Tentang Islam Nusantara

Islam Nusantara berarti Islam ala Nusantara. Islam yang telah bersenggama dengan tradisi dan budaya Nusantara. Produk hukum dan (metodologi)manhajnya telah ditafsirkan dengan aspek antropologis, sosiologis dan geografis alam Nusantara.

Islam Nusantara merupakan labelisasi untuk counter cultural terhadap Islam yang cenderung mengedepankan aspek radikal atau liberal dalam berdakwah dan menyampaikan ajarannya. Labelisasi ini diperlukan dalam tataran konsep dan dakwah, untuk memudahkan identifikasi ummat dalam melaksanakan dan mengembangkan ajarannya.

Konsep Islam Nusantara adalah panggilan sejarah, seperti lahirnya konsep Islam Mu’tazilah, Islam Khawarij, Islam Murjiah, Islam Syiah, Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dan sebagainya, pasca terjadi tahkim antara Sayyidina Ali kw dengan Muawwiyah ra.

Islam Nusantara adalah sebuah komprehensifitas tafsir, ijtihad dan dakwah yang diasimilasikan dengan tradisi, kultur, budaya dan manusia tertentu di suatu kawasan. Dalam hal ini adalah kawasan Nusantara. Jika konsep Islam Nusantara ini diterapkan di luar Nusantara, maka akan tetap relevan dengan tradisi, kultur dan budaya masyarakat tersebut, bukan meniru secara praktis amaliah Islam Nusantara. Ia adalah segenap gagasan umum yang memungkinkan diterapkan dimana saja.

Islam Nusantara secara konseptual digagas oleh PBNU pada tahun 2012 ketika membuka jurusan Islam Nusantara di STAINU Jakarta. Namun, secara subtansial, Islam Nusantara adalah paradigma, amaliah dan dakwah yang selama ini sudah ada di Nusantara. Model ini telah digagas oleh Walisanga dan diteruskan ulama-ulama pesantren yang kini terkonsolidasi dalam ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama.

Ketika NU membuat cabang istimewa di Afganistan, dorongan PBNU adalah agar mereka mengamalkan Islam sesuai dengan tradisi dan akae budaya Afganistan, sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran.

Islam Nusantara hanyalah sekadar labelisasi ijtihad dan pemaknaan tentang Islam dalam amaliah dan dakwah. Adapun secara Ideologi tetaplah Islam itu sendiri, tanpa label atau “embel-embel”.

Jika Islam diibaratkan sebuah piring, maka dahulu Islam cuma piring beling(porselin). Jika ada pembeli yang ingin beli piring cukuplah ia mengatakan “beli piringnya” maka akan sapat piring beling. Perkembangannya, piring itu macam-macam, ada beling, plastik, seng, keramik, stereofom dlsb. Maka, untuk menjual piring kepada pembeli, sang penjual perlu minyatakan “label” piring tersebut, agar pembeli tidak salah menerima. Demikian kira-kira analoginya.

Islam memanglah Islam. Namun, jika ada yang menyatakan Islam tak perlu diberi identifikasi, itu hanyalah pandangan normatif-idealis yang sama sekali tidak sesuai fakta dan realitas umat Islam yang begitu beragam.

Landasan Islam Nusantara
Islam Nusantara tidak menolak hal-hal yang berbau Arab, namun mengutamakan substansi daripada bungkus, mengutamakan jalur kultural daripada legal-formal. Banyak kosakata dan kalimat Arab yang telah diserap dan diterima dengan baik. Berbagai pesantren sebagai penopang Islam Nusantara juga sampai hari ini mengkaji kitab berbahasa Arab dan bahkan tidak sedikit yang bercakap dengan bahasa Arab. Banyak tradisi dan budaya Arab yang baik namun ada juga yang kurang pas diterapkan di Nusantara. Seperti penghormatan kepada yang tua, di Arab dilakukan menyentuh jenggot atau mengelus kepala. Jika ini diterapkan di Indonesia tentu kurang pas.

Banyak keunikan doktrin Islam yang telah berakulturasi dengan tradisi masyarakat Nusantara. Banyak ijtihad yang telah diproduksi dan menjadi pengawal dalam meluasnya Islam di tengah-tengah masyarakat. Ijtihad tersebut merupakan produk baru (bid’ah hasanah)yang tak ada pada masa nabi. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat pasca wafatnya nabi; seperti kodifikasi Al-Quran, penambahan harakat dan titik dalam Al-Quran juga adanya ilmu tajwid sebagai panduan membaca Al-Quran untuk bangsa ‘ajam(non-arab) dan masih banyak lagi.

Diantara banyak mujtahid ulama Nusantara, salahsatunya adalah Syaikhona KH Kholil Bangkalan Madura yang membuat tanda baca “utawi, iki, iku” yang sejak dahulu sampai kini diterapkan di semua pesantren salaf di Indonesia. Tanpa itu, sulit bagi seorang santri belajar dan mempelajari kitab kuning (kutub al-qadimah) yang tanpa harakat. Padahal, kitab kuning(disebut juga kitab gundul) adalah hasil ijthad ulama dalam memaknai, menafsirkan dan menerjemahkan ajaran Islam dalam memahami dan mengamalkan kandungan Al-Quran.

