Aku dan Kamu

Malam ini sepi. Hanya detak jam dinding yang berbisik teratur. Ia setia menjaga orang-orang yang tidur, dan tepat jika dilihat di waktu pagi. Detakan jam dinding di malam ini tak seperti biasanya. Mungkin ia malu pada detak jantungku, yang berdegup lebih kencang. Seakan ia memberi ruang kesunyian untuk kumasuki sebagai peraduan.

Hari ini adalah hari bersejarah. Aku mengatakan cinta pada seseorang. Langit dan bumi saksinya. Ia terdiam. Tak mampu meski merangkai satu kata. Meski begitu, aku melega. Aku sudah mengatakan cinta padanya. Terserah ia menerima atau menanggapi dingin sahaja.

Aku bukan lagi remaja. Usiaku perlahan menua, dirampas oleh waktu. Takkan ada lagi kata-kata rindu sebatas rindu. Namun rinduku adalah masa depan kau dan aku. Itupun jika kau mau dan kita bertemu di ruang rindu. Jika kau mengabaikan itu, masih ada rumah tempat ku kembali, dan masih ada tuhan tempatku mengabdi.

Cintaku memang belum lama. Ia mekar seiring pertemuan kita. Lalu detik demi detik ia tumbuh dan menguat. Waktu dibuatya lambat berjalan. Kemudian bunga-bunga mekar di taman keindahan. Kukira ini cinta sederhana dan wajar. Cinta yang yang memang diluar kekuasaan manusia. Sebab, aku memang tak mudah jatuh cinta.

Dan kau, sampai kini masih membisu. Seakan menunggu ilham dari langit atas ketulusan cintaku. Aku mewajarkan. Sebab, rasaku belum tentu rasamu. Kita berbeda, dengan kedirian yang tak sama. Untuk itulah, tanyakan hatimu, sedalam dalamnya, sejujur-jujurnya, bahwa aku ini siapa. Adakah aku ada di lorong sempit hatimu? Atau hanya ada dalam senyum bibirmu? Hanyak tuhan dan kamu yang tahu.

Aku percaya, bahwa tuhan selalu menyiapkan jodoh untuk manusia, seperti ketika menciptakan Adam dengan Hawa, Ibrahim dengan Sarah, Yusuf dengan Zulaikha dan Muhammad dengan Khadijah. Kuduga, kaulah jodoh yang ditakdirkan tuhan itu untuk menyempurnakan ibadahku. Seandainya salah, tentu karena aku manusia seperti pada umumnya. Aku tak mengapa.

Malam semakin larut. Udara dingin pagi mulai terasa. Aku masih belum tahu apa yang kau rasa. Apalagi yang akan kau putuskan. Terlepas dari itu, aku sudah siap menerima takdir. Bagiku, hidup ini misteri, kau salahsatunya. Aku hanya bisa menerka-nerka. Selain dirimu, aku masih menyimpan sejuta kemungkinan untuk melaju ke masa depan.

Purworejo,  28 Agustus 2015- 01:17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: