Menjelang 17 Agustus 2015 aku mendapat share acara pelatihan jurnalistik di Krapyak DIY. Iseng, info itu aku crop dan kukirim kepada AR, juniorku dulu di SMA. Aku sedikit tahu dia suka nulis di blog. Tak kunyana, ia setuju dan mau ikut acara. Kami janjian. 

Malam dinihari, tak kunyana mendapat SMS dari panitia. SMS itu mengabarkan bahwa kuota peserta sudah penuh. Duh! Gagal deh rencana ke Krapyak.

Namun aku tak segera mengabari AR. Aku tidak enakhati kalau rencana ini gagal. Padahal kita sudah sepakat berangkat mbolang, ngebus kesana biar lebih asik. Rencanaku, setelah sampai Jogja baru ku kabari. Dia akan ku ajak jalan-jalan saja nyari buku atau ngopi bersama. Kebetulan juga, di malam itu ada Maiyah bersama Cak Nun di Kasihan Bantul. Kalau mau, ia akan ku ajak kesana.

Tepat di hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-70 itu, aku meluncur dari Semarang menuju terminal bus Muntilan, Magelang, tempat kami janjian. Karena sedikit macet, aku baru sampai sekitar pukul 12.00 WIB. Sampai terminal, aku menuju mushala terminal untuk mandi sekaligus shalat.

Usai shalat, aku menuju tengah terminal mencari AR. Ketemu. Ia melambaikan tangan menyapaku. Kutemui dia, bersalaman dan ngobrol ringan.

Aku agak pangling. Dia begitu terlihat cantik. Menggunakan jilbab hitam, baju hitam dan rok semi celana kuning tua. Oh ya, ia juga memakai kacamata min besar. Paduan yang serasi dan mempesona.

Ia meminta maaf tak sempat membawakan makanan. Ia mengajak sarapan dulu, tapi kutolak karena belum begitu lapar. Kami duduk bersebelahan, ngobrol tentang orang-orang yang dekat dengannya. Aku agak canggung, oleh karena lama tak “kencan” jalan berdua dengan wanita. Ia menawari permen yang selalu ada di tasnya. Kami asik ngobrol sambil menunggu bus jurusan Jogja datang.


Bus datang. Kami naik. Karena penuh, kami duduk terpisah. Kulihat AR duduk dengan seorang turis. Ia ngobrol dengan begitu PD-nya. Sesekali kulihat, ia tampak manis dan mempesona.

Sampai di terminal bus Jombor, sekitar pukul 13.30 WIB. AR kuberitahu, bahwa semalam panitia menolak registrasi karena sudah penuh. Ia kaget: “Terus kita kemana?”tanyanya. “Kita jalan-jalan saja, atau cari buku.”jawabku.

Ia tampak sedikit kecewa, bingung dan campur-aduk. “Mas, kenapa sik nggak bilang dari tadi? Kita kan bisa batalkan rencana ini,” katanya sambil pencet-pencet HP. “Kalau kubatalkan tadi, rencana kita gagal lagi. Padahal kan aku masih hutang ngopi sama kamu” bela-ku. “Iya, tapi kan hari ini aku ada jadwal. Yah, nggak jadi deh ketemu sama penulis hebat itu,” jawabnya. Aku mencoba menenangkan diri. “Ayo kita naik Trans Jogja, muter-muter,” ajakku. “Ah, mas ini. Yaudah deh. Gila banget ini, jalan-jalan tanpa tujuan,”jawabnya sambil melangkah menuju halte.

Kami naik bus Trans Jogja. Kami duduk bersebelahan. “Mas, muter-muter Jogja pake bus ini aja.” ajaknya. “Oke, siap,” jawabku. Ia sudah melupakan rencana ke Krapyak. Kami ngobrol banyak. Ia menceritakan tentang keadaannya dewasa ini yang belum kerja pasca-wisuda. Curhat tentang beberapa kegelisahannya. Aku menyimak dengan seksama. Sesekali aku membesarkan hantinya. Ia nampak cerdas dan berpikiran maju.

Usai muter-muter dan ngobrol ngalor-ngidul, kami turun di Monjali. Nampaknya museum itu sudah tutup. Kami menyeberang dan mencari warung untuk minum. Maklum, banyak ngobrol di bus tanpa membawa minuman.

Di warung seserhana itu kami makan mie instan. Aku pesan kopi hitam, sedangkan dia kopi putih. Sesekali ia telfon dan utak-utek HP, membalas pesan temannya. Lalu kami banyak ngobrol seputar kehidupan masing-masing, khususnya diriku. Entah kenapa ia menanyakan pengalamanku berhubungan dengan perempuan. Aku ceritakan apa adanya dengan panjang.

Puas diwarung, ia mengingatkanku untuk shalat ashar. Namun setelah tanya, ia tak mendapat jawaban mushala terdekat. “Sudahlah, dijamak saja”, kataku. “Yaudah, kita ke Bantul saja sekarang,” ajaknya.

Tak kusangka, ia mau bermalam di Jogja. Padahal ia sempat menanyakan nginap-nya dimana dan kujawab di mushala. “Jangan lupa lho, kamu ijin orang tua, minimal ngabari bahwa kamu mau ngaji,”pintaku. Ia mengangguk, sambil bilang: “Bapak itu gampang kok, kalau sudah sampai rumah, nanti juga sudah guyon lagi”

Jalanan seputar Malioboro macet. Maklum, suasana agustusan ditambah di seberang jalan ada upacara penurunan bendera. Kami menungu bus lama. Ia sendiri menikmatinya dengan bermain dengan anak kecil, yang juga menunggu di halte bersama ibunya. Kulihat, ia sudah pantas menjadi seorang ibu yang baik. Kemudian bus datang, kami menuju terminal Giwangan.

Ba’da maghrib, sampailah kami di terminal Giwangan. Kuajak ia ke lantai atas, waiting room, mushala dan toilet. Aku menghadap tuhan dengan sedikit wiridan. Usai shalat, kuhampiri dia di waiting room, lalu kami keluar. Kutawari mau minum apa? namun iya menolak, sambil bilang yang penting sampai di tujuan dulu.

“Maaf pak, tanya, kalau ke Kasihan Bantul, naik apa, ya?” tanyaku pada penjaga terminal. “Wah, sudah habis, mas. Adanya taksi, ojek atau becak,” jawabnya.

Kami keluar sambil telfon Anjar Duta Pamiungkas, temanku yang biasa ikut Maiyah. Kini ia sedang di jalan naik pramex. Kata Anjar, sudah dekat lokasinya, naik taksi saja. Kami keluar mencari taksi. Namun diluar banyak tukang ojek dan becak. AR malah kepengin naik becak. Akhirnya setelah kutawar dan deal Rp.60.000, kita meluncur dengan becak.

AR kuminta naik duluan. Ia terlihat amat senang. Sepanjang perjalanan, sambil membelah malam, kami ngobrol beraneka-macam. Sesekali menggoda dan menanyai tukang becak.

AR tersenyum senang melihat pemandangan malam. Melihat-lihat tangkai pohon bak lukisan sampai gemerlap lampu kota yang memayungi kita.


Sesampai di Kasihan, Bantul, kami menuju Mushala. AR bebersih diri, sementara aku shalat Isya’. Usai shalat, AR mengajak mencari tempat untuk nge-charge HP. Kuajak dia di warung langgananKU di sebelah barat forum Maiyah.

Kutawari ia mau minum apa, dan dia minta es wehite coffe. Sementara aku seperti biasa, kopi hitam. Kutawari ia makan malam, namun ditolaknya. Lalu aku inisiatif makan sendiri, ia malah jadi kepingin, ikutan pengin makan. “Mas, barengan ya, biar lebih enak,” pintanya. “Jangan ah, dik. Aku malu, banyak orang. Kalau mereka pada kepingin, gimana?” Jawabku. Ia tersenyum memahami,  kemudian  berdiri mengambil nasi sendiri. Kami makan berhadap-hadapan sambil ngobrol.

Maiyah sudah mulai. AR mengajak kedepan panggung. Sayang, peserta sudah lumayan penuh. Akhirnya kita duduk agak belakang, namun masih jelas menyaksikan.


 

Sebelum Maiyah usai, Anjar yang dari tadi di belakang-luar forum, telfon mengajak ke Kadipiro, markas Letto. Ia bersama Rizki membawa mobil. AR kuajak, dan ia mau. Kami keluar forum yang masih dibersamai ribuan manusia itu. Kukenalkan Anjar dan Rizki pada AR. Lalu kami menuju warung sebelum ke Kadipiro. Waktu ngobrol berempat di warung, aku dan AR terpingkal-pingkal. Anjar dan Rizki saling sikut dan perang mulut saling merayu dan menjatuhkan untuk mendapat simpati AR. Ketika bercanda, mereka ini memang koplak luarbiasa.

Sampai di Kadipiro, AR melihat-lihat galeri Mbah Nun bersama Kyai Kanjeng yang konser di beberapa kota besar dunia. Kulihat decak kagum ada di rona mukanya. Kemudian ia kuajak ke atas, mencari tempat Istirahat. Malang, karena belum terbiasa, aku agak malu meminta kamar. Diatas, kami masih ngobrol saja. Ia meminta stop kontak untuk nge-charge HP, kutunjukkan tempatnya. Menjelang subuh, ia ingin beristirahat, dan para crew Letto pun menawari kamar belakang. Kuantar ia beristirahat dikamar. Kupinjamkan sarung agar ia tak kedinginan.

Pukuk 08.30IB, aku terbangun karena suara AR. Ia sudah bangun. Kemudian minta handuk untuk mandi. Usai mandi, kita ngobrol-ngobrol lagi.

Kemudian Anjar dan Rizki bangun. Kuminta ia me-nggenjreng gitar setelah cuci muka. Kami pun larut dalam nyanyian indah lagu-lagu Letto. Lagu Cinta Bersabarlah, Memiliki Kehilangan dan Senyumanmu menghiasi pagi menjelang siang itu. Tak lupa, lagu milik Naif berjudul Karena Kamu Cuma Satu juga mengindahkah kami dipagi itu.

Ditengah bernyanyi, para crew Letto tertawa cekakakan lihat video di youtube. AR pun ikut melihat. Ia tampak bahagia tertawa ikut cekakakan.

Usai dzuhur, kami pulang setelah menyempatkan makan di warung terdekat. Kuminta Rizki mengantar ke Giwangan, namun ia terbentur acara: tidak bisa. Sedang AR akan aku antar sampai Magelang, namun menolak. Alasannya karena ia sudah besar, sudah bukan anak kecil lagi. Disinilah aku merasa sedih. Akhirnya ia cuma kita antar sampai tempat menunggu bus. Ia berpamit, lalu menunggu di seberang jalan. Kami tunggui sampai ia mendapat bus. Namun ia memberi pesan via BBM agar kami segera meninggalkan, karena Rizki ada acara. Aku benar-benar sedih. Ia tak mau diantar, bisa sendiri. Aku sendiri bingung, apakah seperti ini cowok yang bertanggungjawab? Sudahlah, ku turuti saja keinginannya, meski sedih dalam hati. Kami jalan, ia melambaikan tangan, sedang aku tetap menutup jendela mobil.

Sampai di kontrakan, aku masih saja terngiang perjalanan nggelandang itu. Perjalanan yang amat mengesankan bagiku. Aku lebih mengenal sosok AR, seorang perempuan yang dulu menyapaku setiap hari ketika berangkat sekolah. Namun kemudian waktu membuat kami terpisah, dan bertemu lagi via BBM grup alumni sekolah.

Aku seakan menemukan diriku dalam diri AR. Semenjak pertemuan itu, aku dihukum rindu. Semoga ia juga begitu.

Semoga takdir akan membawa kami kembali dalam keluarga yang indah menyatu. Bersama mengarungi kehidupan yang penuh petualangan dan tantangan. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

[Purworejo, 20 Agustus 2015]