa dipanggil Mas Fata. Beliau adalah putra ke-2 KH. Achmad Chalwani dengan Nyai Sa’adah Achmad yang meninggalkan dunia di usia yang relatif muda. Beliau meninggal pada akhir Ramadhan 2008 lewat kecelakan maut bersama tiga orang santri(Ali Rosyidin, Imam Hadiyanto dan Yusman Afandi),  usai menjenguk Dai yang dikirim Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo ke Gunungkidul Jogjakarta.

Tulisan ini sekadang ingin bernostalgia dengan sosok beliau, sosok yang saya sendiri kagumi. Kekaguman ini bukan karena beliau seorang putra guru saya, namun lebih karena attitude, semangat, jiwa-sosial, keteladanan, kecerdasan dan banyak lagi tentang beliau, yang tentu tidak bisa saya tulis disini. Selain itu, potret ini juga kesan saya mengenal beliau secara singkat; yang tak menutup kemungkinan teman-teman lain memiliki pengalaman dan kesan lain tersendiri.

Sosok beliau adalah sosok yang sportif. Ketika dulu beliau duduk di bangku kelas 3 MTs dan saya kelas 1 MTs, kadang telat berangkat ke sekolah yang dibawah yayasan milik ayahandanya. Meski beliau bahkan punya hak untuk mencopot guru-guru tersebut, namun ketika telat beliau tetap antri untuk mendapatkan hukuman. Ini adalah suatu teladan yang penting untuk diambil pelajaran.

Selain sporrtif, beliau adalah sosok yang cerdas. Beliau banyak menguasai berbagai bidang ilmu dari khazanah klasik sampai kontemporer. Fiqh, tafsir, hadits, maqashid syariah, asbabun nuzul sampai nahwu shorof semua dilahap. Pun demikian dengan buku-buku dan wacana klasik dan kontemporer, semua dikuasainya.  Dari yang paling kiri sampai yang paling kanan. Namun, semengerti saya, beliau paling suka kalau sudah bicara soal ushul fiqh, karena ilmu itu merupakan alat untuk memproduksi ilmu fiqh. Lalu untuk urusan politik bagi beliau tidak tertarik, meski memahami teorinya.

Beliau seingkali meminjami kitab klasik dan buku-buku wacana kontemporer kepada saya, lalu seminggu kemudian meminta saya untuk menjelaskannya. Beliau juga seringkali menantang debat dengan saya; suatu kehormatan meski aslinya saya sendiri minder karena beliau terlalu tinggi maqamnya. Namun saya setujui saja dan jelas hasilnya: selalu dan selalu kalah saya. Pesan beliau kepada saya juga keras dulu: agar yang klasik (seperti hafalan alfiyah dll) juga jangan diabaikan. Ini pesan keras namun saya terima sebagai kasih-sayang, mengingat saya waktu itu sedang gila akan wacana-wacana Islam kontemporer dan liberal.

Mas Fata adalah juga sosok yang mencintai musik dan dunia musik. Untuk musik, gitar adalah alat yang sangat beliau ahli memainkannya. Soal gitar ini, ada salahsatu musisi Purworejo yang memang tiap hari memegang gitar, sampai ketika dewasa ia selalu menjadi the best dalam berbagai festifal. Namun, menurut salahsatu teman musisi tersebut, kemampuan Mas Fata sama: padahal sejak kecil Mas Fata tidak hanya memegang gitar; namun juga diskusi, musyawarah, mengkaji kitab dan mengurus santri-santrinya. Inilah hebatnya.

Soal dunia musik lokal, beliau banyak bergaul dengan musisi-musisi Purworejo. Beliau ngemong dengan semuanya. Banyak kalangan musisi yang kemudian “taubat” dan memilih jalur agama dan mengakhiri kenakalannya. Artinya, selain bermusik, beliau ternyata menjadikan musik sebagai alat untuk berdakwah secara kultural. Sampai ketika beliau minginggal, banyak musisi-musisi yang menangis merasa kehilangan. Bahkan, menurut salahsatu teman saya, karena saking “abangan”-nya, ada salahsatu musisi yang ziarah ke makam beliau dan memutarkan mp3 kepada beliau.

Salahsatu yang saya kagumi dari beliau adalah manageman waktu. Beliau bisa mengatur waktu: kapan saatnya ngaji, jalan-jalan, mancing, gitaran, musyawarah kitab, diskusi ilmiah dan bersilaturahmi dan ngopeni kawan-kawan “jalanan”. Padahal, segala bentuk kemewahan disediakan: mobil, swalayan, atm dan semua bentuk potensi hura-hura. Itu tidak beliau sia-siakan sebagai sesuatu yang melenakan. Jika itu yang terjadi pada saya: mungkin boro-boro ngaji, seakan sudah laru dalam dunia hitam.

Mas Fata adalah sosok yang cerdas. Ketika kami kemudian masuk kuliah bersamaan, terus terang bahasa inggris beliau kacau. Kadang beberapa jawaban beliau tanyakan kepada saya. Namun, ketika semester dua kemampuan beliau melesat dengan cepat. Saya jauh ketinggalan, baik tenses maupun kosakatanya. Setelah saya selidiki, ternyata beliau les bahasa inggris privat. Ini menunjukan totalitas beliau dalam belajar.

Jika sudah duduk menyanding kitab-kitab, buku, kopi dan rokok, seakan beliau menemukan kenikmatan dunia. Mas Fata begitu mencintai ilmu dan pengetahuan. Rumah beliau yang begitu besar, penuh dengan rak-rak kitab, buku dan berbagai literatur klasik sampai kontemporer. Sungguh membuat saya iri untuk memiliki, mengkaji dan kegilaanya akan ilmu. Semoga saya bisa meneladani beliau utamanya kecintaannya akan ilmu dan pengetahuan.

Terakhir saya komunikasi dengan beliau adalah via SMS, ketika beliau kuliah di STAIAN dan kemudian masuk di Universitas Islam Indonesia di Jogjakarta. Itu terjadi di awal Ramadhan. Begini kurang lebih dialognya:

“Mas, dengar-dengar panjenengan malah pindah ke UII. Lantas bagaimana nasib kita disini? (diskusinya, musyawarahnya, sharingnya dan pendewasaan beliau kepada kita-kita, utamanya di STAI An-Nawawi)
“Tidak pindah kok, cuma ndouble untuk nambah wawasan dan pengetahuan. Terus perlu dicatat, bahwa dengan ataupun tanpa saya, kelak di akhir zaman Islam akan mengalahkan semau agama: baik hindu, budha, nasrani, yahudi dan lainya”

Semoga, beliau juga mendapat tempat yang mulai di sisi-Nya, surga yang penuh keindahan dan melihat wijah-Nya, Amin Allahuma Amin. Untuk beliau, Alfaatihah!

Kantor PW IPNU Jawa Tengah, Semarang, 11 Juli 2015 (Ramadhan ke 24) – di Ujung kerinduan. 😦

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: