Materialisme di Masyarakat Kita

Belakangan saya banyak bertemu dengan orang yang begitu materialistik. Mereka mengukur tingkat kesuksesan seseorang dari berapa harta yang sudah ia kumpulkan. Seakan-akan kaya adalah sudah menjadi kebenaran. Ini menjadi penyakit yang menjakiti semua lini: politik, ekonomi, budaya bahkan agama.

Kini orang seakan tak lagi percaya dan berpedoman kepada hal yang tidak nampak, ghaib: nilai, ketulusan, keyakinan dan bahkan Tuhan. Semua serba di materiilkan dan dipaksa menjadi materi. Masih mending kalau wujudnya materi dimaterikan. Hari ini, yang ruhani di materiilkan.

Saya menduga, awalnya mindset ini muncul dari paham filsafat positivisme yang digagas Augus Comte pada Abad 19. Positivisme melihat kebenaran dari sesuatu yang empiris, nampak, riil dan bisa disaksikan dengan mata telanjang, buka impian, angan atau keyakinan. Kini, paham itu seakan-menggantikan doktrin dan dogma agama yang bertahun-tahun dipegang.

Dengan cara pandang ini, banyak kemudian orang mempetanyakan Tuhan. Apalagi kitab suci, al-Quran misalnya yang tidak ilmiah karena tidak memiliki catatan kaki. Anehnya, yang terjangkit kebanyakan umat islam. Padahal, islam mengajarkan: orang sukses itu adalah orang yang melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan; berbuat baik dalam pergaulan, dan berorientasi pada tuhan terhadap apa-apan yang dikerjakan. Kini, setaat dan sebaik apapun orang, jika tidak memiliki materi, ia dituduh miskin, dibuang dan dianggap gagal dalam menjalani kehidupan.

Sekaya apapun orang, berapapun mobilnya, jabatannya, perusahannya, jika ia masih merasa butuh, itu adalah miskin yang sesungguhnya. Betapa banyak pengusaha yang menyiapkan strategi dan mengambil laba bermilyar tiap bulannya; namun tuli dan buta terhadap sesama, mereka para faqir miskin, anak yatim dan kaum mustad’afin. Dimana letak kekayaan mereka?

Sedang media yang kini menjadi ” the second school” sama saja: justeru semakin parah. Rakyat dijejali dengan tayangan yang tak bermutu, memuja kekonyolan, bahkan menjatuhkan martabat manusia. Lebih parah lagi, agama diperdagangkan dan menjadi komoditas yang hanya menjanjikan keuntungan. Sedang negara tak mampu turun tangan.

Kita acapkali tertipu dan ditipu oleh penampilan dan kesan. Yang penting sekarang bukan jadi orang baik, tapi terkesan baik. Yang penting bukan benar, tapi terkesan benar. Tak heran, tiap kali pilkada, semua sibuk memproduksi kesan. Slogan dan gambar muncul: akulah yang baik; akulah yang mampu menyejahterakan; akulah yang jujur, adil dan mampu menyelesaikan persoalan. Ibarat shalat, semua merasa mampu dan berebut menjadi imam. Kesombongan dipacking menjadi kesan kesalihan. Hal yang harusnya ruhani dimateriilkan.

Sebentar. Tapi banyak juga orang kaya dan sukses di jaman sekarang. Orang yang masih memegang kemurnian. Orang-orang itu adalah orang yang dianggap rakyat jelata di jaman sekarang. Orang yang teguh memegang kejujuran; orang yang merasa cukup dengan keadaan, tetap usaha namun tak tergantung kepada kemewahan; hartanya ia tasyarrufkan untuk membantu sesama yang membutuhkan;jiwa dan raganya ia sedekahkan untuk ilmu, masyarakat dan tentunya tuhan.

Orang-orang pinggiran. Orang yang jauh dari sorot kamera dan kemewahan. Orang-orang sederhana yang ada dalam kecukupan, kesyukuran, kejujuran dan rela berkorban. Meski sederhana, hidup mereka tenteram; tidak dikejar keinginan semu. Mereka memiliki cinta dan kebijaksanaan.

Merekalah yang sukses di kehidupan. Merekalah yang sebenarnya kaya dalam pemaknaan. Merekalah yang layak kita ambil teladan. Merekalah referensi kita ditengah keabsudan. Merekalah mutiara yang terpendam.

Namun, selain itu, kesejatian orang sukses yang sebenarnya adalah di akhir hidupnya: apakah akan menjadi suulkhatimah atau khusnul khatimah. Pengadilan tuhan (yaumul hisab) dan pembalasan adalah haq. Surga dan neraka adalah haq. Semua dari kita masih punya kesempatan.

PW IPNU Jawa Tengah, Semarang 13 Juli 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: