Kaki Sahabatku Patah

[catatan sahabatku _01]

Kondangan kemarin saya nginep karena kemalaman. Disana bertemu senior saya, Mas Bahtiar Rifa’i atau lebih dikenal dengan nama Babah. Kami bertemu setelah sekian tahun dipisah oleh jarak dan waktu. Meski begitu, aku sering komunikasi via medsos.

Tahun lalu Mas Babah kecelakaan. Kakinya patah. Kini ia berjalan dengan bantuan Kruk (alat bantu jalan).

Aku banyak ngobrol dan dengan Mas Babah, meski kadang sungkan dan nggak enak hati. Entah kenapa ada perasaan berkecamuk dalam hati. Mungkin karena agak empati dengan kondisinya saat ini. Padahal dulu ketika sering gitaran bareng, aku begitu lepas jika ngobrol kesana kemari.

Mas Babah adalah sosok yang kuat dan mandiri. Ketika kami berjalan keluar untuk menyambut tamu seorang kyai, sedang Kraknya tertinggal, ia tak mau dibantu. Ia tak mengeluhkan kondisi. Perjalanan hidupnya yang panjang berliku dan pernah singgah bekerja di beberapa pulau di Indonesia, seakan memberi kekuatan tersendiri.

Kini ia bekerja dirumah membuat bibit-bibit tanaman bersama ibunya. Jika ada kesempatan, suatu saat aku berniat akan berkunjung kesana.

Aku nginep namun terbangun tengah malam karena kedinginan. Lalu dilanjut ngobrol dengan beberapa teman sampai menjelang Subuh.

Waktu gema adzan pecah, Mas Babah bangun. Dengan semangat ia menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Langkahnya gontai sambil sesekali berpegang dinding dan pintu. Kemudian ia dandan mlipis untuk menghadap ilahi. Ia shalat berjamaah dengan penuh kekhusyukan dan rasa sayang.

Aku baru mengambil air wudlu kemudian. Sampai selesai dan menuju tempat shalat, kulihat Mas Babah masih khusyuk wiridan, mengagungkan asma tuhan. Lama. Dikala dingin menikam orang-orang dalam lelap, Mas Babah bermujahadah.

Dalam hati, aku merasa terenyuh, kagum, malu, bangga dan haru jadi satu. Aku merasa telah menyia-nyiakan nikmat tuhan yang telah diberikan; kadang shalat kesiangan atau tak sempat wiridan, mengagungkan asma tuhan.

Memiliki dan (men)dekat dengan tuhan, inilah mungkin yang membuat Mas Babah tetap semangat, pantang menyerah, ceria dan asik menjalani kehidupan. Ia memiliki kepribadian dan sebuah harapan di masa depan.

Di waktu subuh kali ini, peristiwa kemarin itu kembali terngiang. Untuk itu aku membuat ini catatan sebagai pengalaman perjalanan. Semoga Mas Babah selalu diberi akses kemudahan oleh tuhan dan sukses di masa depan.

Purworejo, 29 Juli 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: