Perkenalanku dengan NU

Bagi sebagian besar orang, apalagi sekarang, mungkin tak penting mengetahui apalagi membahas apa itu NU? Siapa yang bikin? Tujuannya apa? Perjuangan dan dinamikanya seperti apa? Sampai seberapa pentingnya NU untuk diketahui? Buang-buang waktu. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diurus. Mending mikirin anak belajar di sekolah favorit agar bisa bekerja di tempat yang terhormat, agar bisa dibanggakan kepada tetangga. Masih mending lihat gosip apa yang terbaru dari artis Anung dan Syahroini atau sinetron Tukang Tipu Naik Haji. Masih mending membahas bagaimana dinamika politik tanah air yang seakan tak ada yang benar. Masih mending membahas tren musik, film, mode atau teknologi gadget terbaru dari negeri adidaya. Intinya apa itu NU sangat-sangat tak penting di kehidupan ini untuk dibahas. Hanya buang-buang waktu saja.

Namun jangan salah. Ditengah gempuran modernitas yang sedemikian tak terbendung, ada sekelompok manusia yang unik. Mengapa unik? Yah, karena mereka begitu cinta dengan NU. Hari-harinya dipenuhi diskusi dan pembahasan dengan NU. NU seakan sudah menjadi agama dan nadi. NU seakan sumur yang tak pernah kering airnya ditimba dalam berbagai kalangan dan pembahasan. Bahkan, lantai kantor pusatnya diinjak oleh sepatu Presiden Iran Ahmadinejad sampai sendal jepitnya Koirul, warga nahdliyin dari desa. Selalu menarik dan menjadi tema bahasan pagi jamaahnya. Juga bagi “musuh-musuhnya.”

Menjelang muktamar ke-33 ini, aku ingin menulis perkenalanku dengan Nahdlatul Ulama.

Sama seperti kebanyakan orang, aku tak tahu dan tak menganggap penting apa itu NU. Masa kecilku kuhabiskan untuk bermain layang-layang, membuat mobil-mobilan, cari ikan di sungai dan tentunya ngaji di madrasah dengan lampu-lampu senthir atau teplok yang kini sudah tiada lagi. Bermain, sekolah dan ngaji itulah kuhabiskan.

Disela itu, kadang ibuku mengajakku untuk ikut berjanjen secara bergilir setiap malam senin. Aku senang meskipun motivku lebih banyak karena faktor snack dan makanan yang disajikan. Bahkan, pernah aku di ajak acara ibu-ibu di kecamatan. Sama. Aku hanya tidur dan bangun ketika snack atau makanan datang. Belakangan, ku ketahui nama perkumpulan ibu muda tersebut bernama Fatayat NU, sayap organisasi NU untuk pemudi dewasa. Kini, ibuku menjabat sebagai Ketua Fatayat NU ranting di desaku.

Untuk Bapakku, ia punya komunitas dan gank tersendiri. Kegemarannya adalah keliling kenduren (kenduri). Membaca kalimah thayyibah untuk kebaikan, mengingat tuhan dan ditransfer kepada arwah leluhur. Tiap kali dapat jatah giliran, aku senang karena bisa makan telur ayam bahkan kadang ayam. Perlu dimengerti, waktu itu daging, roti dan mie instant amat mahal dan mewah. Kalau pas bapak kenduren diluar, sampai malam kutunggu berkatnya dirumah. Kadang telur atau daging yang sepotong itu harus dibagi-bagi. Itu dulu, beda dengan kini yang semua gampang dicari.

Kuketaui, kakeku juga aktivis NU. Ini kulihat dari undangan yang sering ada di meja beliau ketika aku minta uang saku. Ternyata kakeklah penggagas sekolah Ma’arif NU pertama di kecamatanku, atas bantuan rekan seperjuangannya di NU, KH Saifuddin Zuhri Sokaraja, Banyumas.

Setelah makan bangku SD aku nyantri dan sekolah di pesantren. Baru kemudian kenal dan dengar apa itu IPNU, PMII, NU serta semua nevennya. Kupelajari dan kupelajari sampai kemudian menjadi salahsatu pengurus struktural.

Ternyata, apa yang telah aku dan masyarakat secara umum lakukan adalah ritual NU. Baik kenduren, tahlilan, berjanjen, ngaji utawi iki iku, riyadlah, dan berbagai tradisi lain. Kebanyakan ini dilakukan di desa-desa, oleh karena dampak penjajah yang menggiring pesantren, ulama dan juga orientasi Mataram Islam dari maritim ke agraria. Baru ratusan tahun kemudian visi maritim itu digagas kembali oleh Gus Dur dengan membentuk kementriannya.

Awalnya, kusangka NU adalah hanya ritual-ritual itu saja. Kusangka NU itu organisasi pinggiran orang-orang ndeso yang katrok. Kusangka ditengah gempuran modernisme, NU akan habis dan punah. Ternyata tidak! Justeru sebaliknya. Masa depan Islam dan dunia adalah milik NU. Secerdas-cerdasnya presiden Amerika, masih kalah bijak dengan ulama NU. Peradaban barat gagal setelah menggunakan pengetahuan untuk menindas, menghancurkan dan memperkosa sumber daya alam.

NU adalah penerus Walisongo, organisasi terstruktur untuk membentengi mapping dunia yang waktu itu dikuasai oleh Potugis dan Spanyol dalam Perjanjian Zaragoza dan Tralade Tordosillas. Dunia dibagi dua bagian untuk diperkosa diambil segala potensi dan sumber dayanya. Meski jebol pada 1511 dengan adanya Portugis di Malaka, sekaligus pertama kali pembangunan gereja, toh di Jawa para wali sudah kuat dan mampu mendirikan Kesultanan Islam Demak. Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor melawan habis Portugis dengan berkoalisi Kerajaan-kerajaan di Jawa dan luar Jawa, namun kalah. Dulu di benak masyarakat Jawa yang dinamakan gentleman itu, berkelahi satu lawan satu. Ini Portugis tidak, bahkan mereka malah membawa meriam. Main keroyokan. Kita kalah. Namun setidaknya Demak sebagai pusat pemerintahan sudah berjuang. Kisah apik dan heroiknya peperangan direkam oleh Pram dalam novel Arus Balik.

Pada 1900-an, dimana kita masih dalam cengkraman penjajah, cikal bakal NU yaitu ulama dan kyai-kyai pesantren sudah aktif berjuang. Mereka tidak kooperatif dengan Londo atau Belanda. Jauh sebelum sekolah umum dibangun atas dasar politik etis, nenek moyang ulama NU sudah banyak mendirikan pesantren dan madrasah, mencedaskan pribumi. Malang, ketika sudah merdeka, lulusan madrasah tak diakui. Oleh karena dianggap tak resmi jika tak berijazah. NU mengalah.

Ketika Inggris dan AS berhasil memisahkan Tanah Hijaz dari Turki Utsmani agar minyaknya bisa di elsploitasi, lalu diresmikan paham Wahabi sampai pada ingin membongkar makam baginsa nabi, kyai-kyai ndeso ini tak tinggal diam. Mereka membentuk Komite Hijaz untuk berdiplomasi menyelamatkan. Berhasil. Makam nabi tak jadi dibongkar. Situs sejarah terpenting siselamatkan. Kekuatan besar dunia dilawan.

Ternyata tak sesederhana yang aku kira sebelumnya. Jaringan ulama dan kyai dan pengetahuan geo-poliknya begitu kuat dan hebat. Bahkan, ulama Jawa banyak diakui di Makkah menjadi Imam Masjidil Haram dan menciptakan banyak kitab dan karya. Tradisi intelektual di pesantren juga liar biasa. Banyak karya dan ijtihad lahir dari soal sesuci sampai kaidah berbangsa dan bernegara.

NU ternyata lengkap, tak seperti yang dulu kuduga. Lahirnya karena faktor agama, politik, ekonomi dan budaya nusantara agar tak diinjak-injak asing dan sesuai dengan syariat Islam. NU lah yang selalu setia kepada agama dan negara tercinta. Bahkan ketika dikebiri selama 32 tahun oleh otoritarianisme Orde Baru, NU tak jua memberontak. Sampai-sampai sekolah Maarifnya mau ambruk. 32 tahun tak pernah mencicipi manisnya pembangunan dan hasil perjuangan, yang justeru mengalir kepada organisasi yang dulu membuh tradisi bangsa dan ingin berkiblat ke Eropa.

Pasca Reformasi ada angin segar untuk NU. Bisa memiliki presiden dari kaum sarungan, yang menggemparkan dunia karena humor, terobosan, ide, kecerdasan dan tentunya karena kebutaannya. Baru NU bisa bikin perguruan tinggi. Baru NU bisa meneladani seniornya KH Wahid Hasyim yang membikin negara, untuk turut mengelola negara.

Perkenalanku dengan NU memang baru sebentar, namun seolah panjang. NU memang masih banyak kekurangan, namun aku yakin untuk selalu ikut memperjuangkan. Tak hanya dunia yang kecil dan sebentar ini, tetapi juga ikut perahunya sampai akhirat kelak. Hanya ulama NU hari ini yang bisa kupercaya dan bertanggungjawab membawaku di dunia sampai alam baqa.

NU, esok 1-5 Agustus akan melaksnakan muktamar ke 33-nya di Jombang, tanah kelahiran. Semoga periode lalu yang dapat membangun 24 Universitas, puluhan sekolah dan banyak lainnya, bisa lebih baik di kepengurusan mendatang. Rumah sakit, panti asuhan, lembaga ekonomi, media, budaya, pendidikan tinggi dan pesantren harus terus dipikirkan agar berkemajuan sesuai kebutuhan zaman. Sudah tidak saatnya lagi berduel sengit menyoal bid’ah dan transfer pahala. Kini tantangannya lebih komplek dan nyata. Semoga kedepan semakin maju dan bermanfaat untuk semua.

Selamat bermuktamar NU. Insya Allah aku akan berkunjung kesana, menyaksikan muktamar untuk pertama kalinya. Sowan kepada alim ulama para panutan anak bangsa. Sementara, kini aku masih mencari bekal dan amunisi untuk kesana.

[Base Camp PC IPNU Purworejo, 31 Juli 2015]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: