Apa Beda Lelaki dan Wanita? [kiriman cerpenmu – 2]

“Apa bedanya laki-laki dan wanita? Bagi kami sama saja yang penting bayinya lahir denga sehat”. Pernyataan ini sering Aisyah dengar di televisi maupun para tetangga yang ditanyainya tentang harapan terhadap jenis kelamin apa yang diinginkan pada bayinya.

“Kampret benar jawaban mereka, bagaimana mungkin mereka bilang apa saja tak masalah, laki-laki baik; wanita juga tak menjadi soal, sementara tak ingatkah mereka dengan kaum jahiliyah yang mengubur hidup-hidup bayinya karena jenis kelamin wanitanya. Tapi ah, bukankah mereka dan kaum jahiliyah adalah makhluk berbeda dan bukankah hampir terjebak untuk menyamakan dengan kejahiliahan sudah merupkan kejahiliahan?” Aisyah menggelengkan kepalanya, berharap makhluk-makhluk yang membuat gaduh dikepalanya terdiam. “Tak bisakah mereka berhenti mengganggunya barang sebentar?”

Keadaan dihapadannya kini bukan keadaan yang mudah. Seorang ibu sedang mati-matian berusaha mengeluarkan sesuatu yang disebut bayi. Bagi ibu dihadapannya kini, ini bukan kali pertamnya ia melahirkan, tapi tetap saja perjuangan tidak menjadi enteng.

“Ini akan jadi anak ke-7”, ucap ibu itu dibarengi senyuman lebar dibibirnya sebelum proses kelahiran.

“Anak ke-7?” Ucap Aisyah kaget. Ia melihat si ibu dari ujung kaki ke ujung rambut.

“Saya menikah sejak usia 16 tahun”. Pernyataan si ibu menjawab keheranan Aisyah, muda dengan 6 dan hampir 7 anak.

Menjadi perawat entah sebuah karma, balak atau musibah bagi Aisyah. Dari kecil hal yang paling ia takutkan adalah darah. Jangankan melihat, mendengar cerita tentang darah dan kelahiran saja, selalu sukses membuat kaku kakinya sehingga tidak bisa digerakkan untuk beberapa saat. Namun sekarang ia berdiri di selangkangan yang terbuka dengan darah yang melekat tanpa ampun disetiap inci sarung tangan prakteknya.

“Hidup kadang dijalani untuk menjadikan orang bahagia dan bertepuk tangan dengan ketakutan yang biadap menyiksa diri kita” renung Aisyah, saat batok kepalanya mulai memerintahkan untuk takut berlebihan terhadap yang terjadi diantara selangkangan itu.

“Sabar bu, sebentar lagi keluar bayinya, ambil nafas dalam-dalam dan buang…”, ucap Aisyah.

Keringat si ibu keluar seukuran biji jagung benar. Hampir menangis Aisyah melihat pemandangan ini. Namun yang lebih membuatnya menangis adalah ketidakmampuannya menjauhi hal yang ia sangat takuti: darah.

“Koe ki cah wedok, kudu manut bapak. Kalo koe cah lanang bapak ora masalah ngeculke nuruti karepmu, tapi koe ki cah wedok”.

“Tapi pak…”.

“Ora ono tapi-tapian. Besok mendaftar di Akper. Bapak pingin kamu jadi perawat. Dan kamu wanita, pekerjaan itu pantes buat kamu yang wanita”.

“Tapi pak…”.

“Ndak ada tapi-tapian. Sudah, bapak mau istirahat”

Dan tentang omongan yang selalu ia dengar tentang “apa bedanya lelaki dan wanita?” “Bagi kami sama saja” terlihat seperti muntahan dari orang yang memakan bangkai campur susu dan keju.

“Oeeek”, “alhamdulilah”, terdengar kalimat hamdalah diruangan bercat putihtulang itu. Bidan, Aisyah dan seorang temannya lega.

“Bereskan”.

“Iya”.

“Selamat ya bu, saya tinggal dulu, ada persalinan lain”, ucap dokter.

“Bayinya wanita bu”, kata Aisyah lirih dengan menggendong sang bayi. “Langsung dipeluk ya”.

Ibu itu terlihat senyum sumringah. Kebahagian memang tak bisa bohong, dan harusnya sang ibu pingsan setelah berjuang mati-matian, tapi toh ia sempat tersenyum dan bahagia.

“Sudah lahirkah anakku?”, suara serak lelaki separuh baya terdengar.

“Iya, wanita”, jawab Aisyah.

“Wanita? Ini anak ke-7 wanita kami”, sambung sang ayah.

“Jadi semua wanita?!, seru Aisyah setengah tak percaya.

“Iya”, ke-2 pasangan pasutri didepan Aisyah kini sedang saling menatap penuh cinta.

“Ah, mungkin selama ini aku salah. Didepanku pasutri dengan 7 anak wanita dan mereka bahagia. Jelas mereka kaum jahiliyah dan mungkin mereka bukan tipe orang tua yang merasa seperti ditindihi truk dengan muatan 8 gajah karena mendapat anak wanita. Secara, anak ke-7 tapi tetapi bahagia”, batin Aisyah. Aisyah keluar, diyakinkan kepada dirinya sendri untuk memberikan keleluasan pada kebahagiaan ini. Aisyah keluar, ada perasaan optimis melihat kenyataan baru ini dan pemandangan tentang jenis kelamin yang menimbulkan dikotomi perlahan mulai memudar. Benar, jenis kelamin bukan masalah. Wanita atau lelaki sama saja. Ada perasaan lega dan haru didadanya, tapi senang karena bisa terbebas dari beban yang ditimbulkan pikirannya sendiri tidak bisa dibohongi.

Aisyah harus bebersih dan kembali lagi ke ibu tadi untuk merawat bayinya. Dipercepat prosesi pembersihan. Mula-mula dibuang sarung tangan prakteknya yang penuh darah, lalu ia mencuci tangannya. Terasa benar lama waktu yang dibutuhkan untuk pembersihan ini. Cepat-cepat dilangkahkan kakinya menuju kamar yang baru 10 menit ia tinggalkan

“Anakku wanita lagi Gong, 7 wanita. Kau bisa bayangkan enaknya hidup tuaku nanti? Mereka pasti akan tumbuh cantik seperti ibunya, dan pasti perhari tidak sepi dari 8 pelanggan per-anak. Aku akan punya usaha prostitusi yang besar Gong”

[Karya dan kiriman dari seorang wanita yang kucintai, 19 Agustus 2015]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: