Puisi dan Sajakku II

Kehadiranmu

Kehadiranmu laksana hujan di musim kemarau
Menyemikan hatiku yang lama gersang
Memberiku embun kesegaran
Meneduhkanku bagai awan

Sinar matamu meruntuhkan keberanian
Keharumanmu adalah sari bunga dunia
Pikiranmu adalah makna, bukan katakata
Siapapun di dekatmu beresiko bahagia

Kutemukan mataku di matamu
Kutemukan hatiku di hatimu
Kutemukan hartaku di jiwamu
Kutemukan diriku di dirimu

Tuhan begitu terlihat jelas di dirimu
Tatapanmu adalah tatapan-Nya
Senyummu meringkas keindahan semesta
Demi Tuhan, kau lebih berharga dari dunia

Aku murni kepadamu
Itulah mengapa cintaku takkan lelah
Bahkan jika kita terpisah
Mengenalmu adalah anugerah

Seandainya pun aku adalah batu
Takkan berpatah arang mengharapmu
Meski harus menghentikan waktu dengan rindu
Walau harus merangkak dengan doa untuk menujumu

 Purworejo, 20 Agustus 2015
Kau Tidak Fair
Kau sungguh tidak fair.
Mengapa selalu memata-mataiku di pelbagai tempat dan ruang waktu. Tahukah kau, ini menyiksa batinku. Nafasku menjadi sesak di dada, menahan beban yang mereka menyebutnya rindu.Kau sungguh tidak fair.
Menyiksa hari-hariku hanya dengan satu sayat senyuman. Memompa jantungku hanya dengan satu tatapan meneduhkan. Meracuniku dengan virus-virus kegelisahan.

Kau sungguh tidak fair.
Meninggalkan jejak dan teka-teki yang sulit kuterka. Lalu membakarnya menjadi kepingan kenangan. Kau biarkan aku sendirian menyulam.

Kau sungguh tidak fair.

Purworejo, 20 Agustus 2015

Lagu Bang Iwan

Lagu-lagu bang Iwan Fals masih membersamaiku menaklukkan malam ini dengan hati dan pikiran. Terima kasih, lagu-lagumu adalah kehidupan, menghadirkan kenyataan dan menggembirakan kesunyian.

Udara pagi ini mulai semerbak dingin. Perlahan langit melepas malam. Ayam-ayam memanggil mentari untuk mengabdi pada bumi.

Sementara deretan kata itu masih saja mangkrak. Padahal ia sudah bernafsu untuk ditata dalam bait-bait. Ah, aku masih ingin memanjakan diri sambil menunggu pagi.

Kini pagi terlihat menjemput dengan senyum segarnya. Aku harus kembali bermain kata, meletakkan jari-jemari di keypad komputer hitam muda. Harus kurangkai, sebelum keperawanan waktu direnggut sang senja. Kita tunaikan janji di Jogja.

Purworejo, 31 Agustus 2015

Jogjakarta

jogja!
semoga kelabuku di malam ini saja!

lampu-lampu kota inilah yang dulu memayungi kita penuh cinta
membelah malam tanpa tujuan kemana
kurasakan, melayang diatas becak ternyata lebih mendamaikan
memetik keindahan
ini karena kaulah yang memesan

kembali kulewati jalan itu
kulihat manis senyum bayangmu
di trotoar kita berpisah dulu
kini, kuziarahi kenangan itu

Jogjakarta, 31 agustus 2015

Cinta Ini

Istana cinta di bumi ini sudah kubangun cukup megah. Namun engkau masih saja di istana langit, enggan turun dengan sayap-sayapmu. Aku khawatir kau terlena sehingga lupa, bahwa selain bidadari yang mengabdi dengan cinta suci, kau juga seorang khalifah, pengganti Tuhan di muka bumi ini.

Kemarilah… ke istana cinta di bumi. Meski istana ini takkan pernah hancur, namun jangan biarkan ia berdebu tanpa penghuni.

Purworejo, 02 September 2015

Kau Sendiri

Kau sendiri berjalan dilorong sempit dunia ini
Mencari dan menemukan jejak-jejak Ilahi Rabbi
Hingga kau temukan cinta sejati
Dzat yang selalu memaafkan dan mencintai

Kau punya dunia sendiri
Apa yang kau lihat dan rasa adalah pancaran yang maha suci
Ia pemilik segala jiwa-jiwa yang sunyi
Baik dan buruk kepadanyalah kembali

Kau terkurung dalam cintanya
Keindahan cinta yang tiada bandingnya
Jauh melebihi kadar cinta yang dimiliki umat manusia
Cinta abadi yang amat mempesona

Ia hadir pada hembusan angin
Pada tumbuh-tumbuhan
Pada semut dan semua binatang
Pada siang dan malam

Meski terus kau sakiti, cinta itu akan selalu memaafkan
Oh, betapa dahsyatnya cinta sang pemilik alam
Mengecilkan semua ideologi, pemikiran, peradaban dan kekuasaan
Semua ditundukkan oleh raja dari segala raja, tuhan dari semua agama

Aku bergembira bisa mengenalmu, duhai cinta
Betapa tuhan berlinang cahaya dan cinta
Aku jadi bisa belajar bagaimana menjadi hamba
Agar tak sekadar hidup lalu mati begitu saja

Purworejo, 02 September 2015

Dia Yang Menyayangiku

Sudah lama kuacuhkan Dia. Dia yang tak nampak oleh mata, namun bisa dirasa. Dia begitu setia. Meski terus disakiti, Dia selalu memaafkan. Cinta dan kasihnya tak pandang bulu. Di sisa-sisa hidupku, ku ingin lebih dekat dengan-Nya.

Kasih-Nya tak terhingga. Dia yang menumbuhkan padi untuk kita, mengalirkan air dan memunculkan mentari. Dia yang menyediakan segala yang di bumi dan langin untuk kita kelola dan nikmati. Alangkah indahnya jika bisa bersanding memadu kasih dengan-Nya.

Dia yang menumbuhkan dan menghentikan pertumbuhan gigi. Dia yang mengatur setiap detak jantung. Dia yang menyediakan nafas untuk kita hirup secara gratis. Dia yang menidurkan dan membangunkan kita. Dia yang memberikan aksea rejeki buat kita, entah yang kita sangka atau tak disangka.

Dia yang selalu ada menemani dikala kita jatuh dan senang. Dia yang mengatur alam. Dia yang menciptakan aneka tumbuhan. Dia yang mencipkan segala macam dedaunan. Dia yang memberi rizki nyamuk sampai macan. Dia, Dia, Dia.

Purworejo, 16 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: