Jika

Jika,
Tasauf adalah seni dalam agama
Lukisan adalah seni dalam warna
Musik adalah seni dalam nada
Gocekan adalah seni dalam sepak bola
Sastra adalah seni dalam kata
Humor adalah seni dalam berbicara

Maka,
Kau adalah seni dalam hidupku yang fana. Baik suka maupun duka. Ketika sedih maupun bahagia.

05 April 2105

Biar

Biar resah ini kubawa lari sendiri
Berkobar membakar keliaran akal dan hati
Selagi bersandar pada ilahi rabbi
Biarlah kutapaki jalan sunyi ini
Kulihat ia besar tapi kecil dimata Tuhan
Mengoyak angan dan membunuh keberanian
Kucari butir-butir hikmah keadaan
Sambil berperang melawan kenyataan
Mengandalkan Tuhan.
27 Mei 2015

Menyapa Rindu

Sudah lama tak kusapa rindu
Kadang ia menjerit dalam keramaian, kadang menyerah di malam temaram
Namun kebanyakan ia menghibur diri, dari mimpi dan khayali

Kini kudengar ia memanggil, sambil sesekali menggoda hasrat yang kerdil

Rinduku tertawan
Tak mampu ia melawan
Hanya desah dan resah yang kan membunuhnya perlahan
Belum ada tulang rusuk yang mampu selamatkan

Kulitnya kini mulai keriput
Matanya perlahan sayup
Nyalinya kian menciut
Cahayanya semakin redup
Hanya cinta didadanya yang masih meletup

Rinduku adalah makhluk
Ia temani langkah
Menjelma indah
Setia pada garis kenangan
Membentengi keputusasaan

Suatu saat aku kan mengajaknya ke dunia cinta
Mengisi jiwanya dari kegersangan panjang
Agar tetap bisa memesrai kenangan
Kuharap ia segera datang menjelang

Semarang, 12 Agustus 2015

 

 Hujan

Tiba-tiba aku rindu hujan
Membasahi tanah dan hati yang gersang
Mengaliri jiwa-jiwa yang dahaga
Menyuburkan cinta dan tawa

Tiap tetes airnya adalah kenangan
Saat kita terbuai indahnya masa kecil
Saat kita dibelenggu kerasnya hidup
Saat kita memperjuangkan kebenaran
Saat kita bermesraan di malam panjang

Ingin kupanah langit, agar air hujan itu tumpah
Lalu kita kembali ciptakan kisah indah

Kan kuteduhkan kau dengan payung-payung ketulusan
Selimut asmara yang menghangatkan
Serta bait-bait kata indah ditengah gelisah

Semarang, 12 Agustus 2015

Kosong

Kenapa kini hari-hariku kosong? Tak melihat apapun, kecuali Dia. Menghantuiku hingga buta segalanya.

Gedung tinggi itu sejatinya tiada. Mobil-mobil itu besi dari bumi. Film-film di tivi itu mati.

Manusia dari jiwa yang satu. Satu itu entah dari mana. Kata guru, dari tuhan adanya.

Langit, bumi, gunung, udara, air, binatang, sejatinya tak ada. Ia ada dan akan kembali kepada ketidak-adaan.

Hari-hariku kosong, disesaki kebingungan. Aku bernafas secara otomatis. Diatur jam lapar dan kenyangnya. Di manage kapan tidur dan bangunnya.

Aku ingin berlepas dari pikiran buntu ini. Namun sia-sia. Semuanya terpikir secara alamiah.

Kulihat sandiwara tuhan begitu sempurna. Menjadikan manusia berlomba-lomba. Bernafsu. Berhasrat. Berakal. Berpikir. Bekerja. Beranak-pinak. Lalu semua akan mati, dikubur bumi dan sirna ragawi.

Kadang kulihat, begitu menarik makhluk ini; lain dari jin dan malaikat. Satu membangun kebaikan, satunya meruntuhkan. Satu membela kebenaran, satunya menyesatkan. Satunya baik, satunya mengolok-olok. Sungguh dinamis kehidupan ini.

Semua akan hilang dan pergi, kecuali “cinta” yang kita miliki. Cinta yang megah dan agung. Cinta yang menjadikan “alasan” tuhan mencipta semesta.

Ah, semua masih bisa kupikir, kubaca dan kutafsiri. Sekali saja aku terdiam membisu dalam hidup ini; ketika ditanya, “Siapakah kamu?”

Semarang, 13 Agustus 2015

Kenangan

Untung tuhan menciptakan makhluk bernama kenangan.
Dengannya, kita masih bisa kembali ke bilik-bilik masalalu yang penuh keindahan.
Dengan memeluknya kita masih bisa menyetubuhi kesedihan.
Dengannya pula ada kehidupan imaji yang menguatkan.

Aku tak mampu hidup hanya dengan realitas.
Aku butuh pelangi kenangan.
Untuk kubawa bersama lentera harapan.
Aku mengais gagasan untuk keterjemahkan di buku kehidupan.

Oh, batapa indah dan hebatnya kenangan.
Sedetik bersamamu mengindahkanku berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Senyummu melekat dari hari ke hari meneduhkan.

Setelah perpisahan, kini jarak menumbuhkan rindu.
Ia tak henti alunkan lagu dengan teramat merdu.

Dunia ini kecil, duhai pujaanku.
Hanya tafsirannya yang jauh dan berliku.
Kuharap lalulintas waktu akan membantu kita bertemu.
Untuk saling melepas rindu.
Minimal rinduku.

Semarang, 14 Agustus 2015