Dari kitab-kitab kuning yang rata-rata berasal dari Timur Tengah pada abad pertengahan tersebut, diaktualisasikan kembali dalam bentuk syair, nasar dan bahkan tembang Jawa tanpa mengubah hal-hal yang mahdlah. Dengan begitu, masyarakat awam mudah dalam mengkaji dan mengakses informasi tentang ajaran Islam lewat “buku pintar” yang praktis karya ulama Nusantara. Kemudian, doktrin tersebut juga diasimlisasikan dalam berbagai tradisi dan budaya masyarakat, seperti dimasukkan dalam cerita pewayangan, nyadran dan berbagai ritual yang jumlahnya tak terhitung dalam masyarakat Nusantara.

Dalam konteks kebangsaan, peran dan pengaruh ulama Nusantara juga besar utamanya adalah ijthadnya. Ketika Bung Tomo diutus oleh Bung Karno kepada KH Hasyim Asyari untuk menanyakan, “Apa hukumnya membela Tanah Air, bukan membela agama?” maka dengan mengumpulkan ulama se-Jawa, KH Hasyim memberi fatwa yang kita kenal dengan nama “Resolusi Jihad,” bahwa hukum membela tanah air adalah fardlu ain. Teks Resolusi Jihad inilah yang kemudian digelorakan dengan sangat heroik oleh Bung Tomo di radio-radio sehinga membakar semangat dan jihad arek-arek Surabaya untuk berperang melawan NICA.

Pun demikian ketika membentuk negara, KH Wahid Hasyim sebagai panitia sembilan menerima keberatan Indonesia Timur jika Piagam Jakarta diterapkan. Mereka akan memisahkan diri dari Indonesia jika syariat Islam diterapkan. Maka, dengan dalil ushul fiqh “dar’ul mafaasid, muqaddamun ‘ala jalbil mashalih”(mencegah keburukan diutamakan daripada mencari kebaikan), akhirnya KH Wahid Hasyim setuju menghapus redaksi penerapan syariat Islam bagi pemeluknya dalam Piagam Jakarta. Jika Indonesia Timur pisah, maka Indonesia rentan dijajah Sekutu atau Nippon yang waktu Itu masih belum angkat kaki. Jika dijajah kembali, maka justeru dakwah Islam akan sulit. Untuk itu, Ulama-ulama NU memilih jalur kultural dalam berdakwah, bukan melalui sistem kenegaraan yang legal-formal. Meski begitu, KH Wahid Hasyim masih berkontribusi besar dalam membuat Departemen Agama, sebagai pengawal sila pertama dalam Pancasila.

Peristiwa KH Wahid Hasyim diatas mirip dengan proses pembuatan Perjanjian Hudaibiyah, dimana kaum non-muslim tidak terima jika redaksinya “Muhammad Rasululah,” karena mereka merasa tidak mengakui Nabi. Nabi kemudian menyuruh Sayyidina Ali mencoret kata “Muhammad Rasulullah” untuk diganti “Muhammad Ibn Abdullah,” sehingga tangan sayyidina Ali pun gemetar tidak berani mencoret nama utusan Allah tersebut. Akhirnya, nabi sendiri yang berbesar hati mencoret dan mengganti kata tersebut. Ini membuktikan bahwa Negara Madinah bukanlah negara Islam, dan nabi sendiri menggunakan jalur kultural dan akhlakul karimah sebagai poros utama dalam mengembangkan Islam yang begitu multikultural dan fanatisme kesukuan yang tinggi.

Wacana Islam Nusantara sebenarnya bukanlah hal yang baru. Itu merupakan penegasan suatu konsep memahami dan mengamalkan Islam yang telah lama membumi ditengah masyarakat Indonesia yang begitu plural dan tingkat keberagamaan yang tinggi. Menurut Prof Azyumardi Azra, umat Islam Nusantara adalah Islam yang “berbunga-bunga” dimana banyak ritual yang dijalankan. Mulai dari kelahiran, sunatan, akikahan, pernikahan, syawalan, mauludan, sya’banan, rajaban, suronan, dan masih banyak lagi semua dijalankan dengan ritual keagamaan. Umat Islam Nusantara tak cukup jika beragama hanya mengamalkan aspek-aspek yang mahdlah saja, mereka mengkreasi sedemikian rupa sehingga Islam membumi dan berakulturasi dengan budaya, tanpa ada pertumpahan darah.

Namun demikian, meski relatif moderat dan inklusif, Islam Nusantara yang digagas NU juga meiliki aspek-aspek yang lain seperti radikal dan fundamental. Hanya saja, itu belum terpakai karena belum berada pada saat dan kondisi yang tepat. Sebagai penggagas, NU sendiri pernah radikal dalam menghadapi imperialisme, kolonialisme dan PKI. Islam itu adalah sebuah kelengkapan, seperti hukum fiqh: wajib, sunah, makruh, haram, semua masih bisa berubah tergantung situasi dan kondisi. Dari itu, wacana “Islam Nusantara” sebaiknya dijadikan strategi dan label saja dalam berdakwah dan mengembangkan ummat, adapun Ideologi adalah “Islam” itu sendiri yang penuh dengan komprehensifitas dalam menghadapi zaman dan keadaan.

Kantor PW IPNU Jawa Tengah Semarang, 30 Juni 2015 M.

Iklan

One thought on “Tentang Islam Nusantara

Add yours

  1. TIDAK SEMUA ORANG YANG DAPAT MENERIMA PENDAPAT SESAORANG, WALAUPUN IA BERLANDASKAN FIRMAN DAN SABDA. AKIBATNYA IA SANGGUP MENYALAHI ORANG LAIN, YANG TIDAK SEHARUSNYA IA LAKUKAN. SEANDAINYA IA BERSIKAP ADIL. KEBENCIAAN NYA BERDASARKAN KEBODOHAN. SELAWAT DAN SALAAM..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: