Ibu, Aku Pamit Gila [kiriman cerpenmu – 1]

Seorang wanita terlihat berdiri diluar pagar yang melindungi bangunan besar itu. Hampir 1,5 jam ia melakuknnya. Matanya terus menatap ke pintu besar yang terbuka, jelas telihat banyak orang yang bertingkah aneh berlalu lalang. Tangan wanita muda kembali meremas jeruji besi pagar untuk kesekian kalinya. Matany panas, namun tak sanggup berair.

“Kau dari mana lagi?”, wanita paruh baya bertanya ketika diketahui ada yang masuk kerumah yang ckup besar itu.

“Keluar”, jawab wanita muda bersamaan dengan tangan yang menaruh helm dimeja kayu.

“Ibu tau kamu baru keluar, tapi kemana?”

“Mala capek, bu, mau istirahat”

“Makan dulu, atau sudah jajan?”

“Belum, Mala belum lapar”

“Ini sudah sore, kamu belum makan dari pagi”

“Tidur dulu”

Wanita muda berjalan menuju kamar berpintu hijau. Langsung saja ia hempaskan tubuhnya di spring bed yang tak pernah mau digantikan.

“Bangsat benar mereka, hidup bebas tanpa harus berpikir apa yang terjadi; sedang terjadi; dan akan terjadi. Bangsat benar mereka, bisa berbuat seenaknya hanya dikira mereka tak punya akal. Akal berarti kesadaran, dan kesadaran berarti tau batas. Ah, brengsek dengan batas. Brengsek, brengsek!”

Dibenamkan wajah ayunya dibantal dalam-dalam. Andai matanya bisa menangis pasti lebih melegakan. Diambilnya HP di saku jaket. ‘Definisi bahagia’, search. Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang
intens. Gila ini definisi, mendefenisikan kegembiraan dengan kegembiraan, dan siapa pula yang mendefinisikan kebahagian? Kesepakatan dari mana?

Wanita muda yang bernama Mala itu mulai memejamkan mata. Tapi bukankah tak ada yang bebas dalam kebebasan yang terbatas. Bahkan mimpi dan tidurpun bukan domain manusia yang memiliki kebebasan. Tak ada cerita seseorang bisa merangkai mimpinya, atau menjamin kembalinya ruh saat tidur setelah dirasa cukup.

Oh bebas! Manipulatif sekali kau. Sungguh kata kebebasan hanya diciptakan sebagai pelipur lara manusia yang sadar dengan ketidakbebasannya. Makhluk goblok yang mengenaskan.

Habis wanita muda bernama Mala itu mulai memejamkn mata. Lalu…. aku harus tidur. Harus aku punyai sendiri kebebasanku, walau hanya dalam pejaman mata.

“Ini lelaki kesekian yang kemari, Mala”

“Mala ndak suka”

Otak Mala memutar kembali kejadian waktu itu. Lelaki yang menjanjikan kehidupan enak dan mewah sebagai ganjaran jika mala mau dipersunting. ‘Jih’. Kembali datang seorang lelaki, bagamana bisa ia mengaku suka hanya dengan sekali melihat Mala.

“Kamu sudah menikah”

“Maksudnya apa?”

“Barusan bapak menikahkan Mala secara agama”

“Ha? Katanya cuma mau main?”

“Keluarga sana minta menikah secara agama”

“Bagaimana dengan persetujuan Mala?! Tak pnting kah?!”

Terang sudah, kebebasan hanya lelucon.
“Dia gila setelah semua kekayaannya habis untuk membiayai keinginannya menjadi anggota dewan”

“Benarkah?”, timpal Mala medengar cerita sahabatnya.

“Ditinggal pacarnya”

“Kucingnya mati, dia gila”

“Melihat hantu”

“Membunuh anaknya sendiri, penyesalannya abadi, seminggu kemudian dia gila”

Pikiran Mala berjalan, sungguh ia telah punya cukup alasan untuk menjadi gila. Lalu bagaimana cara menjadi gila? Otak Mala berputar. Dilihatnya kebahagiaan dan kasih sayang dari semua orang dimatanya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa gila kalau masih banyak sebab untuk menjadi waras? Tapi bukankah ketidakpunyaan kebebasan dalam menentukan hidup merupakan hal yang wajar untuk menjadi gila?

Sebulan lagi ia akan dipaksa menikah. Benar. Mala harus gila! Mala kembali mendatangi gedung besar itu. Sungguh gedung ini sangat kontras bentuknya dengan bangunan-bangunan modern disekitrnya. Bangunan bercat putih ini terlihat teduh dan bersahabat. Ini hari ke-27 Mala mendatangi RSJ Prof dr Soerojo, namun kali ini bukan hanya berdiri, dimantapkan hatinya memasuki gedung bercat putih itu. Hati Mala berdebar, tapi toh ia menginginkan hidup disini, jadi ia akan belajar dari mereka untuk menjadi gila. Bukankah tak ada yang tak bisa untuk dipelajari didunia ini? Dan semoga termasuk gila didalamnya.

Mala memasuki ruangan yang ternyata mempunyai ruang terbuka didalamnya. Disana banyak orang-orang yang kehilangan waras. Ah, beruntungnya mereka tak merasakan keterbatasan dan sakit ini. Aku harus cepat belajar dari mereka. Dilihat satu persatu mata mereka, bibir, hidung, telinga, tangan, kaki. Mala lama mengamati mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Tidak! Aku tak boleh gila! Dikendarai sepeda motornya dengan kencang. Aku tak boleh gila! Brak!

“Bagaimanapun kami telah melakukan upaya sebisa kami, maaf bu”.

“Mala, mala anakku, ini ibu nak, ibu”.

Wanita Muda berdiri menghadap kaca. Ia mensengar tapi tak dapat memahami. Kini dunianya benar-benar bebas!

[karya dan cerpen kiriman dari wanita yang kucintai]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: